Jejak Jeda

 “Kak, kamu kan kemarin abis mudik, sekarang ngerasa homesick nggak?”

“Nggak sih.”

“Soalnya temenku yang ngerantau ke Brisbane nggak pernah homesick, trus dia mudik sekali, pas balik ke Brisbane baru deh muncul homesick-nya.”

“Aku nggak homesick. Tapi aku jetlag dengan kehidupan di sekitarku.”

Hari pertama kembali ke Brisbane.

Aku tiba di apartemen pukul 12 siang, istirahat sebentar lantas pergi ke shopping centre (beli makan siang, kirim paket, groceries), kembali ke apartemen, packing untuk ke Tasmania, menjelang maghrib pergi ke tempat kak Kania untuk naruh bagasi, ngurusin final packing, balik lagi ke apartemen, serah terima barang jastipan.

Ini hari pertamaku dan aku sudah melakukan banyak hal.

Rasanya langsung direset kembali ke rutinitas Brisbane.

Tanpa aba-aba, tanpa ada yang memperhatikan, tanpa ada yang tau.

Dua hari lalu aku masih di Jakarta.

Kemarin aku masih di Manila.

Hari ini aku sudah kembali ke Brisbane, yang menyambutku dengan biasa saja.

Rasa-rasanya satu bulan terakhir yang kulalui tidak ada harganya.

Astaga.

Mengerikan sekali.

Aku seakan terjerumus ke dalam lingkup lingkaran dunia yang selalu berputar, dengan kamu atau tanpa kamu di dalamnya.

Dunia yang menganggapmu bukan siapa-siapa.

Dunia yang bisa menggantimu dengan siapa saja.

Kenangan yang kumiliki, kenangan yang menjadi hak aku, kenangan yang tidak dipedulikan oleh dunia di sekitarku, kenangan yang berharga bagiku.

Tanpa jeda mencerna, tanpa jeda mengapresiasi. Kenangan itu, yang berisi momen hangat bersama orang-orang tersayang, berubah menjadi tidak berarti.



Hari ini sudah sepuluh hari berlalu sejak aku kembali ke Australia.

Kemarin apartemen-mate ku baru saja tiba dari kampung halamannya.

Malam ini dia mengagetkanku karena berdiri di depan sink cuci piring dengan pakaian rapi siap-siap untuk keluar, pukul 9 malam.

Ternyata dia langsung kembali bekerja, shift malam.

Aku terhenyak.

Apakah dunia memang tidak mengizinkan jeda?

0 komentar