Ramadan dan Idulfitri 1447 H
1… 2… 3… 29. Sepanjang ingatan
yang kumiliki, baru kali ini aku menjalani Ramadan 29 hari.
Tahun kedua menjalani bulan puasa di
tanah Meanjin, kegembiraan yang dirasakan masih ada ketika bisa berpuasa
sembari melihat orang-orang di sekitarku membawa minuman di tangannya dan
orang-orang tetap membanjiri kafe-kafe kampus ketika makan siang tiba.
Oke, latar waktunya ditarik ke agak
belakang dulu.
Menjelang tanggal satu Ramadan, aku
sempat bingung mau menjalani Ramadan yang seperti apa? Bagaimana aku akan menjalani
Ramadan kali ini? Udah pasti urusan sahur akan jadi kesulitan tersendiri
berhubung waktu subuh berada di pukul 04.10 dan bangun jam tiga pagi
membutuhkan niat yang kuat. Tetap #shoutOut untuk para Ibus dan orang-orang
yang bangun lebih pagi untuk menyiapkan hidangan sahur di meja keluarga.
Di tanggal 18 Februari, sehari sebelum
puasa, aku menonton video youtube tentang fiqih Ramadan untuk Perempuan dari
ustaz Adi Hidayat. Dalam video tersebut, beliau menyebutkan “sepanjang
memiliki iman, SEMUA orang diberi ‘rasa’ yang sama sebagai pembuka Ramadan.”
Dengan kata lain, kegembiraan dari
buncahan perasaan bertemu dengan bulan suci akan dirasakan oleh semua orang
yang beriman (bukan berislam), aku langsung mengangguk-angguk setuju sembari
mengingat betapa masjid biasanya penuh dengan jamaah taraweh di hari pertama,
munculnya pasar kaget untuk #wartakjil yang meramaikan suasana ngabuburit,
pengeras suara dari masjid yang mulai mengumandangkan bacaan Qur’an
secara live.
Ternyata puasa adalah bentuk ibadah
yang dapat meningkatkan takwa (Hidayat, 2026). Takwa /n/ terpeliharanya diri
dari siksa Allah Swt. dengan tetap taat melaksanakan perintahNya dan menjauhi
laranganNya. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkannya, ketakwaan bisa
meningkat ketika kita berpuasa (shiyaam) dengan benar. Bentuk dari meningkatnya
ketakwaan kita adalah ketika Allah Swt. memberi solusi pada setiap permasalahan
yang dialami, pun ia juga berbanding lurus dengan rezeki dan keilmuan yang
diberikan olehNya.
Aku tetap mengangguk-angguk mendengar
ceramah ustaz Adi yang sesekali diselingin dad jokes, dari sekian contoh amalan
yang bisa dilakukan paralel di momen Ramadan untuk menambah takwa, ada satu
yang “ok, this is it. I will try to maximise this.”
Tidak lain tidak bukan adalah salat
yang hanya muncul ketika Ramadan tiba: tarawih.
Di kampus UQ cabang St Lucia alias
kampus pusat, terdapat multifaith chaplaincy building (MCB) yang umumnya
dipakai untuk kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk ruang salat yang juga
terletak di gedung ini. Pada bulan Ramadan, MFB mengadakan tarawih setiap hari
dengan target satu malam satu juz, sehingga bisa khatam Al-Qur’an di hari
ke-30.
Tahun lalu aku kemana, ya? Tidak ada
ingatan sama sekali ikut tarawih di MCB. Barangkali pada saat itu sebagian
Ramadan diisi oleh berita Alfred si Tropikal Siklon dan hal-hal lainnya yang
membuatku tidak pergi tarawih berjamaah di MCB.
Padahal, jika dipikirkan kembali,
kondisi ini adalah sebuah privilise dari tinggal di negara minoritas. Kurasa
tidak semua kampus memiliki MCB, dan tidak semua kampus memiliki program
tarawih TIAP MALAM ketika Ramadan. Mempertimbangkan jumlah masjid yang
jarang-jarang, fakta bahwa aksesku untuk pergi ke MCB sangatlah mudah terasa
seperti hadiah yang pernah kusia-siakan.
Dalam ceramahnya pula, ustaz Adi
menekankan sebenarnya jumlah tarawih 11 atau 23 rakaat tidaklah masalah, rakaat
yang lebih banyak bukanlah poin utama dalam menjalaninya. Beliau lebih
menekankan pada panjang bacaan surah pada tiap-tiap rakaat. Yang mana, dalam
sependek pengetahuanku untuk memaknainya, 11 rakaat dengan bacaan yang panjang
lebih dianjurkan daripada 23 rakaat tapi bacaan suratnya muter-muter di
three-quls (An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas). Cocoklah kalau gitu, tarawih di MCB
sistemnya satu rakaat satu halaman. 20 rakaat dapat 1 juz, gatau witir baca apa
berhubung aku nggak pernah stay sampai selesai~ pokoknya tidak akan
kusia-siakan kesempatan tarawih di MCB sebagai mahasiswa master semester
terakhir di UQ.
Tahun ini aku masih berkesempatan
megikuti tarawih keliling-nya IISB (Indonesia Islamic Society of Brisbane) ke
Caboolture, Springfield, dan Albany Creek. Berhubung lokasi tarling berada di
daerah suburban, umumnya tidak ada masjid, sehingga tarling dari IISB adalah
kesempatan bagi diaspora Indonesia untuk bisa salat tarawih berjamaah sekaligus
mendengar ceramah singkat menjelang berbuka dari ustaz yang dibawa oleh IISB.
Program tarling menguatkan aku untuk tetap konsisten tarawih di MCB. Hingga
hari terakhir Ramadan, jika dikurangi periode haid, momen pergi ke tarling, dan
agenda buka bersama. Aku hanya absen 3x dari MFB. Alhamdulillah.
Selain tarling, tahun ini terdapat
acara buka bersama yang diselenggarakan oleh IISB yang bekerjasama dengan badan
organisasi lain seperti IMCQ dan PPIA cabang kampus yang berlokasi di area
sekitar Brisbane: the University of Queensland (UQ), Queensland University of
Technology (QUT) dan Griffith University. Tahun lalu acara buka bersama hanya
satu (Grand Ifthar di UQ) karena pada waktu itu kampus-kampus sempat tutup,
imbas dari siklon tropis Alfred. Ketika kampus kembali beraktivitas, waktu
Ramadan yang tersisa cuma bisa mengadakan sekali grand ifthar. Sehingga ku senanggg sekali tahun ini berkesempatan main ke wilayah QUT dan Griffith University. Perdana
berkunjung ke kampus tetangga dengan agenda buka puasa bersama, mashaAllah
tabarakallah.
Sepanjang Ramadan juga ada war takjil
(kerjasama IISB x PPIA-UQ), lagi-lagi bersyukur memilih UQ sebagai kampus
tujuan studi karena, sepertinya, momen #wartakjil tidak terjadi di semua
tempat. Ngomong-ngomong, meski dinamakan #wartakjil, sebenarnya yang dibagi
adalah makanan berat (course meal). Program ini bisa berjalan karena ada
donator yang berlomba-lomba memberikan paket makanan, ada yang bersedia
mengorbankan tenaga dan waktu untuk menyalurkan (IISB x UQISA), dan ada yang
mengincar makanan enak gratis (mostly mahasiswa :D). Semoga program ini tetap
ada dan selalu ada untuk tahun-tahun berikutnya, semoga suatu saat program
#wartakjil bisa menjangkau lebih banyak mahasiswa di kampus-kampus lain.
Ramadan tahun ini memang banyak serunya, diberi kesempatan mencoba hal-hal baru. Contohnya, aku beberapakali numpang di mobil mbak Luluk untuk pergi ke acara buka bersama dan tarling, pas lagi di dalam mobil kami sempat nyeplos aja pengen iktikaf. Nndilalah ujug-ujug malah beneran bisa iktikaf di IMCQ (Indonesian Muslim Centre of Queensland) pada malam ke-28, serombongan 4 orang perempuan semua. Saat iktikaf, ternyata semua pesertanya bapak-bapak wkwkkw. Ndak masalah. Niatnya, kan, iktikaf mengejar Laylatul Qadr.
Jadi ingat obrolan Pandji dan Ustaz Felix Siaw di konten #PutBal, Ustaz Felix ngasih tahu “kata Rasulullah saw. ada satu bulan istimewa, namanya Ramadan. Di dalam bulan tersebut, ada satu malam yang paling istimewa, namanya Laylatul Qadr yang berada di 10 malam terakhir. Di Surat Al-Qadr ayat pertama disebut ‘Al-Qur’an turun di Laylatul Qadr,’ tapi kok ada malam nuzulul Qur’an yang umumnya disebut terjadi pada tanggal 17 Ramadan?”
Lantas beliau menjelaskan perbedaan Nuzulul Qur’an (turunnya
Qur’an) dan Laylatul Qadr (malam kemuliaan). Seperti yang kita ketahui, pada
periode turunnya firman, ayat-ayat Al-Qur’an tidak turun secara berurutan
seperti isi Al-Qur’an yang kita kenal sekarang, pun turunnya
perlahan-lahan. Kalau tidak salah, nuzulul Qur’an adalah malam
ketika malaikat Jibril pertamakali membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. alias malam turunnya firman pertama (QS Al-'Alaq: 1-5). Sedangkan Laylatul Qadr
adalah malam ketika Allah Swt. menurunkan bentuk Al-Qur’an yang sempurna (30
juz) dari langit Allah ke langit dunia.
Tidak ada tanggal pasti kapan Laylatul
Qadr terjadi, yang jelas pada malam 10 hari terakhir, kemungkinan di malam
ganjil. Tapi tapi tapi, gimana kalau kita memulai puasa di tanggal yang
berbeda? Misalnya tahun ini ada golongan yang mulai berpuasa di tanggal 18
Februari, ada juga yang tanggal 19 Februari. Bukankah momen malam ganjilnya
akan berbeda? Trus gimana, dong, kalau pengen ngejer Laylatul Qadr?
Itu pertanyaan yang muncul dari peserta
tarling chapter Albany Creek, jawaban dari bapak ustaz (yang sakjane kupanggil
kak Zaki tapi mari sebut saja ustaz karena lagi mode jadi da’i) adalah, “Allah
itu tidak terikat oleh ruang dan waktu, keberkahan dari Laylatul Qadr bisa
menghampiri setiap individu, meski mereka mengalaminya di malam yang berbeda.”
YAA KEK MANAAA ITU?
Sungguh jika mau coba dibayangkan,
akalku nggak nyampe ketika bayangin Al-Qur’an turun di Laylatul Qadr tapi
keberkahan Laylatul Qadr bisa dirasakan individu pada malam yang berbeda. Cuma
itulah bukti bahwa aku hanyalah hamba dan terikat dengan konsep waktu yang
kutau, karena Allah tidak terikat pada konsep yang seperti itu. Allah Al-‘Alīm,
the All-Knowing.
Udah sepanjang ini tapi masih ngomongin
Ramadan wkwk, long story short ke 1 Syawal 1447H aja, ya.
Tahun ini IISB kembali menyediakan bus
untuk menuju IMCQ, salah satu lokasi pelaksanaan salat Id dengan titik kumpul
di St. Lucia, dekat kampus UQ. Jarak dari St. Lucia ke IMCQ sekitar 30-40 menit
menggunakan kendaraan, tidak semua mahasiswa punya kendaraan, pun jadwal salat
di pagi hari membuat pergi ke IMCQ menggunakan transpoprtasi umum adalah hal
yang mustahil. Makanya bus dari IISB cukup diandalkan oleh orang-orang yang
membutuhkan kendaraan untuk pergi ke IMCQ. Berhubung aku baru saja pindah ke
area St. Lucia, aku memutuskan untuk coba-coba melaksanakan salat Id di IMCQ.
Gimana rasanya salat Id di IMCQ?
Ramai dan kenyang.
Bertemu banyak diaspora yang kumpul di
IMCQ untuk mengadakan hari raya sambil makan bakso dan jajanan pasar.
Ramai sekali.
Cuma yaudah, gitu aja.
Balik dari IMCQ, aku pergi ke perpustakaan
pusat (central library/cenlib) di kampus buat lanjutin ngerjain tugas.
Barangkali aku nggak punya keterikatan dengan konsep idulfitri yang perlu a b c
d e f (baca: menu santan, maaf-maafan, silaturahmi, serahterima THR), aku malah
senang bisa melakukan apa yang kumau paska salat Id.
Incaran tambahanku kali ini cuma satu:
bisa datang ke open house!
Alhamdulillah, incaranku langsung
terkabul ketika diundang Mbak Luluk ke rumahnya buat makan siang. Bertemu
ketupat, kentang ati, opor, dan rendang. Tidak lupa tiga jenis nastar dan
kastengel keju yang enak banget mamamia endulita, serta iced milktea yang aroma
teh dan creamy susu-nya berpadu sempurna. Selepas makan siang, kami sempat
foto-foto berlatar rimbunan pohon kemuning yang sedang berbunga, ramai-ramai
menunjukkan pose tertawa akrab ala keluarga cemara cendana.
Sepertinya bisa jeda sejenak dari
budaya Idulfitri di Indonesia adalah hal yang aku syukuri. Aku bisa merasakan
cara merayakan Idulfitri dengan gaya yang lain, tidak perlu mengurusi perdebatan
mengapa satu Syawal bisa termanifestasi ke beberapa tanggal Masehi berbeda,
tidak perlu terlibat obrolan politik tiap berkunjung ke rumah orang (idk why
ini adalah hal yang gak terhindarkan(?)), nggak perlu seharian menggunakan
persona sosialisasi yang ngabisin banyak energi.
Di Indonesia, momen Idulfitri erat kaitannya dengan aktivitas mudik ke kampung halaman. Idulfitri adalah momen libur sekolah untuk pelajar dan cuti bagi para pekerja. Idulfitri menjadi ajang kumpul-kumpul untuk bertemu saudara jauh yang tidak pernah berkomunikasi, untuk #UpdateLyfe berjamaah karena semuanya tumpah ruah di satu lokasi, untuk mencicip makanan-makanan khas Lebaran sembari mindful akan intake kalori. Bertahun-tahun merasakan Idulfitri dengan default seperti itu, sehingga ketika bisa menjalani lebaran di Brisbane sebagai mahasiswa yang tidak merasakan kehebohan dan malah menghabiskan hari raya di kampus malah rasanya kayak… alhamdulillah~
Eid Mubarak 1447 H kurayakan di hari
Jumat yang mana beneran pas banget kalau dipikir-pikir. Aku nggak ada jadwal
kuliah di hari Jumat, lantas langsung bertemu akhir pekan yang bisa dipakai
untuk istirahat. Bagi sebagian orang yang merindukan keriuhan suasana
Idulfitri, mereka bisa menggunakan hari sabtu atau minggu untuk berkumpul
sesama diaspora, makan bersama sembari mencoba membawa sedikit keakraban budaya
Indonesia di tanah Meanjin.
Ngomong-ngomong perihal kata Mubarak,
aku menemukan satu konten di Instagram yang membahas makna ucapan "Eid
Mubarak.” Tautan kontennya aku lampirin di akhir tulisan, namun ku
akan coba jelasin dengan singkat berhubung konten aslinya menggunakan Bahasa
Inggris.
Asal kata mubarak dari ba-ra-ka (ب - ر - ك). Dalam Bahasa arab, setau aku, satu akar huruf yang sama bisa berubah
menjadi kata lain dengan makna berbeda. Kadang bisa jadi noun, kadang bisa jadi
verb, kadang bisa jadi kata perintah (fi’il amri??). Meski bentuk turunannya
beragam, terkadang maknanya tetap bisa saling dihubungkan.
Kata dasar tersebut memiliki bentuk fisik berupa birkah (بِرْكَة), artinya kolam air. Kolam yang airnya tidak mengalir, airnya tidak turun seperti hujan, pun tidak menguap oleh matahari. Kolam yang airnya tetap tinggal dan selalu ada setiap kita menengok ke kolam tersebut.
Selain kolam air, ba + ra + ka juga bisa menjadi kata baraka (بَرَكَ) yang berarti berlutut, kata ini digunakan ketika hendak menunjukkan unta yang menurunkan tubuhnya ke tanah untuk diam di satu tempat.
Dan ba + ra + ka juga bisa menjelma jadi kata barakah (بَرَكَة). Terdengar familiar? Dalam indonesia terkenal dengan berkat, berkah, barokah.
Kata KBBI, berkah /n/ karunia Tuhan
yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.
Sehingga Mubarak dapat dimaknai sebagai
keberkahan dengan bentuk kebaikan yang menggenang, tidak luntur atau menguap,
tidak tiba-tiba pergi karena ia menetap.
Goodness that stays. That is barakah.
That is Mubarak.
Kebaikan yang selalu tinggal. Itulah
keberkahan.
Lantas kenapa jadi Eid Mubarak? Kenapa
ada tambahan unsur mu-? Kenapa bukan Eid Barak? Atau Eid Barakah?
Nah, kalian cari tau sendiri, lah,
wkwkw. Aku nggak tau. Sempat nanya ke LLM (large language model, alias lebih
dikenal sebagai AI), tapi bukan kapasitasku untuk menjelaskannya. Kagak punya
ilmunya.
Namun, menurut konten yang kubaca,
ketika kita mengucapkan “Eid Mubarak.” Ucapan yang terlihat sederhana itu
ternyata menyembunyikan makna yang berisi doa. Ketika sebagian orang mengejar
kebahagiaan yang selalu bergerak. Barakah adalah sukacita yang selalu menetap.
Semoga kebahagiaan Idulfitri tak pernah
surut, dan semoga keberkahan yang kita kumpulkan sepanjang Ramadan tetap
tinggal dan menetap, hingga kita dipertemukan lagi di Ramadan selanjutnya.
Eid Mubarak!
Semoga sukacita hari raya tidak
berlalu.
Semoga keberkahan hari raya menetap
dalam dirimu dan tidak pernah hilang.
Aamiin.
Tabik,
shofwamn.
----------------------------
p.s:
berikut tautan dari video dan konten yang kusebut di tulisan.






0 komentar