“Kamu sabar banget.”
Aku menjeda sejenak ceritaku begitu
mendengar kalimat itu.
Nggak, aku nggak sabar.
Aku nggak menerima setiap tuduhan, celaan, serta
tuntutan dengan hati yang lapang.
Aku ingin membalas tiap-tiap ketikan
bernada nirempati melalui sarkasme.
Kutu di ujung laut keliatan, dinosaurus di
depan mata malah ghaib.
Cacat logika. Cacat logika. Cacat logika.
Menghela nafas manual.
Adalah stiker yang mendominasi pekan ini.
Ketika tawaran untuk membuka ruang
bertenggang rasa di dunia fana tertolak mentah-mentah.
Malah lebih ingin berhadapan dengan penegak
hukum paling adil seantero semesta.
Baiklah.
Tiga manusia. Dua pihak. Satu situasi.
Diam adalah emas.
Diam adalah halusinasi.
Diam adalah pengecut.
Disappointed but not surprised is an
understatement.
It is disappointing.
It is surprising.
People hear what they want to hear.
Only believe what they want to believe.

0 komentar