Baca
part 1: Dua cangkir Merlo-
Ketika masih gamang antara mengajak bapak
dosen ketemuan atau menghilang aja nggak perlu merespon apapun email talk soon
talk soon yang beliau kirimkan, aku merasa jetlag dengan situasi yang kupunya.
Diriku di masa lalu yang selalu keringat dingin kalau harus masuk ke ruang guru dan selalu ragu-ragu ketika hendak masuk ke ruang dosen saking takutnya punya interaksi intim bersama pengajar kok sekarang berani
memiliki niat untuk bertemu berduaan dengan seorang dosen senior tanpa alasan
yang jelas? Walaupun degupan jantung dagdigdugser “gapantas gapantas gak layakkk kau shofwaaa,” sangat kencang terdengar, ku masih memutuskan untuk maju terus realisasikan pertemuan tanpa topik itu.
Inikah yang dinamakan character development wkwkwk omg so proud of myself.
Bayangin jadi dosen yang sudah belasan tahun
mengajar di kampus dan telah berpengalaman puluhan tahun menjadi guru, punya relasi dengan orang-orang penting akademia di berbagai negara (including my personal
favorite journal author at this moment: Gert Biesta). Trus ini ada satu umbi umbian (alias aku) ngirim
email di suatu pagi yang random, salah satu mahasiswa yang nggak sebegitunya
aktif di dalam kelas dan berbulan-bulan gapunya komunikasi apapun mendadak
muncul lewat email yang berisi kebingungan, tanpa babibu ngajak
ketemuan padahal nggak bisa kasih offer apa-apa.
Hey, kalau aku jadi bapak dosen, belum tentu aku akan langsung menyetujui ajakan seperti itu sampai mengirimkan undangan zoom meeting berjudul further study. Tapi aku bukan bapak dosen, dan beliau menunjukkan sikap seorang pendidik yang memberi dukungan pada seorang mahasiswa buta arah. Nggak sok sibuk, nggak bersikap sok penting, nggak mematahkan semangatm nggak merendahkan.
Very lovely side of him, it is so great to know someone i can look up to.
“Oh, you have hair? you do not have it last
year,” tatapanku tertuju pada helaian rambut putih yang terlihat dari balik
topi begitu bapak dosen duduk di hadapanku, sedikit heran karena kukira memiliki kepala botak adalah pilihan hidup yang
beliau ambil, kayak deddy corbuzier.
“I know right, I have hair now,” ujarnya
sembari membelalakkan mata tanda excited dan melepaskan topi koboi yang ia
kenakan.
IYA NGERTI. AMONG ALL OF THE FIRST GREETING
OPTIONS I COULD GIVE. I SLIPPED MY MOUTH BY GIVING HIM A COMMENT ABOUT PHYSICAL
APPEARANCE. TIDAK SOPAN. PARDON. I AM THAT NERVOUS.
Tapi itu memang kesulitan yang kusadari saat
menghadapi budaya egaliter yang membuatku bisa memanggil dosen dengan
nama. Wagilasih, bisa menyapa dosen seakan teman sebaya adalah hal yang menyenangkan, mengurangi satu kebingungan "harus manggil ibu? mbak? bu? bapak? pak? mas? prof? bapak doktor? ibu prof?" bahkan seorang profesor di kelasku terang-terangan ngomong kalau beliau lebih senang dipanggil pake nama aja. Apalagi ditambah bertemu seseorang yang ramah tiada kira seperti bapak dosen. BOUNDARIES WHAT. Asbun asbun
sentences would come from my mouth. Rasa rispek berbalut dorongan bercanda
untuk mencairkan suasana melebur jadi satu, nyeplos aja dulu, abistu overthinking perihal “tadi gue sopan ga ya?” wkwkwkwk.
"So, how are you?"
“I
am good but I’ve been overthinking whether I did something rude because I do
not have anything to discuss with you.”
“What? Nooo, that is okay. You know, aku
cuma mengajar kelas master dan membimbing mahasiswa PhD, aku sama sekali nggak
mengajar kelas bachelor. Sesungguhnya aku tidak sembarangan mengiyakan ajakan
meeting. Kalau pun kamu mahasiswa master di UQ dan pernah enroll di kelasku
tapi aku nggak ingat kamu, aku nggak akan langsung menyetujui permintaan buat
ketemuan. Santai aja.”
OMG GUYSSS OMGGG. LANGSUNG KENA TELAK DI 10
MENIT PERTAMA. MY BRAIN IS FREEZING. MY HEART IS POUNDING. WHO AM I TO BE
REMEMBERED BY YOU. BEGINIKAH RASANYA MELAKUKAN PRIVATE FANMEETING.
#lebay
“So, how many semesters left do you have?”
“None, this is my last semester. I’ll be
graduating soon.”
“No waaaay, really?”
“Yes, will the lecturers attend graduation
ceremony for School of Education?”
“No, but if I know you’ll graduate, I’ll come
to your graduation ceremony.”
Aku menggelengkan kepala cepat-cepat “no need
no need.” Terlalu kaget dengan ucapannya sampai tidak
menerangkan kalau aku nggak ikut seremonial wisuda makanya beliau nggak perlu
datang, namun gelenganku malah berasa aku menolak kebaikan beliau #sad. Bapak
dosen menanyakan beberapa hal untukku yang kujawab dengan patah-patah, salah
satunya adalah “what do you like the most by studying at UQ?”
“Hmm... aku suka sekali UQ yang rasanya memenuhi
ekspektasiku tentang bagaimana seharusnya kampus ngasih support ke mahasiswa.
Aku bisa belajar banyak, bisa masuk kelas science of learning, bisa masuk kelas
counselling, leadership, bahkan curriculum.”
Ah sial.
Bukan itu yang seharusnya kukatakan sebagai
jawaban.

Tentu saja aku perlu memiliki sebuah
permasalahan yang harus kujelaskan di dalam essai ketika mendaftar LPDP untuk
menyakinkan para pewawancara bahwa aku perlu melanjutkan studi S2 di bidang
pendidikan. Pemantik utamanya adalah pengalaman menjadi relawan di Bacan
mengunjungi sebuah sekolah di suatu pulau ketika pandemi masih berlangsung dan
percakapan bersama seorang pengajar yang sudah satu dekade memperhatikan iklim
pendidikan di Bacan. Situasi semacam kekurangan guru, penggelapan dana BOS,
kurikulum baru yang tidak serta merta mengubah gaya ajar guru, mental kompetisi
olimpiade siswa yang tidak terasah, hingga ketidakmampuan sekolah membimbing
siswa untuk meraih kemampuan dasar seperti membaca. Saat aku kecil, aku pernah
bertemu anak kelas lima SD yang masih terbata-bata membaca tulisan dari sebuah
buku. Saat aku sudah memegang ijazah S1, aku masih mendengar kasus nyata anak
SMP yang belum bisa membaca dengan lancar. Bahkan momen ter-mindblowing yang
pernah kualami adalah bertemu dengan dua
siswa SMA yang hanya bisa meringis kecil saling bertatapan ketika mendapat pertanyaan, “berapa hasil
dari 7:2?”.
Speechless seubun ubun.
Lantas aku menemukan istilah learning poverty,
sebuah frasa dari World Bank untuk mendefinisikan anak-anak yang masih belum
bisa membaca dan memahami teks sederhana hingga usia 10 tahun. Sebuah istilah
yang, pada saat itu, terasa amat mewakilkan kondisi di daerahku. Maka itu
adalah modal awal dalam menulis essai kontribusi ketika mendaftar beasiswa negara, kutambahkan bumbu kekhawatiran
akan masa depan begitu tau ada sebuah sekolah dasar yang tutup selama setahun
penuh tanpa melakukan pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi.
Mengombinasikan learning poverty, learning loss, dan realita daerah terpencil... voila! Aku butuh melanjutkan studi master untuk mengetahui tentang
sebenarnya apa, sih, pendidikan itu? Mengapa setelah belasan bahkan puluhan
tahun berlalu, masalah yang mendasar masih ditemukan di sekolah-sekolah? Secara
logika, jika ada seorang anak yang menjalani enam tahun sekolah dasar dan selalu masuk dari pagi hingga siang, bahkan kalau kita
mengurangi periode libur sekolah, libur tanggal merah, dan izin absen lainnya
yang mungkin muncul. Kok bisa anak itu lulus SD dengan kondisi nggak bisa
membaca? Setelah melakukan ratusan atau bahkan ribuan jam pembelajaran selama
enam tahun? Why? How could?
Di tahun pertama menjalani perkuliahan di UQ, aku
terpapar materi teori psikologi, neurosains, metakognisi dan konten-konten
substansial seperti metopen, kebijakan bahasa di pendidikan, serta menilik
sejarah Australia melalui indigenous knowledge. Pada awalnya aku memilih bidang
spesialisasi Science of Learning yang fokus mempelajari bagaimana orang belajar
dan bagaimana mengimprovisasi cara belajar siswa di kelas, termasuk mengetahui
mitos mitos neurosains. Salah satu mitos neurosains yang membuatku kaget adalah tentang learning styles. Kalian pernah mendengar gaya belajar siswa?
Gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik? Itu adalah mitos. One of the
neuromyths. Riset-riset pendidikan yang terbaru tidak lagi menganggap seorang siswa memiliki gaya belajar tertentu yang bisa jadi booster supaya siswa tersebut bisa lebih mudah memahami pelajaran.
Secara garis besar, dari sisi keilmuan, setahun pertama terasa menyenangkan karena aku
merasa mendapatkan ilmu dari dosen-dosen yang melakukan riset mumpuni, yang
turut merancang kebijakan penggunaan AI buat siswa di Australia, yang
memberikan pengetahuan paling terkini di bidang pendidikan. Fakta bahwa
Australia adalah negara maju dengan ‘kualitas’ pendidikan yang bagus membuatku
senang karena bisa membawa ilmu ter up-to-date ke Bacan. Memang pasti ada
kebingungan di sana sini mengenai apa yang bisa aku implementasikan di Bacan? mengingat realita Brisbane dan Bacan bagai langit dan kerak bumi. Aku mengira pendidikan adalah sesuatu yang dinamis dan
selalu berimprovisasi, sehingga terasa seru berkuliah di UQ karena aku mendapatkan informasi tentang tren yang sedang terjadi di pendidikan: professional development, self regulated learning, cognition, inclusive education. Lantas di semester ketiga, di kelas bapak dosen yang
kumasuki secara sukarela karena mata kuliah beliau bukanlah matkul wajib,
muncul satu pertanyaan yang sempat terlupakan olehku.
“What is the purpose of education?”
Wow.
One question. And a shifted mindset happens.
So, if he asks me what I like the most about
studying at UQ. I am beyond grateful to have crossed paths with him in his
class. Tapi sepertinya beliau alergi pujian. Beberapa kali aku melontarkan
kalimat kagum yang hanya berbalas senyum ramah membuatku jadi sungkan untuk
melontarkan pujian secara frontal. Duh, apakah kekagumanku ini terlalu
berlebihan?
Kesulitan menghadapi awal perkuliahan dengan
beban bacaan NONFIKSI beneran bikin tergopoh-gopoh, beberapakali aku ngomong
jujur ke dosen tentang ketidaksanggupan membaca banyak jurnal, kebingungan
melakukan parapfrase, hingga kesulitan memahami tulisan-tulisan dalam academic
English itu yang berbalas kalimat penghibur "it is okay, English is not your first
language, you do not have to read all of those journals, you can do this, can
do that, can do blablabla.”
Salah satu strategi yang kugunakan ketika
menulis tugas adalah menentukan satu jurnal yang akan menjadi acuan utamaku
karena sangat beresonansi dengan topik yang aku mau, lantas aku akan mencari
jurnal-jurnal lain buat mendukung statemen atau paragraf yang kuciptakan
sehingga aku hanya perlu membaca dengan detail satu atau dua jurnal acuan
utama, sedangkan artikel-artikel lainnya cukup ngebaca abstrak, konklusi, atau
skim reading. Strategi ini cukup ampuh meredakan overthinking yang selalu
muncul setiap deadline tugas mendekat. Nggak bisa nggak overthinking “apa yang
mau kutulis, masih banyak jurnal yang belum kubaca T.T” karena merasa setiap
ide yang keluar dari otakku pasti udah pernah ditulis oleh orang lain (halo Zhang et
al) (Li et al) (Nguyen et al). Namun di kelas bapak dosen, selain beliau
memahami kesulitan mahasiswanya, mbak dosen juga ngomong “aku nggak
menyarankan kalian minta bantuan AI untuk merangkum atau ngetranslate
jurnal-jurnal karena LLM (language large model) cuma tools yang ngasih respon
sesuai dengan database yang dimiliki. Kalian nggak perlu kok membaca semua
rekomendasi reading yang kita kasih, pilih aja jurnal yang cocok buat kalian,
yang penting kalian paham isi jurnalnya.”
Gimana caranya kita bisa dengan pede bilang bahwa kita udah paham isi jurnal A kalau cuma baca beberapa paragraf doang? Setidaknya harus dibaca keseluruhan, kalau perlu dua sampai tiga kali.
Masalahnya, mbak dosen pernah bilang kalau
bapak dosen punya kemampuan mengingat luar biasa, beliau nggak lupa
konten-konten jurnal dan buku yang sudah dibaca. Pada suatu pekan di
kelas, mereka berdua ngajarin cara mencari jurnal yang bagus di website,
Komentar yang keluar dari mulut bapak dosen begitu terpampang beberapa daftar
jurnal adalah “wah aku belum baca ini,” “oh ini penulisnya terkenal, dia fokus
di bidang xxx,” “jurnal ini bagus, kalau kalian pengen tahu soal xyz, jurnal
ini rekomen buat dibaca”, “yuk kita lihat referensinya, oh ada A, hmmm artikel
ini juga ngesitasi B dan C, nice.” Salah satu hobi bapak dosen adalah ngerefresh sebuah
website jurnal pendidikan untuk mengecek apakah ada artikel yang baru
dipublikasikan. Baca apdetan jurnal berasa cuma lagi baca wattpad.
Sehingga overthinkingku ketika mengerjakan
tugas dari kelas bapak dosen bukan pada berapa jumlah sitasi yang aku pakai
(beberapa courses mewajibkan satu essai punya 10 referensi, atau 20 referensi),
tapi aku HARUS BACA JURNAL YANG INGIN KUSITASI DAN PAHAM ISI KONTENNYA. Aku
takut sama skenario ngesitasi jurnal dari penulis yang beliau kenal hanya dengan
bermodal baca abstrak dan konklusi, terus ternyata aku bikin pernyataan yang
menunjukkan kekeliruan pemahaman tentang isi jurnalnya. Walau satu jurnal cuma
mendukung satu statemenku doang, sungguh nggak berani asal nyomot, “oh konklusi
jurnal ini bilang X, berarti bisa mendukung statemenku.”
Bayangin Luffy jadi seorang akademisi yang
nulis banyak jurnal, kamu sebagai dosen selalu membaca tulisan Luffy, tau apa
spesialisasi dan mindset yang dimiliki Luffy. Trus suatu hari ada satu
mahasiswa yang ngesitasi jurnalnya Luffy dengan ngomong “menurut Luffy, jadi Raja
Bajak Laut nggak penting, yang utama adalah bisa menguasai tiga senjata kuno,”
atau “memukul wanita merupakan tindakan keji yang sepatutnya tidak dilakukan
oleh seorang laki-laki gentleman (Luffy,2026).” Padahal Luffy pengen jadi Raja
Bajak Laut dan nggak peduli perihal senjata kuno, padahal urusan laki-laki
gentleman yang tidak memukul wanita adalah prinsip Sanji.

Selain nggak menyangka akan menemukan orang
yang berhasil memantikku untuk berpikir secara serius dalam melanjutkan
pendidikan tinggi, sampai muncul pikiran “sakjane S2 yang sekarang udah cukup
banget, gaada ambisi yang gimana gimana, tapi kayaknya seru kalau punya bapak
dosen sebagai supervisor? apa gue beneran ngambil S3 kali ya?”. Dari yang sama
sekali nggak memasukkan S3 dalam #wishlist hal-hal yang ingin dicapai dalam
hidup, ke suatu tujuan yang sepertinya akan kugapai di masa depan. Aku juga nggak
nyangka bakalan menemukan satu penulis jurnal yang membuatku jadi penggemar.
I need to state this: I used to dislike academic
journals.
Academic journals are not fun to read because I am a fiction reader. I only read journals for the sake of writing assignments. There are SO MANY JOURNALS out there, and I have a limited amount of time. Indeed, it is impossible for me to read all of them. As I stated before, usually I only skim the content, read the abstract, read the conclusion, then cite the journal.
Until I found Gert Biesta in the reading list of bapak dosen's class. Having one specific author who caught my interest and excitement was something really unexpected. I read Biesta's articles carefully because of the concerns that I explained before, but it turned out that I became a fan of his work.
Di satu artikel, Biesta mengakui bahwa akses
pendidikan yang dimiliki oleh tiap orang berbeda (yes, sir, please say it out
loud) soalnya aku capek mendengar argumen teman kelas tentang mengedepankan
penggunaan AI untuk membantu siswa di kelas, katanya akses internet sekarang
udah mudah (hello? apa kabar pulau-pulau di Halmahera Selatan?), walaupun aku
bisa memahami komentar teman aku yang memiliki background sebagai pengajar sekolah
internasional di Manila, pun juga masalah mengenai guru yang nggak punya kebebasan serta
beban kerja tinggi (which Bacan also has it, tapi gimana soal sekolah yang
kekurangan guru?).
Dalam artikel yang lain, Biesta mengatakan…
kesetaraan pendidikan adalah ambisi yang sepertinya belum siap diterima oleh
lingkungan sosial jika berhasil terjadi. Mengutip langsung dari tulisan beliau, “everyone seems to agree about the
importance of equal educational opportunities and the need for an education
system that can ‘deliver’ on this ambition, but that in practice society is at
least not ‘ready’ for the success of such an ambition. One could even say that
society, at least in its contemporary ‘form’, actually needs inequality and
would break down when equal opportunities would be taken up ‘perfectly’, so to
speak, that is, when they would result in equal educational outcomes. At the
very least one may wonder who will keep the streets clean if everyone in the
country has a first class degree from Oxford or Cambridge." Masyarakat saat ini bukan cuma menghargai
pendidikan dengan harapan bahwa akan ada sistem pendidikan yang bagus dan
setara buat semua siswa, tapi masyarakat juga menghargai perbedaan status yang
dihasilkan pendidikan. Intinya mah, kalau ternyata kesetaraan dalam pendidikan (equality education) berhasil dicapai oleh dunia saat ini, justru
masyarakat nggak siap dengan dampak yang dihasilkan. Misalnya, apa yang akan terjadi kalau
semua orang di Indonesia punya gelar dari UI atau ITB?
Lantas di artikel yang berbeda, Biesta
ngebahas soal learning delay (atau lebih familiar dengan learning loss) (tapi
istilah learning loss bisa diperdebatkan) akibat pandemi COVID-19.
Biesta ngejelasin kondisi learning delay lebih mudah ditanggulangi
oleh orang-orang yang punya modal capital, modal budaya, dan modal sosial yang
memadai (omg sir, it is very true). Argumen yang relevan untuk mewakili
kesenjangan antara sekolah di kota besar dan sekolah di Bacan (+ daerah 3T
lainnya). Contohnya pas PJJ (pembelajaran jarak jauh) diterapkan secara
nasional ketika sedang lockdown, kebijakan yang berlaku untuk semua sekolah itu
memberikan hasil yang tidak sama karena kemampuan setiap sekolah dan setiap
keluarga untuk menghadapi situasi tersebut berbeda.
READ SEVERAL JOURNALS FROM ONE AUTHOR THAT (although
implicitly) ACKNOWLEDGE YOUR HOMETOWN'S CONDITION? Respect is an
understatement. I found my bias.
Karena satu hal yang spesial dari Biesta adalah saat
ini ia bekerja di Irlandia, salah satu negara yang sistem pendidikannya nggak
terlalu acak kadut, aku yakin lingkungan pekerjaan Biesta sangat suportif
(suportif = bisa melakukan riset tanpa kepayahan, gak ada beban administrasi
berlebihan, gak kena gaslight rektor sendiri terkait take-home-pay gaji
bulanan #ekhem). Barangkali Biesta berada di menara gading bila mau dibandingkan sama
situasi dunia pendidikan Indonesia, beliau nggak harus menulis artikel yang ngomongi hal-hal di atas, tapi beliau punya concern mengenai
ketimpangan akses dan hasil (inequality of access and inequality of outcome), mempertanyakan arah pendidikan, dan ngasih
peringatan tentang learnification. His publications are cited by thousands of
articles, making him an influential scholar in education research worldwide. He is indeed a prominent educator in nowadays contemporary education.

Alih-alih membahas tentang tulisan-tulisan
Biesta, aku mencari informasi tentang perjalanan bapak dosen menempuh PhD dan
bagaimana bapak dosen membimbing mahasiswa PhD. Sungguh percakapan yang lompat
sana lompat sini tanpa arah topik yang jelas, mendengar cerita bapak dosen pernah memulai PhD di
tahun 90-an tapi harus berhenti karena tidak ada biaya, lantas memulai PhD lagi
belasan tahun kemudian dengan beasiswa, perjalanan bapak dosen yang sudah
bekerja sejak usia 16 tahun hingga sepuh seperti sekarang, hingga percakapan
cara beliau berinteraksi dengan PhD student-nya yang saat ini jumlahnya hanya
bersisa empat orang.
“When you choose a supervisor, look for someone who allows you to think independently. You should develop and defend your own ideas. You asked me about mbak dosen's dissertation content, but that was her idea, not mine.”
“Really? But how? How can you let her write
the dissertation in a such way?”
“She proposed it. I agreed.”
Pernahkah kalian membaca disertasi seseorang?
Tahun lalu mbak dosen baru saja menyelesaikan
studi PhD dari School of Education UQ dan mendapat penghargaan level fakultas
untuk hasil disertasi yang outstanding. Aku, dengan kekagumanku ini, mencari
tahu disertasi mbak dosen yang ternyata bisa diakses melalui database UQ.
Wow.
Tiga gelar sarjana dan tiga gelar magister.
Namun yang membuatku lebih terkejut adalah
ketika mulai menggulir dokumen sepanjang 229 halaman itu, kali pertama aku
membaca sebuah disertasi yang diawali dengan perjalanan hidup. Mbak dosen
bercerita tentang momen ia menginjakkan kaki di tanah Australia, tentang KDrama
yang menemani momen pandemi COVID-19, tentang merantau ke Korea Selatan,
tentang romansa, tentang depresi, tentang frustasi, semuanya tertuang di dalam
dokumen yang merupakan disertasi.
A dissertation starting with personal journey?
I do not know that is possible. Really interesting.
Tentu saja selain mengikuti alur percakapan
yang terjadi di antara kami berdua, aku perlu melontarkan pertanyaan utama yang
membuatku memulai segala korespondensi-berujung-pertemuan ini, tentang berapa
lama lagi bapak dosen akan berada di UQ? Saat ini, hanya dia yang ingin aku
targetkan sebagai supervisorku. Proyeksi paling cepat aku melakukan S3 (jika
berhasil menemukan #why yang sangat kuat) (dan juga menemukan jodoh) (biar punya personal support system) adalah sepuluh tahun dari sekarang. Aku perlu tau
apakah bapak dosen masih bekerja dan punya kemungkinan untuk didekati ketika
masa itu tiba.
Beliau terdiam.
Aku berdebar.
Beliau menjawab pertanyaanku dengan lugas.
Aku terkesiap.
“Ok, I am experiencing demotivation right
now.” responku sembari sedikit membuang muka.
“Why? Do not be like that.”
“But you will be staying in Queensland,
right?”
“Yeah, of course. Please contact me if you
need help, I would be happy to help you. Do keep in touch.”

Keyakinanku bahwa gelar akademik tidak serta merta mencerminkan adab seseorang tetap tidak berubah, dua hal itu bukan kombinasi yang saling berbanding lurus. Suatu hari aku pernah menemukan sebuah akun Instagram milik seorang PhD student di Indonesia yang usianya bahkan belum mencapai 25 tahun. Wow. Why? Apakah memiliki titel doktor sebelum berusia 30 tahun adalah pilihan yang bermakna? Barangkali iya jika sudah memiliki rencana karier sebagai dosen. Namun, menurutku, setidaknya untuk studi doktoral bidang humaniora, akan jauh lebih baik jika memulai studi pendidikan tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang manusia setelah memiliki persiapan matang berupa adab baik (checklisted), bisa mikir (checklisted), pengalaman nyata (checklisted), udah banyak baca baca baca (checklisted), punya kegelisahan yang bisa menjadi pegangan untuk melalui empat tahun gonjang ganjing PhD journey (checklisted). Sesungguhnya aku nggak ngerti maksud dari paragraf ini wkwkwkwk tapi sepertinya aku belum bisa (checklisted done) semua syarat di atas, beban menjadi PhD masih terlalu besar buatku, sekarang aja udah senyum meringis dengan posisi jadi top 0.5% WNI yang punya gelar magister. Apalagi kayaknya adab gue masih nggak layaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak memiliki status PhD student. Kek apa ya, macam ada yang kurang gitu, ntah apa yang terasa kurang karena aku adalah orang baik (lho? #tydaknyambung). Memang aku memandang PhD adalah perjalanan penuh kebajikan yang belum cocok untuk kulakukan. Nama programnya aja Doctor of Philosophy, philosophy berasal dari kata Yunani philosophia yang bermakna cinta (philo) terhadap kebijaksanaan (sophia), seseorang yang bisa memberikan kontribusi berupa temuan baru dari bidang keilmuan yang digeluti. Gimana caranya mempertahankan argumen pribadi dan mengembangkannya sebagai temuan baru dalam riset ketika nulis essai argumentatif aja selalu punya banyak kegalauan sulit memilih sisi? YaAllah manusia hobi hah heh hoh aku-kudu-ngopo-iki gaakan sanggup memaksimalkan empat tahun studi di jenjang PhD dengan kemampuanku saat ini. Ibarat kata ku belum bisa berenang trus nekat nyebur ke laut lepas, auto kelelep.
Di Australia, jenjang pendidikan seseorang
ditandai melalui AQF (Australian Qualification Framework) yang memiliki 10
level. AQF Level 1 – Certificate 1 berupa sertifikasi yang bisa didapat melalui
pendidikan vokasi hingga AQF Level 10 – Doctoral Degree, sehingga pendidikan S3
bukan sebuah perjalanan yang dimulai hanya dengan niat untuk mendapatkan ilmu
semata. It must go beyond that. A journey that gives you the highest AQF level must be beyond the sole intention of acquiring knowledge. Gelar PhD hanya akan menjadi sebuah title akademik yang terasa
kurang matang buatku jika kumulai dengan terburu-buru. Makanya aku sampaikan ke
bapak dosen tentang rencanaku untuk mencari pengalaman dulu, melihat berbagai
macam realita di lapangan, mengumpulkan informasi yang kira-kira baru bisa
kupunya sepuluh tahun lagi, termasuk memikirkan cara bagaimana memiliki
publikasi yang belum kumiliki. Beliau mengafirmasi pilihanku.
Tapi tidak mengafirmasi keinginanku buat dibimbing
beliau huhu.
Bila setelah S2 masih ada S3.
Apa yang ada setelah S3 untuk individu yang
tidak mengejar jabatan akademia?
“Do you know Rina?” bapak dosen tiba-tiba menyebutkan salah satu mahasiswa bimbingannya.
“Of course, last year she attended your
class.”
“You must meet her. Her research is really
good, she is trying against the neoliberal practice in her campus.”
“Uhmm. Ok.”
“You MUST meet her before you go back to your
country.”
Wadidaw. Semacam sudah mendapatkan ultimatum untuk wajib bertemu dengan anak bimbingannya.
Neoliberalisme memang konsep yang baru
kuketahui keberadaannya ketika mengikuti kelas bapak dosen. Sebenarnya
neoliberalisme adalah paham yang lahir dari bidang ekonomi kemudian diamplifikasi
melalui kebijakan politik, namun saat ini terdapat praktik-praktik dalam dunia
pendidikan yang berlandaskan pada logika neoliberal. Pemahaman yang memandang
pendidikan adalah investasi untuk human capital, sarana dalam ‘meciptakan’
lulusan yang siap kerja, punya kompetisi pasar, gelar akademik menjadi sebuah komoditas
yang diperjual-belikan, gelar akademik perlu memiliki nilai industri dan nilai jual, aktivitas di dalam pendidikan bisa dinilai berdasarkan akuntabilitas,
ranking, serta indikator kinerja. Tbh, aku nggak terlalu paham konsep ini
ketika pertama kali terpapar, ketika sudah mencari tahu pun tetap tidak terlalu paham,
bukannya emang keberadaan sekolah dan universitas adalah untuk itu? Ngapain
menempuh bertahun-tahun sekolah hingga kuliah kalau nggak bisa mendapat
pekerjaan?
Namun mengenal neoliberalisme membuatku bisa
memahami resistensi yang pernah kupunya ketika tidak menargetkan masuk ke
kampus-kampus unggulan begitu lulus SMA, memahami kenapa dengan sengaja pernah
meninggalkan catatan “pak guru, tolong kasih aku nilai 0, bukan berarti aku
gabisa ngerjain soalnya tapi karena aku pengen tau rasanya dapat nilai 0,” di
lembar ujian Matematika. Tumbuh besar membaca cerita Totto-Chan Gadis Cilik di
Jendela, Laskar Pelangi, dan Serial Anak-Anak Mamak, sepertinya aku sudah
memiliki insting tentang bentuk pendidikan yang berbasis pada melihat siswa sebagai individu yang bisa berkembang dan memiliki pemikirannya sendiri. Bentuk pendidikan yang rasanya semakin
kabur jika melihat kondisi saat ini. Well, pernyataan sotoy namun istilah neoliberalisme membuatku bisa melihat lebih jelas hal-hal yang pernah
kualami dan hal-hal yang sedang terjadi.
Sebagai sebuah kepercayaan yang sudah
menggurita di berbagai belahan dunia, tentu saja aku nggak punya target untuk
menantang neoliberalisme wkwkwk siapa gue. Merombak sistem? Memperbaiki dari
dalam? Melakukan reformasi? Tentu saja nggak ada pikiran yang kayak gitu. Untuk saat ini aku memandang neoliberalisme sebagai sesuatu yang "jangan sampai gue hanyut ke dalam pola pikir itu." Sekalinya aku percaya pada neoliberalisme, aku akan mudah nge-judge orang 'gagal' sebagai orang yang kurang berusaha dan kurang terampil dalam beradaptasi dengan dunia sekarang karena logika neoliberal menggeser persoalan makro menjadi persoalan personal, memandang kesuksesan individu adalah hasil dari kerja keras yang dia lakukan (dengan mengesampingkan variabel lain seperti privilise, kelas sosial, modal ekonomi dan relasi yang dimiliki, akses terhadap pendidikan, kondisi pasar kerja, kebijakan negara). Di dalam dunia pendidikan, implementasi neoliberalisme bisa berbentuk persaingan nilai dan rangking, kompetisi antaruniversitas (ekhem QS Rank ekhem), dan jumlah publikasi untuk penilaian performa kerja (huhu dosen huhu peneliti BRIN). Memang lingkaran setan.
“Mister, institusi pendidikan
saat ini emang punya tendensi melihat pendidikan sebagai sebuah komoditi. Program studi dipromosiin supaya menarik mahasiswa sebagai 'konsumen' yang ingin mendapatkan gelar. Walaupun aku nggak setuju sama hal itu, aku sadar
banget salah satu alasan yang membuatku bisa nggak berambisi mendapatkan pekerjaan berupah tinggi dengan title lulusan UQ ini adalah karena
beasiswa yang kudapatkan. Kalau aku nggak kuliah pakai beasiswa, mungkin sekarang
aku sudah memikirkan strategi gimana caranya untuk bisa ‘balik modal’ setelah
mengeluarkan uang kuliah yang mahal.”
Bapak dosen hanya tersenyum mendengarkan.
“I believe education can make a better world.”
Bapak dosen bilang, pendidikan dan institusi pendidikan adalah dua hal yang berbeda.
Tidak ada kebetulan yang terjadi tanpa diketahui
oleh Allah al-‘alim yang Maha Tahu, lima menit lalu bapak dosen pamit undur
diri setelah menandaskan secangkir merlo berisi cokelat panas dalam satu jam
terakhir. Aku termenung di hadapan dua cangkir merlo yang sudah habis isinya. Pertemuan apa tadi?
Percakapan apa tadi? Rasanya masih ada yang mengganjal di hati?
Apakah aku bisa bertemu bapak dosen lagi?
Ntahlah.
Apakah aku akan tetap menargetkan S3 di masa
depan?
Ntahlah.
Apakah kelak UQ akan tetap jadi kampus
tujuanku?
Ntahlah.
Pertemuan bersama bapak dosen terjadi karena
izinNya, ketidakpuasan yang muncul ketika pertemuan kami telah berakhir merupakan hal
yang tidak bisa kuprediksi akan kurasakan, namun tetap merupakan takdirNya. Butuh beberapa hari bagiku untuk
menerima kenyataan bahwa aku nggak punya selfie sama bapak dosen (wkwkwkw) (bayangin dapat kesempatan privat fanmeeting tapi gak ada foto bersama) (sesedih ituuuu TwT), menghibur
diri bahwa esensi pertemuan kami adalah percakapan yang mengalir, bukan
sebentuk foto yang dijepret kurang dari semenit. Perasaan mengganjal yang muncul berhari-hari pada
akhirnya menggerakkan hatiku untuk menulis catatan pertemuan bersama bapak
dosen. Pertemuan bisa selesai, dokumentasi bisa tidak tergapai, namun apapun
yang ditulis akan mengabadi. Semoga di sebuah masa di masa depan, aku kembali bertemu bapak dosen entah di belahan bumi yang mana, barangkali sekalian bersama Gert Biesta.
Tabik,
shofwamn
p.s: aku berhasil bertemu anak bimbingan bapak dosen, kami berdua menghabiskan tiga jam perbincangan yang hangat:)