Pukul 12.01
Hanya butuh
sekitar tiga menit lagi untuk tiba di Merlo, sejenak aku mengambil nafas
sebelum memasuki area Great Court dari arah UQ Chancellor. Lambungku sedikit berdenyut nyeri,
barangkali akibat makanan yang baru masuk namun harus terguncang dengan langkah kaki
cepat melewati medan tanjakan dan turunan area St Lucia untuk menuju kampus,
atau mungkin tanda betapa gugupnya aku sepanjang perjalanan untuk menemui
seseorang. Aku kembali menarik nafas, tiga menit lagi sampai di lokasi janji
temu pukul 12.10, aku masih punya waktu, namun rasa-rasanya sudah seperti terlambat,
melanggar prinsip setidaknya aku harus tiba sepuluh menit sebelum jam
perjanjian untuk agenda yang penting.
Siang ini
suasana Merlo cukup sepi, aku mengitari pandangan ke arah kursi-kursi di bawah
pohon. “Oh, orangnya belum datang,” batinku lega begitu tidak melihat sosok
yang kucari.
Apakah aku
harus mencari tempat duduk? Apakah aku perlu menunggunya datang baru memesan?
Apakah mending aku pesan kopi dulu? Apakah aku harus mentraktirnya karena sudah
bersedia menyisihkan waktu? Atau jangan-jangan aku akan ditraktir? Apakah
orangnya akan datang? Masih ada sisa waktu sebelum janji temu tiba, AKU HARUS NGAPAIN?
Rasa gugup
yang tidak hilang membuatku pergi ke kasir untuk memesan secangkir flat white,
mencari tempat duduk yang sekiranya mudah diakses dan tidak basah oleh air sisa
hujan, rasa gugup yang masih ada ketika pelayan mengantarkan pesananku.
“Hey, sorry
I am late! I was running,” sapa sebuah suara yang familiar dari arah belakang.
“Helloo.
No, you are not. It is still 12.08pm.”
“Oh, you
already ordered something? I want to buy you a coffee actually.”
Dan begitu
saja, satu ucapan sederhana memunculkan satu sesal karena kehilangan kesempatan
untuk merasakan kebaikan hati sosok itu.
Tapi sebelum aku bercerita tentang percakapan kami, mari mundur ke beberapa pekan lalu ketika perjumpaan hari ini masih berupa mimpi yang tidak pernah muncul di pikiranku.
Boro-boro berambisi untuk mendapat gelar S3 secepat mungkin, aku tidak pernah punya pikiran melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral ketika memulai studi magister. Pengalaman melalui semester pertama di UQ yang lumayan traumatis sama sekali tidak memberikan insight untuk melanjutkan studi PhD. Aku memang tidak punya niat untuk melanjutkan studi, namun bertemu dengan banyak sekali mahasiswa PhD membuatku merasakan bahwa level doctoral adalah sesuatu yang bisa kucapai. Setidaknya itu cukup untuk jadi bekal bahwa tidak ada yang tidak mungkin~ bahwa para PhD pun adalah manusia biasa, bukan manusia dengan superpower yang mengetahui segala jawaban, yang juga merasakan berbagai macam kesulitan akademik dan problematika kehidupan yang perlu dihadapi.
Tapi aku
tetap tidak merancang pathway menuju kesana.
Ketika sebagian
orang memilih untuk melakukan research project di semester terakhir agar
memiliki pengalaman melakukan riset, syukur-syukur juga sekalian publikasi, aku
tetap kekeuh dengan program coursework, menjalani perkuliahan dengan full
mengikuti mata kuliah secara penuh tanpa menulis tesis ataupun research report.
“Kenapa
nggak ambil research project? Kan lumayan untuk modal bersiap-siap, kalau mau S3
harus udah punya pengalaman riset.”
Masalahnya aku nggak ada rencana S3? Dan jikalau di masa depan rencana itu muncul, akan kuupayakan dengan sumber daya yang kupunya di masa depan. Tapi tidak untuk sekarang. Rasanya terlalu sayang memberikan jatah 4 unit untuk research project sedangkan 4 unit setara dengan 2 mata kuliah. Kenapa aku perlu melakukan research project untuk topik yang tidak kupunya ketika aku bisa menyerap ilmu-ilmu baru dari dosen UQ melalui interaksi di kelas? Sepanjang dua tahun belajar dengan mengikuti 16 mata kuliah, setidaknya aku bertemu dengan 14 dosen. Di antara empat belas itu, satu orang berhasil membuatku “KALAU GUE PhD, MAU DIBIMBING BELIAUUUUU.”
Bukan
sekali dua kali topik melanjutkan S3 muncul di obrolan bersama teman, bersama
kenalan, bersama orang-orang yang berada di lingkungan akademia. Dan aku tetap
bertahan dengan pilihanku untuk nggak langsung serta merta melanjutkan studi doctoral
paska menyelesaikan magister. Namun aku nggak nyangka akan menemukan sosok yang
membuatku pengen dibimbing. Walau sekarang lebih pengen nemu sosok yang bisa
membimbingku ke surgaNya.
#halo
#jodohku #whereRu
WKKWKWKWKWK
Berhubung
aku tidak tahu akan berapa lama lagi bapak dosen bekerja di UQ, melihat
posturnya yang sudah lumayan berumur, aku berusaha menanyakan kabar bapak dosen
melalui asdosnya yang kebetulan adalah salah satu dosenku di semester terakhir.
Kalian bingung
apa maksudnya?
Aku bertemu bapak dosen di semester tiga, saat itu beliau punya asdos yang kupanggil mbak dosen. Ternyata mbak dosen mengampu salah satu mata kuliah yang kuambil di semester terakhir. Jadi aku sempat diajar oleh mbak dosen sepanjang semester empat.
Sadar diri dengan pertanyaan super recehku yang sama sekali nggak memberikan substansi penting, aku ngepoin bapak dosen lewat mbak dosen, dan bertanyanya melalui email. Sori banget, memang secupu itu, bahkan nanya langsung ke mbak dosen aja nggak berani. Lantas mbak dosen mengirim email balik, “I genuinely do not know his plans, tell him what you told me. He will appreciate that kind of intellectual honesty more than a perfectly formed proposal.”
APA TIDAK MUMET SEKETIKA DIRI INIII? CUMA MAU NANYA KABAR MALAH DISURUH NANYA LANGSUNG.
Sudah kadung nyebur,
aku pun mengirim email ke bapak dosen. Mohon diingat bahwa kami sama sekali
nggak berkorespondensi sepanjang tahun 2026, aku dengan kesadaran penuh
mengirimkan email itu. Email berisi “permisi mister, mister sampai kapan ya
kerja di UQ? Aku pengen nge-propose mister buat jadi potential supervisor, tapi
nggak dalam waktu dekat karena aku masih belum menemukan alasan kuat untuk
melakukan PhD.”
Sehari kemudian, jawaban
email tiba.
“Hi Shofwa, I remember
you. I am very happy to talk to you anytime about further study. Talk soon😊”
APEEE MAKSUDNYA
MISTER. YOU CAN ANSWER MY QUESTION DIRECTLY. WHAT DO YOU MEAN BY TALK SOON TALK
SOON.
Huft.
Sesungguhnya aku mau
berhenti di titik itu.
Apa gunanya ngajak
ngobrol kalau aku sendiri nggak punya topik yang bisa kubawa? Nggak punya
rencana konkret tentang kelanjutan studiku untuk S3? Nggak memiliki hal penting
buat didiskusikan? Apalagi meminta waktu seorang dosen UQ yang agendanya padat
merayap?
Tapi tapi tapi,
bukankah sekarang aku lagi jadi mahasiswa UQ? Aku bisa mengontak dosen UQ
sesuka hati dan persentase mereka akan membalas emailku adalah 100%? Situasiku
saat ini adalah privilise yang bisa kumanfaatkan? Apalagi aku masih di Brisbane
jadi bisa ketemuan langsung? Kalau sudah di Indonesia, mana mungkin
kesempatannya sebesar sekarang?
Begitulah, dua
pertimbangan yang saling tarik menarik antara sadar diri untuk berhenti VS perjuangkan
aja dulu.
Aku memilih yang
kedua.
As always.
Karena terasa lebih
mudah merangkul penyesalan yang muncul setelah memberikan usaha terbaik daripada
sesal yang muncul karena memilih untuk menyerah tanpa mencoba.
Kukirim email berisi keinginan untuk bertemu, selang hitungan jam bapak dosen mengirimkan undangan zoom berjudul further study… WAITTTT WHAT. I DO NOT HAVE THE FURTHER STUDY VISION YET???! Dan beliau juga menawarkan kami bisa bertemu di Merlo pukul 12.10pm jika ingin bertemu langsung. Tentu saja aku memilih berjumpa di dunia nyata alih-alih maya.
Maka di sinilah kami
berdua, bertemu di bawah kanopi Merlo coffee shop.
“Hi Shofwa, how are
you? How have you been?”
Aku menatap sepasang mata biru dengan sorot bersahabat itu, sesungguhnya fisikku sedang tidak baik-baik saja sisa demam dan flu yang belum sembuh benar, cuma sepertinya bukan itu jawaban yang patut kuberikan, dan bukan itu pula yang ditanya. Beliau duduk di hadapanku, kami hanya terpisah oleh meja kecil. Aku memegang cangkir flat whiteku dengan gugup.
“I am good, but--”
to be continued.


0 komentar