Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller
Kamis, 20 Juli 2017 : 20.14 WIT

Secara nggak sadar aku memahami kalau skill menulis aku ini udah mengabur, bukan berarti dulu tulisannya bagus, well, setidaknya dulu terlihat lebih bagus dari ini, dulu yang sekitar satu setengah tahun lalu. Salah sendiri nggak pernah di-improve lagi. Salah sendiri nggak pernah baca buku lagi. Salah sendiri jadi cewek kok magerannya naudzubillah.

Salah shof, salah. 

Boleh nggak sih curcol di postingan yang harusnya lebih tertata isinya dengan bahasa yang sopan nan santun?

Untuk kali ini aku perlu hati-hati menceritakan beberapa peristiwa, perlu penyusunan kata dan kalimat yang baik agar tidak meninggalkan citra buruk. Soalnya ada beberapa hal yang (mungkin) akan memunculkan kesalahpahaman kalau ditulis memakai bahasa andalanku yang plinplan tanpa tahu tata krama.

Aidaaaaaaaa, berasa nulis hal penting saja kau ni.

Ahad, 23 Juli 2017 : 15.37 WIT

Selamat Hari Anak Nasional!!

Aku mengaku salah ketika mengatakan akan bercerita tentang Sekolah Komunitas Joki Cilik tapi sama sekali tidak berusaha untuk menyelesaikannya yang bahkan belum dimulai sama sekali akibat dari ingatan yang mulai tumpang tindih dan kebingungan yang tidak profitabel.

(profitabel)

Cih. Sok pake bahasa tingkat tinggi.

Rasanya ingin sujud syukur ketika akhirnya bisa mulai bercerita tentang kegiatan yang terjadi di bulan Mei kemarin, tapi bakal terlihat agak lebay jadi yasudah sepertinya tetap menggerakkan jari-jari di atas tuts keyboard sudah lebih dari cukup tanpa harus sujud syukur segala.

Ayo kita nostalgia~




Senin, 08 Mei 2017 21.31 WITA

Mbak Fau ziyah created grup “Komunitas Jokcil”

Mbak Fau ziyah added you.

Hah? Komunitas Jokcil? Ngapain aku dimasukin di grup ini?

Pertama kali melihat grup tersebut muncul dengan dihimpit oleh grup-grup whatsapp lainnya membuatku agak nggak ngeh ini grup apaan sih, apakah hanya grup abal-abal yang dibuat untuk saling curcol dan chatt nggak jelas. 

Pikiranku kala itu sedang tidak bisa memproses informasi dengan cepat, perlu bengong dulu liatin grup yang notifikasinya udah 100-an dan terus bertambah, menandakan sedang terjadi interaksi maya antar anggota.

“Ini grup apaan?” 

“Ya baca aja.”

Ya-baca-aja terkadang bisa menjadi jawaban yang menciptakan helaan nafas panjang, ya-baca-aja untuk sebuah grup dengan ratusan chatt yang perlu dibaca itu bisa bikin wasting time jika ternyata obrolannya nggak jelas.

“Penting nggak?”

“Ya baca aja. Ntar juga tau.”

Dalam kondisi normal seharusnya nama ‘Komunitas Jokcil’ sudah mampu memberi gambaran tentang grup apa itu, tapi emang otaknya lagi gak bener habis melewati hari yang melelahkan jadi aku masih mikir palingan ini grup rada gajelas. Soalnya anggotanya lagi aktif ngirim chatt (yang mana merupakan teman-teman psikologiku tercinteh). Tau kan sebuah grup kalau lagi rame kayak gimana, ping! ping! ping! ping! tanpa henti. Dan kalau ping-ping-ping-ping nya cepet masuk menandakan chatt yang dikirim sama anggota palingan cuma sekata, dua kata, atau paling nggak satu kalimat lah, dan itu memiliki kemungkinan yang sangat tinggi bahwa mereka sedang berngalor ngidul.

Karena malam itu memang sedang memiliki banyak sekali waktu luang yang dapat dipakai, dengan penuh kemantapan hati aku membuka grup tersebut dalam posisi sedang memakai masker yang disponsori oleh Putri.

Baru juga dibuka, rasa penasaranku soal alasan dibalik kemunculan grup whatsapp bertajuk 'Komunitas Jokcil' langsung terjawab.

“Jadi, gini, beberapa (dari anak) angkatan satu dan bu Yossy sepakat untuk peningkatan kemampuan mahasiswa psikologi, salah satu caranya adalah (dengan) pemerataan kesempatan untuk ikut dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Jadi sebisa mungkin setiap mahasiswa punya satu kegiatan yang diikuti, diharapkan tidak mengikuti banyak kegiatan yang nantinya akan mengganggu kuliah. (Komunitas JokCil dapat diikuti oleh) mahasiswa 2016 yang mau dan belum tergabung dalam kegiatan apapun di fakultas saat ini.”


Aduh jadi ingin tersenyum tapi lagi maskeran.

Ibu Yossy adalah dekan yang sangat perhatian:) tidak salah lagi ibu adalah dekan paling cantik se-UTS.

Setelah tahu tujuan pembentukan grup, aku tetep membaca percakapan yang ada, siapa tahu ada info penting lainnya, mana Putri yang ada di sampingku dan juga sedang membuka grup whatsapp yang sama tiba-tiba ketawa. Bukan ketawa yang cuma, 'hahaha,' doang. Ketawanya udah kayak lagi nonton Running Man di adegan yang paling lucu (meski kalau Running Man, bagian yang bikin ketawa itu ketika KwangSoo dibully atau bertingkah nggak manusiawi sih).

Singkatnya, selain memberitahu tujuan dibuatnya grup 'Komunitas Jokcil' yang mana merupakan langkah awal dari keputusan bu dekan dalam pemerataan kegiatan mahasiswa Psikologi sekaligus persiapan untuk melanjutkan Sekolah Komunitas Joki Cilik, mbak Fau yang merupakan penanggung jawab juga memberi kabar terbaru kalau anak-anak yang merupakan anggota DPM dan anggota BEM (yang mana baru saja dilantik sore harinya) tidak diperkenankan untuk bergabung dalam Komunitas Jokcil meski jika ingin berkontribusi secara kasat mata juga tidak dilarang.

Aku sempat abai kalau grup tersebut isinya anak psikologi semua. Para mahasiswa yang sering ngaku sakit jiwa makanya masuk fakultas ilmu jiwa dengan tujuan ngobatin diri sendiri. Makanya begitu mendengar kabar kalau yang sudah berada di satu organisasi fakultas nggak boleh menjadi bagian dari sekomjokcil, kabar yang seharusnya menimbulkan keprihatinan karena banyak mahasiswa berkualitas berada di BEM atau DPM. Tapi, boror-boro prihatin, keprihatinan tersebut tenggelam entah kemana karena obrolan kami langsung penuh dengan drama-comedy dalam menanggapi kabar tersebut, toh, lagian kami menanggapi dengan santai tanpa perlu mengeluarkan urat tegang.

Apalagi ketika mbak Fau mulai nge-kick anak-anak DPM dan BEM. Sooo dramatic.



Rabu, 10 Mei 2017 : 17.00 WITA

“Mbak Fau, kak Surya masih lama?”

Pertanyaan yang terlontar setelah tiga puluh menit lebih hanya menghabiskan waktu dengan duduk kalem di lantai satu rektorat yang jaringan WiFinya tengah stabil.

“Kak Surya tadi sms, katanya beliau masih ada urusan. Kalian mau tetep nunggu atau reschedule jadwal meeting?”

“Nunggu aja mbak. Sudah biasa menunggu.”

Karena harapan memiliki bibit bernama kekecewaan, aku belajar untuk merendahkan ekspektasi dari menunggu sekaligus meyakini bahwa menunggu itu jauh lebih baik daripada ditunggu. Meski di beberapa kondisi, menunggu juga bisa membuat kata kata kasar terlontar. Apalagi kalau yang ditunggu nggak tahu diri. Misalnya, menunggu orang indonesia yang berprinsip hidup, ngaret is lyfe ngaret is no problem. Penantian sore hari itu terbayarkan ketika Kak Surya yang merupakan mahasiswa angkatan satu Fakultas Psikologi menunjukkan keberadaannya pada pukul 17.20 WITA sembari membawa sekresek pisang aroma dan pisang molen.

“Maaf ya saya terlambat, tadi ada meeting dengan orang-orang penting. Sebenarnya belum selesai tapi karena listrik mati jadi AC-nya juga ikut mati makanya cepat diakhiri.”

Orang yang datang terlambat dengan membawa makanan gratis dan ketulusan meminta maaf adalah orang baik.

Dibalik diskusi mengenai jokcil, aku bersyukur kak Surya datangnya mendekati maghrib jadi aku tidak menyia-nyiakan makanan yang dibawa. 

Menolak makanan gratis (yang enak) adalah suatu bentuk nyata dari kerugian.

Dan kehopeless-anku yang hilang terguyur oleh kalimat, 

“Ini perihal mau-nggak mau, bukan bisa-nggak bisa. Yang paling dibutuhkan adalah komitmen untuk menjalankan Sekolah Komunitas Joki Cilik.”

Banyak hal yang dibahas oleh kak Surya, dari yang penting hingga yang umum, tanya-jawab seputar posisi Sekolah Komunitas, dan rencana terbaru yang disampaikan dengan pertanyaan :

“Jadi gimana? Saya mendengar hari senin ada pacuan di Penyaring. Kalian siap turun?”

Edan!

Edyan edyan edyan.

September tahun lalu aku berada dalam kepanitiaan kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh BEM Fakultas. Kala itu, kepanitiaan baru dibentuk ketika H-10 dan aku sudah omaigat nekat betul. 

Lha ini, h-4.

Tiada yang tidak mungkin~ selama itu bukan nikah sama oppa, berekspektasi tanpa usaha, ingin tidak berakhir madesu namun do nothing, atau berpasrah pada takdir padahal ikhtiar aja belum dilakukan.

“Siap kak!”

Jawaban spontan dari mbak Fau, Riris, kak Syifa, dan anak-anak yang ikut berkumpul membuatku kagum. Keoptimisan yang patut diteladani.

Entah kenapa aku excited banget ketika dapat berpartisipasi di kegiatan kali ini, mungkin kegagalan yang kualami tidak lama sebelum keikutsertaanku dalam sekomjokcil juga turut memberi andil, haha, siapa yang menyangka sebuah kegagalan sederhana dapat membuat seorang shofwa sedikit menghindari waktu luang dan mencoba untuk mendapatkan sedikit kesibukan.


Minggu, 15 Mei 2017 10.14 WITA

Biasanya, joki-joki cilik yang berasal dari daerah luar Sumbawa akan mendirikan tenda di sekitar area pacuan sebagai hunian sementara selama pacuan kuda berlansung yang membuat mereka otomatis tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing. Maka dari itu ibu dekan sebelumnya ‘menantang’ para mahasiswa Psikologi angkatan satu untuk membuat Sekolah Komunitas Joki Cilik agar para joki cilik tetap menerima pendidikan di tengah kesibukan mereka berlaga di pacuan.

Meskipun inti dari diadakannya Sekolah Komunitas Joki Cilik tidak terletak pada hal tersebut sih, perihal memberi-menerima ilmu hanyalah tujuan sampingan.

Sekolah Komunitas Joki Cilik atau disingkat sekomjokcil sudah menjadi kegiatan rutin fakultas psikologi, diprakasai oleh angkatan pertama seperti yang telah disebutkan di atas, kegiatan ini sempat dipegang oleh BEM pada tahun 2016 sebelum akhirnya kembali menjadi kegiatan yang dinaungi oleh fakultas. 

Bahasanya bener nggak tuh. 

Aku nggak mau ngasih info langsung bejibun, biarlah step by step saja.


Pertemuan pada hari Minggu menjelang siang dimulai dengan ice breaking dari kak Surya yang ingin memberitahu kami bahwa sesederhana apapun ice breaking yang diciptakan, value of life adalah komponen penting yang tidak boleh terlupa. Dan jangan mau dirempongin ketika hendak membuat ice breaking karena kita bisa memanfaatkan anggota tubuh kita tanpa harus dibantu oleh properti lain.

Kemudian kami saling berbagi cerita, lebih tepatnya kakak-kakak angkatan satu bercerita tentang pengalaman mereka ketika mengadakan sekomjokcil untuk pertama kalinya. Ada enam orang yang datang dan mereka memiliki ceritanya masing-masing yang memiliki kesamaan pesan : joki cilik itu tidak mudah ditaklukkan.


Setelah sholat dhuhur dan istirahat makan, kami dibagi menjadi dua kelompok lalu diberi challenge untuk menyusun semua hal yang berkaitan dengan sekolah komunitas. Mulai dari divisi apa saja yang diperlukan, kebutuhan per divisi, kendala (yang mungkin akan) dihadapi, rundown kegiatan, tema yang hendak digunakan sebagai materi pembelajaran, alokasi dana, hingga jumlah peserta. Semua itu kami diskusikan hingga adzan ashar berkumandang 

“Sekarang sholat ashar dulu setelah itu kita akan melakukan simulasi sesuai dengan hasil dari diskusi yang teman-teman telah lakukan.”


Kak Surya memutuskan bahwa hasil diskusi dari kelompokku -kelompok 2- yang akan dipakai untuk simulasi sedangkan kelompok satu akan berperan sebagai joki cilik. keputusan yang sempat menuai penolakan dari beberapa anggota kelompok 2, alasannya simple, karena memerankan joki cilik dengan keaktifan dan kelincahan serta kewatadosan ala anak kecil itu jauuuuh lebih mudah dibandingkan menjadi relawan.

Dan bener aja, kelompok 1 terlalu mendalami peran mereka. Akting mereka bukan sekelas joki cilik lagi, tapi udah kayak anak autis...


Kalau hendak 'memburu' joki, usahakan jangan memakai kata belajar, tapi pakailah kata bermain:)


 it was fun, super fuuun~ because thats my first time did a simulation.


Malamnya, dengan beralasankan spanduk (atau banner?) milik fakultas tetangga, kami berembug kembali membahas detail pelaksanakan sekolah komunitas di samping asrama akhwat agar hari selasa kami sudah bisa terjun ke lapangan untuk bertemu dengan adik-adik joki cilik. Sayangnya, karena aturan jam malam sedang diawasi dengan ketat oleh pembina asrama (yang baru dan belum dikenalkan secara resmi #ehem), kami harus mengakhiri pertemuan dengan lebih cepat.

Kamis, 27 Juli 2017 12.29 WIT

Selesai deh akhirnya.

Memang belum masuk ke bagian rangkaian kegiatan, walakin Alhamdulillah 'ala kulli hal.


Jika love at first sight dijabarkan sebagai keadaan ketika kita langsung merasa ‘klop’ pada pandangan pertama lalu memikirkannya sepanjang waktu dan terkadang terbesit rasa rindu untuk melihatnya yang jika dilakukan akan memberikan efek positif dan kehangatan dalam dada.

Maka, iya, aku jatuh cinta.

Jatuh cinta sama status whatsappku yang sekarang.

Wkwkwkw.

Pun aku jatuh cinta juga sama status whatsappku yang sebelumnya.

#lemahpendirian.

cr to : dhila yang super baeeeek<3


Aku tipe orang yang agak nggak suka memajang foto sendiri (foto yang wajahnya kelihatan yaps) sebagai foto profil di akun sosmed. Mending kalau fotonya bagus jadi ya nggak perlu lah malu, wk. Sebelas bulan lalu saat bersiap memasuki dunia perkuliahan, aku memutuskan untuk nggak memakai wajahku sendiri sebagai foto profil whatsapp. Salah satu faktornya adalah ketika itu ada seseorang yang tiba-tiba megirimiku foto skrinsutan sebuah folder dalam galeri hp bertajuk, “shof,” dan isi folder tersebut fotoku semua, dan beberapa foto di folder tersebut merupakan foto profil whatsapp.

Horror.

Bukan deng. Bukan horror.

Tapi iyuh kutu kupret langsung bikin ilfeel.

Emang sih ketika kita ngupload foto ke media sosial kita juga perlu sadar akan konsekuensi kalau foto kita bakal disimpen tanpa izin. Itu sesuatu yang tidak bisa dihandle.

Tapi, foto gue saat masih kelas 10 aja disimpen sama dia.

Pake acara bikin folder tersendiri pula.

Karena itu, aku memilih untuk nggak memakai foto sendiri sebagai foto profil.

Sayang, kenyataan berkata lain.

Sebagai salah satu media sosial yang paling sering dipakai, banyak komunikasi yang terjalin di whatsapp. Dari yang penting, biasa aja, nggak penting, sampai nggak penting banget. Nah, aku hanya menyimpan nomor hp orang-orang yang emang ingin kusimpan atau pernah kuhubungi untuk suatu keperluan atau yang (sekiranya) akan aku hubungi di kemudian hari. Banyak orang yang aku kenal irl tapi nomornya nggak kusimpan Aku masuk grup HIMARA Akhwat doesnt mean aku nyimpen semua nomor anggota grup itu, bahkan aku nggak nyimpen semua nomornya anak kelas yang cuma tiga puluh sekian jadi ketika ada perlu dengan orang yang nggak aku kenal atau nggak aku ketahui wajahnya, hal berguna yang bisa kulakukan adalah melihat foto profile whatsapp yang bersangkutan.

Kadang itu membantu. Sangat membantu.

Misalnya aku ada perlu sama Putri dan mau nge chatt di whatsapp padahal nggak kenal dia.

“Eh, Putri tuh yang mana sih?”
“Itu lho, yang (ngaku) cantik seasrama murid kelas keanggunan dan (katanya) nggak mau hitz padahal udah terkenal.”
“Hah? Emang ada orang kayak gitu?”

Kemudian aku liat foto profil whatsapp Putri (yang memang menunjukkan muka dia, bukan sekadar foto pemandangan, quotes, atau wajah oppa oppa koriya) dan kutunjukkan ke temen untuk mengonfirmasi,

“Ini Putri?”
“Nah iya. Bener.”

Gitu kan enak.

Mengindari rasa malu sekiranya salah kirim.

Di sisi lain, mengindari untuk tidak dikenali juga. Soalnya aku pernah ngechatt orang dengan panjang lebar terus dijawab pake tiga kata yang membuatku menelan ludah,

“Ini siapa ya?”

Merasa aneh kalau telat memperkenalkan diri.

Awalnya ndak suka masang foto sendiri, tapi sedang membiasakan untuk biasa aja.

Palingan aku mejengin wajah juga cuma di akun yang memiliki banyak interaksi dengan orang yang tidak kita saling kenal (kayak whatsapp dan facebook) sedangkan selebihnya (Twitter, Ask.fm, Tumblr, Line, dan lain sebagainya aku lupa apa aja akun sosmed yang kupunya) perubahan untuk foto profil masih bisa diitung jari, malah ada yang nggak kuganti sejak pertamakali dibuat.

Status juga jarang diganti, apakabar status Line yang nggak berubah sejak tiga tahun lalu dan pake bahasa latin sehingga membuat shofwa berasa pinter. Wkwk.
Padahal cuma copy paste dari novel ‘Inferno’ doang.

Aku sempat mengalami problem internal di mana aku mengambil keputusan untuk menghapus setengah dari total keseluruhan aplikasi yang terdapat di hp, aplikasi yang dihapus adalah aplikasi-aplikasi yang paling sering digunakan. Saat itu adalah saat di mana aku tidak ingin berinteraksi dengan siapapun atau membaca tulisan apapun. Problem internal yang jika kuceritakan kenapa dapat terjadi hanya akan berujung sebagai pembenaran terhadap diri sendiri. Problem internal yang cukup menyita waktu makanya sampai sekarang tulisan part 1 tentang Sekolah Komunitas belum dirilis juga.

Seberapa sering pikiran tentang Sekolah Komunitas muncul dalam rentang waktu problem internal yang tengah kuhadapi #ceileh, aku nggak bisa memaksa diriku untuk mengetik karena aku berkeyakinan bahwa mengetik dalam keadaan mood yang tidak baik hanya akan menghasilkan ketidakpuasan di kemudian hari. Karena ketika aku membaca ulang tulisan tersebut, aku juga akan mengingat perasaanku ketika menulisnya, dan akhirnya membiarkan kenangan tidak baik kembali hadir.

#ntaps

Makanya ketika aku menginstall ulang kembali whatsapp, statusnya juga sekalian aku ganti dengan kalimat yang selalu membayangiku ketika sedang berusaha menyelesaikan problem internal.



Fattaqullaha Mastatho’tum.

Maka bertakwalah dalam kadar kesanggupanmu.

KBBI :
Tak.wa n terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya; keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.

Lho,

Kenapa artinya dalam bener.

Sebelumnya, ketika terbayangi oleh kalimat ‘fattaqullaha mastatho`tum’ yang aku ingat hanya bagian dalam kadar kesanggupanmu doang. Aku tidak ingat kadar kesanggupan yang seperti apa atau yang bagaimana. Apakah kesanggupan menabung agar dapat membeli tiket konser kpop, kesanggupan menghamburkan uang demi membeli paket internet untuk nge-download drama, kesanggupan niat yang berujung pada realisasi fana, atau kesanggupan memakan berbagai macam hidangan di pernikahan orang.  Menemukan dua kata itu untuk pertama kalinya dan hanya ingat di bagian dalam kadar kesanggupanmu cuma menghasilkan kesimpulan subjektif kalau kita kudu usaha semampu kita dalam mengerjakan pekerjaan dan menyelesaikan tanggung jawab yang dimiliki. Beri effort yang terbaik, nggak usah memaksakan diri.

Namun, ternyata kesanggupan dalam bertakwa.

Makna tersebut baru aku ketahui dari hasil googling ketika sedang menyusun tulisan ini. Iya aku baru aja googling hehe. Begitu tau maknanya sedalam itu aku jadi takut, rasanya ingin dibatalkan saja cerita tentang fattaqullaha mastatho'tum lalu mengganti judul postingan jadi ‘sekelumit kisah whatsapp` misalnya agar sinkron dengan fakta kalau aku dan status whatsapp memiliki kenangan yang hanya diketahui oleh kami berdua.

Kok jijik.

(sekelumit kisah whatsapp)


JUDUL POSTINGAN ATAU JUDUL FTV?

LEBAY KALI!

Namun sudah nulis sepanjang ini yang kalau versi microsoft word menunjukkan empat halaman dengan 927 kata.
#dibuangsayang

Source : webtoon


Yosh! Pada kesempatan kali ini marilah kita membahas tentang fattaqullaha mastatho’tum. Sebenarnya keberanian untuk menulis dengan pembahasan tentang agama belum juga nongol meski aku sudah memiliki lingkaran halaqoh (eciyeh halaqoh) yang rutin. Ilmunya belum nyampe tjoy~ masih terlalu sedikit~~

Namun ndak ada salahnya mencoba.

Kalian yang membaca ini boleh banget, serius, BOLEH BANGET menginterupsi jika ada kalimatku yang salah atau tidak sesuai dengan fakta.

Fattaqullaha mastatho'tum merupakan penggalan ayat dari surah At-Taghaabun (yang ternyata udah pernah aku hafal namun qadratullah sudah tidak menempel di ingatan dan hampir terlupakan) (sejujurnya sih memang sudah lupa #plak #tertampar), tepatnya ayat ke-16. Asbabun nuzulnya kurang lebih seperti ini :

Said bin Jubir r.a menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kecemasan kaum muslim tatkala surah Ali Imran ayat 102 diturunkan. Kaum muslim beramal sekuat-kuatnya, mereka terus-menerus mengerjakan qiyam (sholat sunnah) hingga tumit mereka berngkak dan kening mereka bernanah. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk meringankan mereka.
(HR Ibnu Abi Hatim. Lihat Ibnu Katsir 6/112 dan Qurthubi : 10/6869)

Masha Allah:’) kaum muslim yang hidup bersamaan dengan waktu di mana wahyu masih diturunkan ayat per ayat memang luar biasa.

Menurut tafsir yang terdapat di aplikasi Ayat (tafsirnya versi bahasa Inggris weh aku ndak terlalu paham) (efek dari tafsir versi Indonesia yang cuma kayak terjemahan doang).

Apikasi itu memberitahu jika terdapat ayat yang similar dalam al-Qur’an yaitu, “Fear Allah as he should actually be feared.” (Ali Imran : 102), “Allah decides not burden any one with a responsibility heavier than he can bear.” (Al Baqarah : 286). And the last is, “Fear Allah as far as you can.” (At Taghaabun : 16)

Nah, ketika makna ketiga ayat dibaca bersamaan bakal menunjukkan kalau ayat yang pertama menetapkan aspek ideal bagi setiap umat muslim yang harus mencoba untuk mencapai tingkat takwa yang sebenarnya. Ayat kedua mendobrak prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang udah terkualifikasi perlu untuk mendesak dirinya di luar batas kekuatan dan kemampuannya. Ayat terakhir memerintahkan supaya setiap muslim untuk dengan penuh kesadaran mencoba agar mencapai ketakwaan kepada Allah dalam batas kesanggupannya. 

Kalian bingung nggak dengan paragraf di atas yang bahasanya baku baku ndak jadi?

Soalnya aku agak bingung. Itu paragraf adalah hasil usahaku dalam nge-translate yang ternyata masih hampir selevel kayak hasil dari google translate.

Fattaqullaha mastatho’tum = fear Allah as far as you can = bertakwalah dalam kadar kesanggupanmu.

Nah, sanggup yang seperti apa yang dimaksud oleh ayat tersebut?

Kalian tahu kan bahwa manusia tidak dibebani dan diberikan ujian yang sama, kita diberi ujian kehidupan yang memang sesuai dengan kemampuan kita makanya nggak perlu mendesak diri sampe ke luar batas seperti yang tertera pada ayat kedua tafsir di atas atau ayat ke 286-nya surah Al Baqarah. Sebagai seorang manusia, kita sama-sama diberi ujian, sama-sama memiliki misi, sama-sama diwajibkan untuk menyebar kebaikan. Yang membedakan hanya takarannya, seberapa banyak fulan harus berkorban, seberapa besar fulanah perlu berjuang, seberapa tangguh seorang manusia dapat bertahan.

Sanggup bukan ditentukan oleh kita (manusia) yang terlalu sering terperangkap dalam telur kemalasan dengan buaian akan kehangatan dan kenyamanan yang membuat kita menciptakan batasan atas kemampuan yang dimiliki. Ngaku aja deh, berapa kali kalian nge-underestimate diri sendiri padahal belum mencoba untuk memberi yang terbaik, atau mungkin menurut kalian memang sudah maksimal meski nyatanya belum.

اسْتَطَعْتُمْ، وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ"
Apabila kuperintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah hal itu olehmu menurut kesanggupanmu; dan apa saja yang aku larang kalian mengerjakannya, tinggalkanlah. (dari Rasulullah melalui Abu Hurairah r.a dalam kitab Sahihain)


Mungkin contohnya seperti aku yang belum pernah puas dengan hasil makalah yang kubuat tapi malah berpikir, “udah rela kaga tidur semalaman, ternyata segini doang batas kemampuan gue bikin makalah bagus.”

Padahal mah, aku baru mulai ngerjain saat deadline sudah menunjukkan h-1 dan justru berleha-leha ketika aku punya lebih banyak waktu untuk berkutat dengan laptop.

#good

Sedangkan ’batas’ kesanggupan yang ingin disampaikan oleh ayat ini mungkin bisa disamakan dengan keadaan ketika lu mau menghindari anjing dan air liurnya tapi malah jatuh ketimpa tangga ketumpahan cat dijatuhin tai burung nginjek kotoran kuda plus kaga ada yang nolongin. Alias sudah berusaha mengindar dari yang dilarang namun ternyata tidak berjalan lancar, alhamdulillah setidaknya masih hidup.

Hmm, analogi yang aneh.

Intinya mah, jadi manusia yang tunduk patuh kepada perintah Allah, tidak mengerjakan apa yang dilarang, dan nggak menyimpang dari jalan agama #eaak. Jangan mendahului dunia dan utamakan Allah dan Rasul-Nya #eaak(2) melakukan hal tersebut semaksimal mungkin, sampai titik darah penghabisan, hingga tarikan nafas terakhir.

For in Allah’s Religion one has been responsible only for what is within one’s power ability. He should carry out His Commands and avoid His disobedience as best as he possibly can. For if he shows laxity in this regard, he will not be able to escape punishment. However, one will not be held accountable for what was beyond one's power. Only Allah alone can decide best what was really beyond a person’s power and ability.

Terpaksa mode bilingual because karena why kenapa not tidak.

Bukan begitu deng.

Aku tuh bingung kalau kudu ngetranslate lagi jadi semoga kalian dapat mengerti sepenggal paragraf berbahasa Inggris itu ya.

Omonaa, I was sounds like ustadzah. 

Oh, no.

(merinding merinding cemas)



Siapa yang menyangka kecintaanku pada penggalan ayat surah At-Taghaabun ke 16 membawa seorang shofwa ke tahap ngesearch asbabun nuzul dan juga tafsir.

#tepuktangan

Well, sebenarnya aku merasa kalimat pembuka postingan ini berkesan apa banget. Lagi-lagi cinta. Cinta mulu kaga kelar-kelar. Namun itu adalah kalimat yang sudah terbentuk bahkan sebelum aku membuka microsoft word jadi kalau mau diubah maka aku perlu mengubah kalimat-kalimat selanjutnya juga which means mengubah hampir seluruh tulisan. Banyak jeda yang tercipta selama menulis ini, jeda yang memunculkan pikiran ‘siapa aja ya yang mengunjungi bianglala.’ Pikiran tersebut lahir akibat dari masa transisi dari SMA ke dunia perkuliahan. Ketika SMA palingan pembacaku hanya seputar teman kelas doang dan beberapa kenalan, sedangkan saat kuliah aku sama sekali tidak dapat memprediksi siapa saja yang ditakdirkan untuk ‘nyasar’ ke blog ini. Aku khawatir karena terkadang aku tidak dapat mengontrol tulisanku sendiri. Kekhawatiran yang tidak perlu namun tidak dapat dihilangkan. Greget juga sih. Kayak khawatir Lay didiskriminasi sama kedelapan member EXO karena sering nggak mengikuti jadwal kegiatan grup padahal ya ngapain juga dipikir orang aku nggak pernah update apa-apa soal EXO terkecuali ketika mereka mau comeback doang. #TheWar

Ditambah pula lokasi aku mengetik persis berada di samping tv yang menampilkan tontonan si bungsu padahal aku membutuhkan ketenangan. Bagi kalian yang masih merupakan penulis pemula (sepertiku) dan membutuhkan ketenangan berpikir, pasti pernah merasakan kondisi di mana kamu udah duduk di hadapan layar laptop yang menyala tapi tidak bisa merangkai satu kalimat sederhana atau membuat paragraf baru yang masih berkorelasi dengan paragraf sebelumnya.

Dan menyelesaikan ini membutuhkan waktu tiga hari, iyes, selama itu.

Hasilnya juga nggak panjang-panjang amat T.T

Epilog kali ini ternyata diisi oleh curhatan mendadak yha (padahal pembahasannya lagi lumayan bener wkwk).

Yasudah, ndak papa.

Regards,

shofwamn.
Dua semester menyandang status sebagai mahasiswi psikologi sedikit banyak memberiku insight kalau semua manusia itu sama, bukan mentang mentang si A anak FK terus dia langsung tau simtom-simtom segala penyakit di dunia, bukan karena Fulan sudah  bertahun tahun jadi anak rantau jadi apatuh homesick, masih jaman? bukan berarti orang yang sedang mempelajari ilmu Psikologi bisa menyelesaikan segala problematika kehidupan mentalnya secara otomatis.

Apalagi cuma untuk urusan cetek, urusan kecil.

Meskipun semua orang sama, namun semua orang tetap berbeda. Kita tidak bisa memberikan justifikasi subjektif yang hanya berujung pada pelabelan terhadap seseorang yang belum tentu benar.

Orang awam cenderung berpendapat bahwa seseorang yang mempelajari ilmu mental cenderung lebih paham mengendalikan emosi dan segala hal tetek bengek hal yang berkaitan dengan mental karena mereka banyak memiliki pengalaman mengurusi mental orang lain. Orang-orang awam yang sering terlupa kalau psikolog aja pasti punya masalah sendiri dibalik senyum ramah mereka saat mendengar cerita orang yang sedang berkonsultasi, apalagi aku yang baru akan memasuki semester tiga.

sek, piye sih iki.

sumber : tumblr

Pagi itu di hari senin tanggal 08 Mei 2017, aku baru bangun, serius, baru banget bangun dari tidur habis shubuh terus lagi ngumpulin nyawa di atas kasur ketika temen kamarku nyeletuk dari balik layar laptop,

"Wa, aku sedih kamu nggak lolos."

"Ha??"

"Aku sedih waktumu nggak jadi produktif."

"Apasih?"

"Kamu nggak lolos BEM wa. Udah liat grup belum e?"

"Belum."

Baru juga bangun tidur, nyawa belum ada yang terkumpul, pikiran masih kecantol di mimpi, terus langsung dapat kabar begituan, mixed feelings, rasanya aneh.

"Memang tidak cocok ternyata. Salahku sudah tergiur untuk mencoba."
 - sebuah kalimat yang langsung muncul di pikiran.

Untungnya di kamar hanya ada kami berdua jadi aku tidak perlu mendengar ucapan belasungkawa lagi karena jika iya, aku tidak yakin bisa bertingkah biasa aja evriting gonna be okay just smile and act like nothing happen.

Temenku yang memberi kabar sesaat setelah mataku terbuka dari tidur pagi nggak perlu tau betapa saat itu aku berusaha biar nggak nangis di depan dia.

Aku bukan orang yang mudah mengeluarkan air mata. Aku nggak pernah nangis ketika nonton film kecuali untuk The Little Thing Called Love yang gue liat waktu SMP tapi cuma berkaca-kaca sih, nggak sampe nangis kejer ngabisin tissue, dan film Harmony. Aku heran sama orang yang nangis ketika nonton drama padahal sepanjang karierku sebagai penikmat drama korea, aku cuma pernah nangis saat nonton menit-menit terakhir episode terakhirnya The Queen Classroom.

Kalau soal nonton, aku susah, malah hampir mustahil untuk mengeluarkan air mata. Sayangnya, aku malah nggak bisa ngontrol air mata ketika aku merasa jadi manusia tidak berguna. Salah satunya ketika aku gagal dalam sebuah seleksi.

Seleksi anggota BEM Fakultas Psikologi 2017.

Hehehe.

Hehe.

He.

Alay 10nan.

Keluar aja gitu air matanya, mau ditahan kayak gimana pun tetep aja keluar, nggak ngerti lagi deh. Mungkin karena tiba-tiba aku merasa sendiri kali ya, memang feeling nggak keterimanya udah ada tapi nggak nyangka bisa sedemikian bikin hati pletak pletak.

muehehehehehe.

Alay 10nan (2)

Sebagai sseseorang yang bukan tipikal anak organisasi, aku mengapresiasi diriku sendiri karena sudah berinisiatif untuk mengisi form calon anggota BEM FPSI. Pikirku, sudah saatnya walk out from comfort zone and trying for learning something new. Sempat bimbang soalnya that was my first time mengisi form calon anggota sebuah organisasi, kebimbangan yang kemudian dipatahkan oleh teman-teman sendiri.

"Ayok daftar yuk, buat coba-coba aja. Siapa tau keterima."

Eh taunya nggak lolos.

Eh dan lagi temen yang membuat kebimbanganku lenyap malah lolos.

Makanya jadi ngerasa sendiri, #ehem.

Ini juga dari tumblr, hehe

Ketika jadi anak asrama, jangan harap memiliki area pribadi yang dapat digunakan ketika kamu sedang ingin sendiri. Nggak bisa asal ngehamburin barang-barang di meja kayak di drama ketika lagi kesal. Nggak bisa sembarangan banting pintu lalu menjatuhkan diri di kasur. Nggak bisa marah marah tanpa ada yang merasa terganggu. Nggak bisa nangis sambil nutupin muka pake bantal tanpa ada yang penasaran. Itulah kenapa dulu aku sering jalan-jalan ke sawah sekitar pondok saat SMP, atau berangkat pagi-pagi buta sesaat setelah shubuh saat SMA.

Berita tidak baik yang kuterima dengan cara dadakan membuatku melakukan salah satu adegan sinetron paling tidak mutu dan paling iyuh sedunia.

/masuk kamar mandi untuk kemudian menangis dengan backsound air yang mengalir agar tidak ketahuan/

Aku melakukan itu. Nangis di kamar mandi. Sumpah. Nggak elegan banget.

Dan untuk menutupi mata sembab bekas air mata, aku memutuskan untuk sekalian mandi lalu keramas biar bisa ngomong, "tadi mataku kemasukan shampoo," kalau ada yang nanya kenapa mataku merah.

Aku tidak menyangka aku akan melakukan hal tersebut.

Nangis cuma gara-gara nggak lolos BEM.

Sekarang aku bisa ketawa, meski pas nulis ini rasanya sedikit malu. Bisa-bisanya jadi lemah banget-__-. Namun saat itu, ketika aku jongkok di depan ember sambil ngeliatin air yang mengalir, nggak tau kenapa hatiku sesak (ini gak ada kata lain apa-__-) (mendadak pengetahuan akan perbendaharaan kata menjadi terbatas T.T), sambil bertanya pada diri sendiri, "untuk sebuah pengalaman pertama, kenapa hasilnya harus begini?"

WKWKWKWKWK.

Gils. Melankolis syekali~~

Parahnya lagi, kemelankolisan seorang shofwa tidak berhenti sampai di kamar mandi doang, kegagalan pagi itu membawaku ke dua hal yang tidak pernah kulakukan sebelumya.

Pertama, mengajak kak Muna nyari makan bareng.

Sembilan bulan tinggal satu asrama dengan kakak sendiri tidak otomatis membuat kami sering jalan berdua. Frekuensi kami jalan berdua, literally just two of us, masih bisa dihitung pake satu tangan. Biasanya dia ke kamarku kalau lagi nyari makan, dan aku ke kamar dia untuk minta uang. Selain urusan makanan dan uang, kami sama sekali nggak pernah ketemu terus ngobrol berdua yang palingan hanya akan berujung dengan ghibahin orang.

Sungguh hubungan kakak-adik yang sangat bermutu.

Kejadian langka mengajak kakak sendiri nyari makan di luar dimulai dari sebuah pertanyaan yang terkirim melalui Line.
S : Kaka Muuun. Hari ini agenda lu apa? Puasa nggak?
M : Kuliah jam 1. Nggak.
S : Kelar kuliah jam berapa?
M : Nggak tau. Kenapa?
S : Mau gue ajakin nyari makan di kota wkwk.
M : Jam berapa?
S : Menyesuaikan lu aja sih. Gue mah fleksibel. 
Akhirnya sore itu aku menghabiskan waktu dengan mengunjungi dua tempat makan bersama kak Muna. Nanti dibawah aku bakal cerita tentang bagaimana kami berdua mencari makan di pulau yang tidak memberi banyak pilihan tempat makan wq.

Hal kedua yang belum pernah kulakukan sebelumnya adalah ngechatt official akun BagiKata.

Kalian mungkin nggak terlalu familiar sama OA BagiKata di Line, BagiKata itu semacam wadah di mana katanya kamu dapat menanyakan berbagai hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, atau mencari informasi yang ingin diketahui. Mau cerita doang atau berdiskusi juga boleh. Dari curhatan nggak jelas sampai isu yang sedang hangat. Dari kesedihan karena Samuel nggak lolos 11 besar Produce 101 season 2 sampai perihal saham. BagiKata dapat digunakan 24 jam sehari, cocok lah buat kalian yang pengen chattingan tapi nggak tau mau ngechatt siapa.

Aku udah lama nge-add OA BagiKata tapi belum pernah mencoba untuk mengirim pesan sampai peristiwa kegagalan masuk BEM menimpaku.

S : Benar-benar boleh membicarakan apapun? Meski tidak berfaedah?
B : Halo Shofwa. Silahkan jika kamu ada hal yang ingin ditanyakan, diskusikan, atau curhat :)
S : Curhat deh, gapapa yak? Hehe.
Ini randomthought tadi pagi dan mungkin sedikit unimportant.
Kan banyak quotes yang bilang kalau kita seharusnya nggak usah peduli sama pendapat atau omongan orang lain, mengabaikan omongan orang asing memang lumayan mudah tapi kadang justru ekspektasi dari inner circle kita yang bikin kita tertekan. Seperti ada perasaan tidak nyaman ketika kita tidak bisa memenuhi ekspektasi inner circle kita.
What should we do?eh, i mean, What should I do?
Ketika aku ingin menggapai ekspektasi dari orang orang terdekatku sedangkan realitanya aku sedikit lelah  dengan 'ekspektasi' tersebut yang sebenarnya membuatku keluar dari comfort zone.

Siapa sih yang berekspektasi terhadap dirimu shof. Mikirnya suka berlebihan memang.

source : tumblr lah


Aku nggak bisa membantah kalau lingkungan sedikit banyak dapat mengubah pola pikir. Ada saat di mana kita (atau aku) perlu beradaptasi terhadap prinsip yang tengah digelombangkan oleh ombak-ombak kebaikan. Misalnya gini, aku udah bilang kalau aku bukan tipikal anak organisasi dan sejujurnya aku tidak terlalu berminat menerjunkan diri dalam lingkaran organisasi (cukup lingkaran KPOP yang bikin masa depanku jadi sedikit suram) (cukup lingkaran pertemanan yang menjadi tempatku bersosialisasi dengan orang lain), hanya saja fakta kalau aku sekamar dengan dua anggota DPM dan dua anggota BEM membuat perasaan inferiorku timbul tanpa dapat dicegah.

#TERTIDAKPRODUKTIF3a4MEMBER

"Semua orang itu punya potensi. Kamu tahu nggak apa yang dibutuhkan? Percaya diri."

Perkataan seorang teman yang menyesatkan namun benar .

Kalau prinsip diibaratkan dengan kapal, mungkin kala itu kapalku sedang berlayar dengan menyerahkah arah perjalanan pada ombak dan angin laut, nakhodanya sedang terlelap di dalam sebuah kabin berisi satu buah ranjang dengan tumpukan bantal empuk yang membuat nyenyak. Karena terbuai dengan kenyamanan kasur hingga hampir tidak sadar jika kapalnya sudah terlalu oleng dan terancam untuk karam di tengah laut.

Senin pagiku dimulai dengan perasaan yang berkuasa di atas logika. Makanya bisa sampai ahem nangis. Yang kubutuhkan ketika sudah berada dalam kondisi seperti itu adalah menghabiskan waktu bersama dengan orang yang sering mengedepankan logika. Makanya aku menghubungi kak Muna. Entah karena dia anak Teknik yang kerjaannya ngitung mulu dan sering main logika atau emang udah begitu dari sononya, kak Muna beberapa kali secara implisit menyadarkanku kalau masalah yang aku hadapi itu sebenarnya bukan apa-apa.

Nggak level. Tidak separah yang dibayangkan hingga harus diratapi.

Pengumuman anggota dan peresmian dilaksanakan pada hari yang sama. Kalau pengumuman dikeluarkan saat pagi, peresmiannya dilakukan sore hari.

Alhamdulillah, sorenya aku jadi jalan-jalan untuk jajan makanan bareng kak Muna.

Tapi dia nggak tau kalau yang melatarbelakangi ajakanku untuk nyari makan di kota adalah kesedihan tidak berguna akibat kegagalan kecil karena tidak menjadi bagian dari BEM Fakultas Psikologi. Aku juga nggak bilang ke dia soalnya buat apa juga, terkadang aku lebih butuh kehadiran daripada didengarkan.

"Mau makan di mana nih?"

"Terserah."

Aku lebih memercayakan urusan tempat makan di tangan kak Muna. Kenapa? Karena biasanya dia akan membawaku ke tempat yang belum pernah kujamah. Kami berdua memang sama-sama suka kulineran dengan kelas yang berbeda. Dia cenderung fokus explore ke tempat makan yang belum pernah dia coba sedangkan aku ya mana-mana boleh lah yang penting makan (dan rasanya enak) (dan kalau bisa harganya murah)

"Lu kaga ada ekspektasi mau makan di mana gitu?"

"Nggak ada."

Meski begitu, aku ngerasa kak Muna tidak mengeyampingkan pendapatku soalnya dia nanya mulu, "udah makan ini belum?" "udah pernah nyoba itu belum?" "udah pernah ke tempat X belum?" "lu lagi pengen makan makanan yang kayak gimana?"

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah... Cafe Logic? Sumpeh aku lupa itu nama cafenya apa.

dua delapan rebu untuk dua gelas

Di sudut cafe dengan ketiadaan suara bising selain denting gelas yang beradu dengan sendok, banyak obrolan yang terbentuk di antara kami berdua. Tentang ketidaksukaan dia akan kopi, keinginan dia memiliki sesuatu, permasalahan yang terjadi di asrama, sampai peraturan baru yang sempat jadi trending topic di grup whatsapp HIMARA Akhwat.

Kak Muna itu tipe manusia yang dingin banget kalau di sosial maya alias penganut hukum R(ead) doang tapi kalau ketemu in real life, dia jauh lebih banyak bicara daripada aku.

Hanya minum segelas kopi di sore hari tuh jelas nggak bikin lambung puas, jadi aku nggak punya alasan menolak tawaran dia untuk nyari makan malam.

"Lu yang bayar kopinya ya."

"Oke."

Sebagai pihak yang mengajak, aku sadar diri kali. Mengajak kak Muna nyari makan di luar sama dengan bersiap dengan kemungkinan mentraktir dia. Ndak sih usah pelit pelit sama saudara sendiri, sekaligus sebagai ucapan terimakasih karena dia telah meluangkan waktu untuk menemani adiknya ini.

Selain penganut hukum R(ead) doang, kak Muna juga merupakan manusia yang tidak terlalu suka makan nasi dan bukanlah budak mie instant. Setiap ke kamarku, dia selalu nyari makanan ringan. Nggak heran kalau pilihan menu makan malam yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makanan yang terdiri dari satu kata dengan lima huruf.

PIZZA.

Kecil ya? Tapi kami berdua hampir nggak bisa ngabisin:')

Kami makan pizza di Amazy. Kali ini dia yang bayar, haha. Padahal harga dua gelas kopi jauh lebih murah daripada seloyang pizza. Sewaktu menunggu pesanan datang, tiba-tiba obrolan kami malah berputar tentang nikah.

Iya. Nikah.

Seorang Nurul Muna Annazhifah ngomongin nikah.

Gue ngajak kak Muna jalan bareng aja sudah merupakan sesuatu yang langka, apalagi ketika orang yang tidak peduli terhadap menye menye things dan sering meng-iuh-kan curcolan gue itu malah membahas soal nikah.

Kejadian langka berdampingan dengan pembicaraan langka.

Pemikiran kak Muna tentang nikah cukuplah jadi rahasia antara kami berdua^^

Jadi, obat patah hatinya apa?

Makan. Kulineran. Dengan Seseorang.

Sebenarnya bukan patah hati, bagaimanalah mau patah jika jatuh saja tidak pernah. Lebih tepatnya aku sempat terlena akan kesibukan semu hingga tanpa sadar sudah tidak berpijak pada bumi.

Saat sadar, malah jatuh.

Terus patah.

Berarti memang patah ya, wkwk.

Apanya yang patah?

Nggak tau.

Hatinya mungkin? Atau sayap?

#ZuperrLabilque


Salam hangat dingin dari aku.
shofwamn
Sekitar dua hari yang lalu aku sedang nge-scroll percakapanku dengan seseorang di salah satu platform penyedia layanan chatt online.

Eh, bentar deh.

Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah sering menggunakan istilah-istilah asing dalam kehidupan sehari-hari makanya malah ngerasa aneh dan nggak cocok kalau mengubah istilah asing (yang sering dipakai) ke dalam bahasa indonesia.

Contohnya, ya, yang baru saja aku tulis di kalimat pembuka postingan ini.

Scroll. Scrolling.

Biasa kan ya kalau di grup online kita nanya sesuatu yang dirasa kurang jelas terus biasanya pada bilang, "scroll ke atas coba" yang artinya kita disuruh ngelihat chatt-chatt sebelumnya yang jauuuh (atau dekat) (sama ajalah) berada di atas alias chatt-chatt terdahulu.

Padahal scroll bukan bahasa Indonesia tapi udah kayak bahasa Indonesia.

Scroll = gulir

gu.lir v, ber.gulir ; menggelincir;menggeluncur

Scroll ke atas = gulir ke atas.

Menggelincir ke atas (?)

Kalau diterjemahin emang sih rada nyambung cuma pasti banyak yang ngerasa baku banget, sedangkan kalau nggak diterjemahin pada ngerti apa maknanya.

Aneh ya. Orang Indonesia.

OH!

Baru aja aku nyari di google,

Terus ternyata, scroll up itu termasuk kata yang ada di urban dictionary.

/tibatiba malu/

Harusnya aku nggak perlu membahas bahasa ya, haha. Ketahuan masih rendah ilmunya.

Kembali ke pembahasan awal, kemarin aku nge-scroll (or scrolling?) percakapanku dengan seorang teman terus aku tertegun di salah satu pertanyaan yang dia kirimkan.

"Prihatin doang? Kontribusinya apa?"

Deg.

Itu 'deg' nya barusan aja. Sepersekian detik setelah aku membaca pertanyaan di atas ketika sedang asyik nostalgia.

Mbahe nostalgia, bilang aja lagi gabut dan malas ngapa-ngapain. Cih. Tukang ngeles.

Saat itu kami sedang tidak membahas sesuatu yang penting atau sesuatu yang berat, hanya obrolan tidak jelas tentang satu fakta unik ibu ibu indonesia yang naik motor.

Begitu membaca pertanyaan itu, aku langsung nutup ruang obrolan kami lalu menimbang nimbang sesuatu.

"Bagus nih jadi judul tulisan di blog."

H3h3h3.

Kemudian aku mikir, kira-kira aku perlu membahas apa untuk menyinkronkan antara isi dengan judul. Lama sih mikirnya, membayangkan isi tulisannya gitu tapi gak mikir berat yang sampe bikin pusing (dan flu, demam, serta sakit gigi) segala sih 8D

Bayangan tentang isi postingan baru masih samar-samar tidak jelas dan penuh dengan kegundahan yang tak perlu ketika aku mendengar obrolan anak kamar.

"Besok ada kuliah umum kan. Bapak Ignasius Jonan."

"Iya. Jam 2 kan? Di pengumuman yang kesebar katanya gitu."

Percakapan anak kamar ba'da maghrib memberikan secercah penerangan untuk shofwa.

"Judul ini disimpen dulu buat kunjungan bapak menteri."

Biasanya kalau ada tamu penting datang bakal banyak quotes-quotes bertebaran dan cerita inspiratif, siapa tau bisa ku ceritakan ulang di sini.




Sayangnya aku nggak bisa ikut kuliah umumnya:((

Sedih-sedih kzl piye ngono.

Menjadi orang sibuk bukanlah prioritasnya shofwa, bukan prioritas namun malah jadi santapan sehari-hari. Aku lebih suka mengganti istilah 'sibuk' menjadi 'produktif.' Orang produktif tau bagaimana dia bisa mengefektifkan waktu 24 jam dalam sehari, bagaimana mengatur agenda yang tumpang tindih dan saling bertabrakan, bagaimana mengubah stimulus kecil menjadi respon yang besar.

Itulah pengertian produktif menurut shofwa, kalau orang sibuk mah, estafet nonton drama juga bisa dikata sibuk.

Sejujurnya, draft di atas sudah ditinggalkan selama dua pekan. Ditinggalkan karena penulis belum sempat membuka dashboard blogger lagi, karena penulis sempat bermasalah dengan 363 (angka sakral yang menghubungkan individu dengan paket internet), karena penulis sedang terbuai oleh banyaknya wajah tjakep yang bertebaran di Produce 101 Season 2.

Yang terakhir yang paling penting. Dan juga paling tidak berguna. Namun itulah simbol kebahagiaan sederhana yang hqqi.

Karena sempat ditinggalkan membuat sedikit ketidaksesuaian akan waktu.

Anggap saja aku menulis prolog postingan ini di hari pertama, lalu pergi sebentar menyapa dunia nyata, lalu kembali lagi di hari ke dua belas.

Jangan dianggap deng, memang faktanya begitu.

Makanya kunjungan Bapak Ignasius Jonan sudah jadi cerita lama, pun tentang kisah debat antara dua pasang calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Fakultas Psikologi. Karena baru tiga hari lalu BEM FPSI telah diresmikan:')

Cerita lama tidak akan jadi cerita jika tidak diceritakan bukan?

Jum’at, 28 April 2017, hari terakhir perkuliahan dengan satu jadwal. Mata kuliah yang dosennya tegas namun baik hati (ini sebenarnya mau mendeskripsikan mbak dosen dengan panjang lebar, namun ndak jadi, takut dibaca sama si mbak dosen) (lah pede). Kunjungan bapak Menteri yang hendak memberi kuliah umum menyebabkan Kelas Psikologi Kepribadian II yang seharusnya mulai jam 14.40 dimajukan jadi jam 10.00 dan membuatku bersyukur soalnya selama dua pekan sebelumnya, psikokep II jamkos dan hal tersebut membuat jadwal presentasiku keundur mulu.

Punya jadwal presentasi yang tidak jelas tuh nggak enak. Berasa diberi ketidakpastian sama sesuatu yang tidak pasti juga.

Kuliah umumnya bapak Ignasius Jonan kata jadwal bakal dimulai jam 14.30 meanwhile on the other side pada hari yang sama fakultas psikologi mengadakan debat paslon calon ketua dan wakil ketua BEM di jam 14.00

Keinginan ku? Menghadiri keduanya.

Pengennya setengah-setengah gitu, gapapa nggak ikut dari awal sampai akhir acara asal bisa menghadiri keduanya tapi kan hello, this is indonesia man! negara di mana on time itu adalah sesuatu yang hampir fana. Bikin bingung mana yang perlu didahulukan. Angka 14.30 dan 14.00 bisa berubah menyesuaikan keadaan dan realita.

Keputusan akhir?

P : “Shof, kamu kalau ikut kuliah umum ntar direkam ya biar bisa kudengerin.”
S : “Kalau gitu ntar kamu rekamin debatnya biar aku bisa denger juga.”

Keputusan final yang terbentuk di sela-sela kunyahan mie goreng telur. Setelah kelas psikokep II selesai aku emang nyari makan bareng temen-temen.

Habis makan siang dengan menu yang enak namun tidak sehat, aku langsung balik ke asrama bareng Ahda yang selama perjalanan pulang membombardirku dengan pertanyaan pertanyaan yang memerlukan dalil Islam agar terjawab dengan benar.

Tiba di asrama aku dapet info kalau pak menteri baru datang jam 15.00

Ealah. Kutukupret. Enak ya jadi menteri. Acara mulai ketika menteri datang, tidak akan mulai sebelum iring-iringan mobil muncul.

Enaknya dikit, makan atinya banyak.

Sesaat setelah aku dapet info begitu, aku langsung ngontak temenku yang masih di kampus, minta dijemput karena aku memutuskan untuk liat debat dulu.

Keputusan 1/2-1/2 (setengah datang-setengah pergi) bukan keputusan yang sebaiknya kalian ambil jika kalian tidak bisa berkomitmen atas keputusan itu(?)

Sek, aku confused, sek mikir dulu.

To the point aja ya, kayaknya akhir-akhir ini aku kalau nulis suka mbleber kemana-mana. Ndak fokus.

Jadi di jumat 28 april (malah diulang lagi-_-'') keputusanku untuk 1/2-1/2 tidak berjalan karena ketika ingin pergi di pertengahan debat, aku nggak tau harus ke asrama pakai apa. Jarak dari asrama ke fakultas psikologi sebenarnya nggak jauh-jauh amat, sekitar 1.3 kilometer, 5 menit naik motor, dan 3000-an langkah kaki #cmiiw

Tapi jalan kaki di siang menjelang sore dan sendiri tuh kayaknya gak enak banget. Makanya aku nonton aja tuh debat sampai selesai. Urusan kuliah umum, aku udah minta salah satu temen kamar buat ngerekamin isi kuliahnya pak Ignasius Jonan.

Itu tuh debat pertama yang kuhadiri secara langsung dan tentu saja aku belum bisa memberi penilaian, apakah debat tersebut bagus atau tidak. Namun sepanjang pengetahuan sebagai pengamat amatir, debatnya berjalan dengan tidak terlalu panas dan nggak terlalu bikin greget.


 B aja.




Ketika sedang berjalan untuk balik ke asrama, papasan sama iring-iringan menteri.

Yah minimal menatap mobil menteri menjauh meski tidak melihat rupa beliau.

Sumpah ini udah melenceng jauh banget. Izinkan aku melencengkan lebih jauh lagi dari judul postingan, bentar lagi kok.

Dari rekaman berdurasi 50 menit 11 detik yang direkam oleh teman kamarku yang baik hati nan mulia akhlaknya, ada beberapa quotes yang dapat ditulis.

Kutipan bermakna adalah main point yang dicari dalam setiap kunjungan menteri. Siapa tau bisa dijadiin caption instgram, siapa tau bisa buat pencitraan agar terlihat bijak, siapa tau bisa buat selfreminder, siapa tau bisa jadi bahan untuk pedekate #sip

"Orang sekolah itu karena tidak bisa belajar sendiri, kalau merasa bisa, pergi aja semua."

Aku menyimpulkan bahwa bapak Ignasius Jonan ni kayaknya anak pinter deh, nggak pernah belajar tapi dapet nilai tinggi mulu. Beliau juga bercerita based on experience, not theory.

"Jangan sekolah karena terpaksa, jangan sekolah karena malu sama teman, jangan sekolah kalau diminta orang tua, sekolah itu passionnya harus ada sendiri."

Oh ya, kalian tau nggak sih pak Ignasius Jonan tuh siapa?

"Hidup itu harus realistis. Apapun juga. Harus efisien."
Nah ini.

Aku suka dengan ceritanya pak Ignasius yang meski kadang melompat-lompat dari membahas A ke J ke S ke A lagi tapi beliau bicara memang berdasarkan fakta, tanpa kalimat-kalimat manis bermotivasi (yaiyalah, ini kuliah umum atau training motivasi?) atau kalimat berbumbu janji tak pasti.

Oke. Kisah tentang pak Ignasius selesai sampai di sini.





Mari kita fokus kembali ke judul postingan.

Prihatin doang? Kontribusinya apa?

Emang kalimat sederhana yang kalau dibaca sambil mikir ya cukup mengena.

Pri.ha.tin bersedih hati, was was, bimbang.

Kon.tri.bu.si jasa, partisipasi, peran, sokongan.

Kalau mau jujur, aku masih belum tahu mau nulis apa. Agak-agak males gitu kalau nulis tentang kontribusi yang telah kita (dalam kasus ini, mahasiswa) berikan ke masyarakat, pun tidak ingin membahas rasa prihatin yang lebih sering mendominasi.

Karena aku ndak suka menggurui, aku masih berupaya agar orientasi tulisan di blog ini tidak menggurui.

Ketika membaca ulang pertanyaan itu,

Ketika shofwa membaca pertanyaan itu,

Ketika itu.....

Seperti langsung diputarkan slide-slide kehidupan beberapa bulan terakhir ketika sudah resmi tidak menyandang gelar sebagai seorang siswa lagi. Yang nyatanya lebih banyak menonjolkan sifat pasif dan anti sosial.

Kemudian diputar pula slide-slide kehidupan yang lebih lama lagi ketika masih berpakaian putih abu-abu, (pasifnya sama, ansosnya sama) namun feel nya berbeda.

Tentu saja! Siswa bukanlah mahasiswa.

Mahasiswa. Maha-nya para siswa.

Kenapa tidak ada perubahan? Kenapa tidak ada yang berubah?

Rasanya, shofwa yang sekarang nyalinya lebih ciut daripada yang dulu. Dan juga lebih apatis.

Saat masih berpakaian biru putih atau putih abu abu, tidak ada yang peduli apakah kamu fokus pada studi atau fokus pada organisasi. Kamu bisa memilih keduanya atau hanya salah satu.

(malah bahas organisasi:'))

Gue ngetik sambil dengerin Try-nya Tyler Ward. Maklumi kalau malah jadi rada melankolis, muehehe.

Maksudnya gini, kadang kita, eh aku, hanya memberi respon terhadap suatu peristiwa dengan biasa saja.

"Daerah X terkena banjir, sejumlah penduduk tewas."

"Semakin menjadi, kelompok Z menembakkan bom gas yang menyebabkan kematian massal."

"Aksi P terjadi karena si fulan dianggap menistakan agama."

"Peduli daerah H. Galang dana untuk daerah tersebut."

"Telah menjadi kebiasaan. Ujian menjadi ajang menyontek."

"Banyaknya budaya yang berkumpul menyebabkan gap antara satu sama lain."

Hft.

Sesungguhnya shofwa tidak tahu sedang menulis apa---

Malu mengakui bahwa belum memberikan kontribusi secara 'layak' dari shofwa sehingga hendak ngomong membahas kontribusi juga udah keder duluan.

Di salah satu percakapan via telepon, ummi bilang, "ya gitu mbak, sekarang masyarakat lebih respek dengan orang-orang yang kontribusinya langsung terihat. Yang lantang membela, bukan yang tersembunyi di balik layar. Memang mungkin yang punya nyali yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini."

Kurang lebih begitu kata ummi, percakapannya udah lama jadi aku ndak ingat detailnya.

Seorang mahasiswa itu dikenal sebagai individu yang berpikir kritis dan tidak takut menyeruakan pendapatnya. Aku akui kekuatan mahasiswa tuh besar banget.

Secara nggak langsung, aku telah menjadi bagian dari 'kekuatan' tersebut.



STOP!

Aku belum mau membahas tentang mahasiswa dan kekuatan yang dimilikinya.

Simpelnya gini, kebanyakan orang itu lebih sering memperlihatkan rasa prihatin lalu do nothing.

Salah?

Belum tentu:)

Terserah mereka dong, mau prihatin kek, kasihan kek, bodo amat kek, whatever.

Tentu saja aku mengapresiasi orang-orang yang memiliki keprihatinan terhadap suatu peristiwa tertentu karena banyak kontribusi yang terjadi akibat munculnya rasa prihatin di awal. Jadi di postingan ini aku akan mengabaikan orang  yang sama sekali tidak memberi respon sesederhana 'keprihatinan' pun tidak pula memberi 'kontribusi.'


Frasa 'do nothing' yang aku tulis sebelumnya secara harfiah tidak berarti benar-benar 'tidak melakukan apapun.' Masukkan saja orang-orang kekurangan inisatif dalam kelompok yang 'do nothing.'

Sekelompok orang yang sebenarnya membantu namun karena bantuannya invisible makanya terkesan do nothing.

Alamaaaaaak.

Judul postingan ini dapat menyebabkan pembahasan yang berbobot.

Sayangnya, aku dalam kondisi belum mampu membuat tulisan yang berbobot :'))

Sekian ya kalau begitu, hehe

 *kabur*

yang sedang butuh pengubahan konten
shofwamn.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes