Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller
Sekitar dua hari yang lalu aku sedang nge-scroll percakapanku dengan seseorang di salah satu platform penyedia layanan chatt online.

Eh, bentar deh.

Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah sering menggunakan istilah-istilah asing dalam kehidupan sehari-hari makanya malah ngerasa aneh dan nggak cocok kalau mengubah istilah asing (yang sering dipakai) ke dalam bahasa indonesia.

Contohnya, ya, yang baru saja aku tulis di kalimat pembuka postingan ini.

Scroll. Scrolling.

Biasa kan ya kalau di grup online kita nanya sesuatu yang dirasa kurang jelas terus biasanya pada bilang, "scroll ke atas coba" yang artinya kita disuruh ngelihat chatt-chatt sebelumnya yang jauuuh (atau dekat) (sama ajalah) berada di atas alias chatt-chatt terdahulu.

Padahal scroll bukan bahasa Indonesia tapi udah kayak bahasa Indonesia.

Scroll = gulir

gu.lir v, ber.gulir ; menggelincir;menggeluncur

Scroll ke atas = gulir ke atas.

Menggelincir ke atas (?)

Kalau diterjemahin emang sih rada nyambung cuma pasti banyak yang ngerasa baku banget, sedangkan kalau nggak diterjemahin pada ngerti apa maknanya.

Aneh ya. Orang Indonesia.

OH!

Baru aja aku nyari di google,

Terus ternyata, scroll up itu termasuk kata yang ada di urban dictionary.

/tibatiba malu/

Harusnya aku nggak perlu membahas bahasa ya, haha. Ketahuan masih rendah ilmunya.

Kembali ke pembahasan awal, kemarin aku nge-scroll (or scrolling?) percakapanku dengan seorang teman terus aku tertegun di salah satu pertanyaan yang dia kirimkan.

"Prihatin doang? Kontribusinya apa?"

Deg.

Itu 'deg' nya barusan aja. Sepersekian detik setelah aku membaca pertanyaan di atas ketika sedang asyik nostalgia.

Mbahe nostalgia, bilang aja lagi gabut dan malas ngapa-ngapain. Cih. Tukang ngeles.

Saat itu kami sedang tidak membahas sesuatu yang penting atau sesuatu yang berat, hanya obrolan tidak jelas tentang satu fakta unik ibu ibu indonesia yang naik motor.

Begitu membaca pertanyaan itu, aku langsung nutup ruang obrolan kami lalu menimbang nimbang sesuatu.

"Bagus nih jadi judul tulisan di blog."

H3h3h3.

Kemudian aku mikir, kira-kira aku perlu membahas apa untuk menyinkronkan antara isi dengan judul. Lama sih mikirnya, membayangkan isi tulisannya gitu tapi gak mikir berat yang sampe bikin pusing (dan flu, demam, serta sakit gigi) segala sih 8D

Bayangan tentang isi postingan baru masih samar-samar tidak jelas dan penuh dengan kegundahan yang tak perlu ketika aku mendengar obrolan anak kamar.

"Besok ada kuliah umum kan. Bapak Ignasius Jonan."

"Iya. Jam 2 kan? Di pengumuman yang kesebar katanya gitu."

Percakapan anak kamar ba'da maghrib memberikan secercah penerangan untuk shofwa.

"Judul ini disimpen dulu buat kunjungan bapak menteri."

Biasanya kalau ada tamu penting datang bakal banyak quotes-quotes bertebaran dan cerita inspiratif, siapa tau bisa ku ceritakan ulang di sini.




Sayangnya aku nggak bisa ikut kuliah umumnya:((

Sedih-sedih kzl piye ngono.

Menjadi orang sibuk bukanlah prioritasnya shofwa, bukan prioritas namun malah jadi santapan sehari-hari. Aku lebih suka mengganti istilah 'sibuk' menjadi 'produktif.' Orang produktif tau bagaimana dia bisa mengefektifkan waktu 24 jam dalam sehari, bagaimana mengatur agenda yang tumpang tindih dan saling bertabrakan, bagaimana mengubah stimulus kecil menjadi respon yang besar.

Itulah pengertian produktif menurut shofwa, kalau orang sibuk mah, estafet nonton drama juga bisa dikata sibuk.

Sejujurnya, draft di atas sudah ditinggalkan selama dua pekan. Ditinggalkan karena penulis belum sempat membuka dashboard blogger lagi, karena penulis sempat bermasalah dengan 363 (angka sakral yang menghubungkan individu dengan paket internet), karena penulis sedang terbuai oleh banyaknya wajah tjakep yang bertebaran di Produce 101 Season 2.

Yang terakhir yang paling penting. Dan juga paling tidak berguna. Namun itulah simbol kebahagiaan sederhana yang hqqi.

Karena sempat ditinggalkan membuat sedikit ketidaksesuaian akan waktu.

Anggap saja aku menulis prolog postingan ini di hari pertama, lalu pergi sebentar menyapa dunia nyata, lalu kembali lagi di hari ke dua belas.

Jangan dianggap deng, memang faktanya begitu.

Makanya kunjungan Bapak Ignasius Jonan sudah jadi cerita lama, pun tentang kisah debat antara dua pasang calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Fakultas Psikologi. Karena baru tiga hari lalu BEM FPSI telah diresmikan:')

Cerita lama tidak akan jadi cerita jika tidak diceritakan bukan?

Jum’at, 28 April 2017, hari terakhir perkuliahan dengan satu jadwal. Mata kuliah yang dosennya tegas namun baik hati (ini sebenarnya mau mendeskripsikan mbak dosen dengan panjang lebar, namun ndak jadi, takut dibaca sama si mbak dosen) (lah pede). Kunjungan bapak Menteri yang hendak memberi kuliah umum menyebabkan Kelas Psikologi Kepribadian II yang seharusnya mulai jam 14.40 dimajukan jadi jam 10.00 dan membuatku bersyukur soalnya selama dua pekan sebelumnya, psikokep II jamkos dan hal tersebut membuat jadwal presentasiku keundur mulu.

Punya jadwal presentasi yang tidak jelas tuh nggak enak. Berasa diberi ketidakpastian sama sesuatu yang tidak pasti juga.

Kuliah umumnya bapak Ignasius Jonan kata jadwal bakal dimulai jam 14.30 meanwhile on the other side pada hari yang sama fakultas psikologi mengadakan debat paslon calon ketua dan wakil ketua BEM di jam 14.00

Keinginan ku? Menghadiri keduanya.

Pengennya setengah-setengah gitu, gapapa nggak ikut dari awal sampai akhir acara asal bisa menghadiri keduanya tapi kan hello, this is indonesia man! negara di mana on time itu adalah sesuatu yang hampir fana. Bikin bingung mana yang perlu didahulukan. Angka 14.30 dan 14.00 bisa berubah menyesuaikan keadaan dan realita.

Keputusan akhir?

P : “Shof, kamu kalau ikut kuliah umum ntar direkam ya biar bisa kudengerin.”
S : “Kalau gitu ntar kamu rekamin debatnya biar aku bisa denger juga.”

Keputusan final yang terbentuk di sela-sela kunyahan mie goreng telur. Setelah kelas psikokep II selesai aku emang nyari makan bareng temen-temen.

Habis makan siang dengan menu yang enak namun tidak sehat, aku langsung balik ke asrama bareng Ahda yang selama perjalanan pulang membombardirku dengan pertanyaan pertanyaan yang memerlukan dalil Islam agar terjawab dengan benar.

Tiba di asrama aku dapet info kalau pak menteri baru datang jam 15.00

Ealah. Kutukupret. Enak ya jadi menteri. Acara mulai ketika menteri datang, tidak akan mulai sebelum iring-iringan mobil muncul.

Enaknya dikit, makan atinya banyak.

Sesaat setelah aku dapet info begitu, aku langsung ngontak temenku yang masih di kampus, minta dijemput karena aku memutuskan untuk liat debat dulu.

Keputusan 1/2-1/2 (setengah datang-setengah pergi) bukan keputusan yang sebaiknya kalian ambil jika kalian tidak bisa berkomitmen atas keputusan itu(?)

Sek, aku confused, sek mikir dulu.

To the point aja ya, kayaknya akhir-akhir ini aku kalau nulis suka mbleber kemana-mana. Ndak fokus.

Jadi di jumat 28 april (malah diulang lagi-_-'') keputusanku untuk 1/2-1/2 tidak berjalan karena ketika ingin pergi di pertengahan debat, aku nggak tau harus ke asrama pakai apa. Jarak dari asrama ke fakultas psikologi sebenarnya nggak jauh-jauh amat, sekitar 1.3 kilometer, 5 menit naik motor, dan 3000-an langkah kaki #cmiiw

Tapi jalan kaki di siang menjelang sore dan sendiri tuh kayaknya gak enak banget. Makanya aku nonton aja tuh debat sampai selesai. Urusan kuliah umum, aku udah minta salah satu temen kamar buat ngerekamin isi kuliahnya pak Ignasius Jonan.

Itu tuh debat pertama yang kuhadiri secara langsung dan tentu saja aku belum bisa memberi penilaian, apakah debat tersebut bagus atau tidak. Namun sepanjang pengetahuan sebagai pengamat amatir, debatnya berjalan dengan tidak terlalu panas dan nggak terlalu bikin greget.


 B aja.




Ketika sedang berjalan untuk balik ke asrama, papasan sama iring-iringan menteri.

Yah minimal menatap mobil menteri menjauh meski tidak melihat rupa beliau.

Sumpah ini udah melenceng jauh banget. Izinkan aku melencengkan lebih jauh lagi dari judul postingan, bentar lagi kok.

Dari rekaman berdurasi 50 menit 11 detik yang direkam oleh teman kamarku yang baik hati nan mulia akhlaknya, ada beberapa quotes yang dapat ditulis.

Kutipan bermakna adalah main point yang dicari dalam setiap kunjungan menteri. Siapa tau bisa dijadiin caption instgram, siapa tau bisa buat pencitraan agar terlihat bijak, siapa tau bisa buat selfreminder, siapa tau bisa jadi bahan untuk pedekate #sip

"Orang sekolah itu karena tidak bisa belajar sendiri, kalau merasa bisa, pergi aja semua."

Aku menyimpulkan bahwa bapak Ignasius Jonan ni kayaknya anak pinter deh, nggak pernah belajar tapi dapet nilai tinggi mulu. Beliau juga bercerita based on experience, not theory.

"Jangan sekolah karena terpaksa, jangan sekolah karena malu sama teman, jangan sekolah kalau diminta orang tua, sekolah itu passionnya harus ada sendiri."

Oh ya, kalian tau nggak sih pak Ignasius Jonan tuh siapa?

"Hidup itu harus realistis. Apapun juga. Harus efisien."
Nah ini.

Aku suka dengan ceritanya pak Ignasius yang meski kadang melompat-lompat dari membahas A ke J ke S ke A lagi tapi beliau bicara memang berdasarkan fakta, tanpa kalimat-kalimat manis bermotivasi (yaiyalah, ini kuliah umum atau training motivasi?) atau kalimat berbumbu janji tak pasti.

Oke. Kisah tentang pak Ignasius selesai sampai di sini.





Mari kita fokus kembali ke judul postingan.

Prihatin doang? Kontribusinya apa?

Emang kalimat sederhana yang kalau dibaca sambil mikir ya cukup mengena.

Pri.ha.tin bersedih hati, was was, bimbang.

Kon.tri.bu.si jasa, partisipasi, peran, sokongan.

Kalau mau jujur, aku masih belum tahu mau nulis apa. Agak-agak males gitu kalau nulis tentang kontribusi yang telah kita (dalam kasus ini, mahasiswa) berikan ke masyarakat, pun tidak ingin membahas rasa prihatin yang lebih sering mendominasi.

Karena aku ndak suka menggurui, aku masih berupaya agar orientasi tulisan di blog ini tidak menggurui.

Ketika membaca ulang pertanyaan itu,

Ketika shofwa membaca pertanyaan itu,

Ketika itu.....

Seperti langsung diputarkan slide-slide kehidupan beberapa bulan terakhir ketika sudah resmi tidak menyandang gelar sebagai seorang siswa lagi. Yang nyatanya lebih banyak menonjolkan sifat pasif dan anti sosial.

Kemudian diputar pula slide-slide kehidupan yang lebih lama lagi ketika masih berpakaian putih abu-abu, (pasifnya sama, ansosnya sama) namun feel nya berbeda.

Tentu saja! Siswa bukanlah mahasiswa.

Mahasiswa. Maha-nya para siswa.

Kenapa tidak ada perubahan? Kenapa tidak ada yang berubah?

Rasanya, shofwa yang sekarang nyalinya lebih ciut daripada yang dulu. Dan juga lebih apatis.

Saat masih berpakaian biru putih atau putih abu abu, tidak ada yang peduli apakah kamu fokus pada studi atau fokus pada organisasi. Kamu bisa memilih keduanya atau hanya salah satu.

(malah bahas organisasi:'))

Gue ngetik sambil dengerin Try-nya Tyler Ward. Maklumi kalau malah jadi rada melankolis, muehehe.

Maksudnya gini, kadang kita, eh aku, hanya memberi respon terhadap suatu peristiwa dengan biasa saja.

"Daerah X terkena banjir, sejumlah penduduk tewas."

"Semakin menjadi, kelompok Z menembakkan bom gas yang menyebabkan kematian massal."

"Aksi P terjadi karena si fulan dianggap menistakan agama."

"Peduli daerah H. Galang dana untuk daerah tersebut."

"Telah menjadi kebiasaan. Ujian menjadi ajang menyontek."

"Banyaknya budaya yang berkumpul menyebabkan gap antara satu sama lain."

Hft.

Sesungguhnya shofwa tidak tahu sedang menulis apa---

Malu mengakui bahwa belum memberikan kontribusi secara 'layak' dari shofwa sehingga hendak ngomong membahas kontribusi juga udah keder duluan.

Di salah satu percakapan via telepon, ummi bilang, "ya gitu mbak, sekarang masyarakat lebih respek dengan orang-orang yang kontribusinya langsung terihat. Yang lantang membela, bukan yang tersembunyi di balik layar. Memang mungkin yang punya nyali yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini."

Kurang lebih begitu kata ummi, percakapannya udah lama jadi aku ndak ingat detailnya.

Seorang mahasiswa itu dikenal sebagai individu yang berpikir kritis dan tidak takut menyeruakan pendapatnya. Aku akui kekuatan mahasiswa tuh besar banget.

Secara nggak langsung, aku telah menjadi bagian dari 'kekuatan' tersebut.



STOP!

Aku belum mau membahas tentang mahasiswa dan kekuatan yang dimilikinya.

Simpelnya gini, kebanyakan orang itu lebih sering memperlihatkan rasa prihatin lalu do nothing.

Salah?

Belum tentu:)

Terserah mereka dong, mau prihatin kek, kasihan kek, bodo amat kek, whatever.

Tentu saja aku mengapresiasi orang-orang yang memiliki keprihatinan terhadap suatu peristiwa tertentu karena banyak kontribusi yang terjadi akibat munculnya rasa prihatin di awal. Jadi di postingan ini aku akan mengabaikan orang  yang sama sekali tidak memberi respon sesederhana 'keprihatinan' pun tidak pula memberi 'kontribusi.'


Frasa 'do nothing' yang aku tulis sebelumnya secara harfiah tidak berarti benar-benar 'tidak melakukan apapun.' Masukkan saja orang-orang kekurangan inisatif dalam kelompok yang 'do nothing.'

Sekelompok orang yang sebenarnya membantu namun karena bantuannya invisible makanya terkesan do nothing.

Alamaaaaaak.

Judul postingan ini dapat menyebabkan pembahasan yang berbobot.

Sayangnya, aku dalam kondisi belum mampu membuat tulisan yang berbobot :'))

Sekian ya kalau begitu, hehe

 *kabur*

yang sedang butuh pengubahan konten
shofwamn.
Aku nggak tau harus cerita ini atau nggak.

Cerita aja ya, untuk menetralisir postingan sebelumnya yang... yah... begitu.

Senin, 17 April 2017. KAMMI Sumbawa mengadakan aksi kemanusiaan #SaveSuriah dengan tema "Sumbawa Peduli Suriah."

Di sini aku nggak akan membahas atau memberitahu apa yang sedang terjadi di Suriah sekarang ini, pun tidak menulis tentang update terbaru kondisi Suriah.

Orientasiku berada pada aksi kemanusiaan yang terjadi dua hari lalu.

Aku turut berpartisipasi dalam aksi tersebut juga bisa dikatakan ‘mendadak’ karena pas aku tau kalau bakalan ada aksi, aku memutuskan nggak ikut meski masalah transportasi udah menjadi tanggung jawab panitia.

Alasan? Waktunya tabrakan sama seminar pendidikannya kakak tingkat yang bertema ‘Halalkan atau Tinggalkan.’

Pernah kan ngerasa dilema di antara dua pilihan?
Itu yang kemarin aku alami.

Bukannya tertarik banget sama tema seminarnya, aku mau datang ke seminar tersebut gara-gara aku tau kalau pas seminar nanti bakalan diputar video jawaban orang-orang atas pertanyaan, “menurut kalian, pacaran itu apa?” itu aja sih poin paling utamanya, ditambah dengan fakta bahwa di video itu bakalan ada mentor dan dua anggota mentoringku yang nongol, ekekeke~

Soal keinginan ikut aksi, aku penasaran gimana rasanya mengikuti aksi di sumbawa meanwhile aku nggak ingat aksi apa yang terakhir kudatangi.

Ditengah keputusan melepas keikutsertaan aksi untuk mengikuti seminar, tiba-tiba datang ajakan dari seorang teman (yang bernama Na’iim) untuk ikut aksi dan berangkat menggunakan motornya dia.

Wah, kalau naik motor mah bisa ikut aksi bentar habis itu ikut seminar.

Aku menyambut baik ajakan Na’iim. Sempat ada debat yang terjadi di kamar ketika membahas dresscode yang ditentukan panitia.

“Atasnya merah, tengah putih, bawah hitam, emang nyambung?” kata shofwa sembari mengernyitkan dahi. 
“Yaa di sambung-sambungin aja lah.” 
“Agak aneh tauuu. Emang filosofinya tuh apa sih?” 
“Kamu tu sebelum ngoment harus tau arti dari sebuah warna.” Ujar seorang teman.
“Makanya aku nanya filosofinya apaa? Piye sih.” (dongkol) 
“Merah sama hitam tuh warna duka.” 
“Kalau putih?” 
“Tanda suci.” 
“Oalah.”
Masker+Topi banget???

Rencana awal kan aku sama Na’iim cuma ikut sampai ashar yang artinya cuma ikut jalan dari Masjid Jami - Masjid entahapanamanyapokoknyadidepantamanMangga, setelah sholat mau cuss ke tempat seminar, ternyata ba’da ashar tuh beberapa anggota KAMMI hendak menampilkan sesuatu  drama singkat di depan kantor bupati sekaligus menggalang dana.

“Gimana shof? Jadi balik?” tanya Na’iim.

Mau ku-iya-in cuma aku membaca isyarat bahwa dia pun rada ogah buat balik.

“Ikut acara selanjutnya aja deh.”

Terus ujung-ujungnya kita berdua nggak ikut seminar, haha. Tapi pengorbananku nggak ikut seminar setimpal dengan pengalamanku ikut aksi hingga selesai.

Yang kutangkap dari drama yang ditampilin adalah, bahwa di Suriah banyak suami yang dibunuh oleh orang-orang yang membunuh dan istri dari suami yang terbunuh mengadu pada Allah/?/

thumbs up!

Penjelasan yang tidak membantu sekali.

Kurang lebih seperti itu. Jika masih penasaran, hilangin aja rasa penasaran kalian karena aku juga tidak bisa menjawabnya. Selama drama berlangsung, fokusku malah ada di orang-orang yang sedang memegang kardus di pinggir jalan untuk menggalang dana makanya nggak terlalu memperhatikan jalan cerita.

“Syah, kita nggak megangin kardus?” Tanya Shofwa pada Aisyah yang tengah mengemper di pinggir jalan. 
“Kamu mau?” 
“Mau. Aku gabut, males kalau cuma duduk doang.” 
“Yaudah. Tuh ambil kardus itu terus ikut aku.”

Paling cuma sekitar sepuluh menit aku berdiri di pinggir jalan megang kardus sembari tersenyum (senyum untuk kesopanan) (senyum untuk membalas kebaikan hati pengendara yang telah menaruh lembaran rupiah di kardus) (senyum untuk sebuah pengalaman yang menyenangkan!) soalnya pas aku megang kardus, drama singkatnya udah kelar dan tinggal penyampaian sepatah-dua patah kata tentang aksi kemanusian yang sedang dilaksanakan (atau tentang Suriah ya) (aku tidak mendengarkan waktu itu) lalu penutupan.

Ngomong-ngomong, dalam sepuluh menit yang singkat itu aku udah dibuat kagum sama satu pengendara motor, seorang bapak paruh baya dengan wajah adem yang tertutupi oleh helm.

Jadi, beberapa saat setelah aku berdiri di pinggir jalan, ada seorang bapak  yang berhenti di dekat tempatku berdiri ya bapaknya ku samperin lah soalnya beliau hendak menaruh lembaran rupiah ke dalam kardus yang aku pegang.

Nominalnya nggak tanggung-tanggung. Aku -yang secara tidak sadar melanggar etika karena sempat melihat isi dompet beliau- cuma bisa terkagum dalam hati karena beliau memindahkan lembaran dengan nominal paling besar yang beliau punya di dompet ke dalam kardus. 

"Terimakasih paman."

"Iya."

Itu kebiasaan yang baru terbentuk beberapa bulan terakhir karena orang Sumbawa cenderung memakai kata "paman" daripada "bapak" saat hendak menyapa orang yang tidak dikenal.

Setelah bapaknya pergi, kardusku beberapa kali diisi sama pengendara yang lain. Kan durasiku untuk megang kardus nggak lama, jadi begitu aksi udah ditutup aku bersiap untuk bergabung dengan yang lain. Baru juga mau nyebrang, tiba-tiba ada motor berhenti,

Iya. 

Bener.

Kalau kalian nebak, aku yakin tebakan kalian bener.

Pengendara motor itu si bapake:')

Aku sempat speechless soalnya bapaknya emang make helm yang kacanya rada gelap gitu jadi wajahnya nggak begitu keliatan, tapi aku tau kalau itu bapak yang tadi.

Begitu mengucapkan terimakasih (untuk kedua kalinya) aku langsung bergabung sama kak Icha, Talitha, Naiim, Dini (mereka yang megang tulisan Suriah will be free), dan Aisyah (dia megang kardus juga di sisi yang berlainan dari tempatku berdiri).

Ameen:)

"Eh eh tadi kalian liat bapaknya nggak?"

"Iya, aku liat. Yang barusan naruh uang di kardusmu kan."

"Beneeeer. Udah dua kali."

"Tadi sebelum kamu di situ. Bapaknya juga udah lewat kok, berhenti juga naruh uang di dalam kardus."

"Sumpaaaah? Ya ampun aku terharu."

"Baik banget nggak sih."

Ternyata ada gitu orang yang sebaik itu, mungkin alasan beliau kenapa bolak-balik naruh uang biar beliau nggak langsung naruh uang berlembar-lembar, atau mungkin beliau ngambil uang dulu di rumah, atau biar memberi support ke orang-orang yang megang kardus biar kardusnya tidak kosong, wallahu alam~

Selain bapak yang super baik, ada juga pengendara sepeda (seorang bapak paruh baya lagi, ehe) yang ketika hendak melewatiku, aku sempat melihat beliau meraba-raba saku celana, tebakanku sih beliau pengen nyumbang kalau di saku celana beliau ada duit namun sepertinya nihil jadi beliau melewatiku dengan sikap tak acuh, hehe.

Nggak papa pak, niat baik bapak telah tercatat:) semoga bisa menyumbang di lain waktu. Aamiin.

Waktu udah siap-siap mau pulang, kami berenam (aku, kak Icha, Talitha, Na'iim, Dini, sama Aisyah) masih aja ngomongin bapake pengendara motor.

"Tau gak? Barusan aku liat bapaknya lewat lagi lho." Kata salah satu dari enam orang yang kusebutkan di atas (aku lupa siapa yang ngomong).

Kami cuma bisa tekagum-kagum tanpa tahu identitas si Bapak.

Aksi Kemanusiaan #SaveSuriah "Sumbawa Peduli Suriah" hari itu ditutup dengan kebaikan hati pak polisi yang mau mengantar kami pulang ke Asrama menggunakan mobil polisi, karena aku sama Na'iim perlu mengambil motor di Masjid Jami' jadi kami duduk di depan samping bapak sopir biar turunnya gampang.



"Makasih mas."

Kata Shofwa pada pak sopir yang masih terlihat muda dan sedikit mengingatkan akan seorang sosok kakak tingkat.

Wkwkwk.

byebye!
Kalau hari ini ada yang nanya kabarku, jawabannya bakal, “no, im not fine, everything seems wrong for me even myself too.”

Sayangnya, nggak ada yang nanya.

Jika pun ada, tapi dia bukan dari inner circle ku ya otomatis langsung mengaktifkan persona.

“Alhamdulillah baik:)) hehe. Kamu sendiri?”

Di balik layar mah, shofwa jago nipu. Di balik ketikan berbuah kata, aku bisa membalikkan fakta.

Hari ini kabarku memang tidak baik. Aku bangun dengan keadaan semuanya serba salah. Nanti di akhir postingan mungkin aku bakal menjelaskan kenapa kabarku bersanding dengan kata ‘tidak.’ Bukan agar menghilangkan rasa penasaran kalian, tapi untuk catatan bagi shofwa di masa depan.

source : tumblr


Biar nggak dikata tukang ngobral janji tanpa realisasi, aku mau menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi selama aku nggak memegang hape (dan beberapa peristiwa setelah hapeku balik). Di poin-poin aja ya biar gampang ceritanya, biar gampang juga ditangkep sama kalian. Sebenarnya udah nggak punya tenaga untuk bercerita, apalagi tentang problematika BEM beberapa hari lalu yang sempat menjadi topik hangat di antara mahasiswa psikologi, terlalu berat, harus memilah kata dengan hati-hati agar tidak ada pihak yang salah paham sedangkan saat ini aku hanya ingin cerita ngalor ngidul (lagi).

      1. Kunjungan (mendadak) MENPANRB alias Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara alias bos nya PNS

Tanggal 09 april 2017, para penghuni asrama telah diberitahu beberapa hari sebelumnya kalau bakal ada kunjungan menteri. Ini kali kedua asrama kami didatangi oleh menteri selama statusku sebagai mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa delapan bulan terakhir.

Sebelum bapak menteri datang, mungkin emang protokolnya begitu jadi ajudan menteri udah stay di asrama sejak pagi untuk mengkoordinir persiapan penyambutan, bagian yang bikin kesel adalah  ketika bapak ajudan meminta kami -sebagai penghuni asrama- untuk mengamankan jemuran alias jemurannya diangkat karena tidak enak dipandang dari luar.

AKU MASIH NJEMUR PAAAAAAK. MAU DIBAWA KEMANA BAJU-BAJUKU YANG BELUM KERING??!!!!!




Itu tampilan asrama di hari pertama aku di sumbawa, so memang tidak ada baju yang dijemur karena penghuninya belum pada datang. Tentu saja penampakan jemuran asrama beda banget antara di hari pertama aku datang dengan di hari saat menteri ingin berkunjung.

Demi kemaslahatan ummat dan juga harga diri masyarakat asrama, terpaksa baju-bajuku yang masih setengah kering aku simpan di tempat setrika.

Pak menteri tiba di asrama ba’da ashar sekitar jam empat (if im not mistake) (hpku belum balik saat itu), awalnya aku males banget turun mana aku baru bangun tidur pula eh tapi anak kamarku pada turun semua ditambah iming-imingan dapat snack.

Yowes. Untuk makanan, aku rela turun.

Selama kunjungan yang lumayan singkat itu pak menteri bercerita bagaimana jalan kehidupan beliau hingga bisa menjadi seperti sekarang. Ketika baru lulus kuliah, beliau yang berasal dari keluarga dengan latar belakang pedagang berhasil menjadi salah satu dari sekian kandidat pegawai Bank Indonesia.

“Ya nggak papa kamu kerja di BI. Asal kamu lupain keluarga ini. Bapak nyekolahin kamu bukan untuk jadi pegawai.”

Begitu kata bapaknya pak menteri ketika diberitahu bahwa anaknya berhasil lolos setelah melewati seleksi yang cukup ketat. Bukannya bangga anaknya bisa menjadi karyawan Bank Indonesia, pak menteri malah ‘mau’ dipecat jadi anak. Ckckck.

Akhirnya pak menteri memutuskan balik ke kampung halamannya di Batam untuk melanjutkan usaha kedua orangtuanya, jualan emas. Beliau balik dengan syarat bahwa semua operasional dan urusan yang menyangkut toko emas berada di bawah kendalinya.

“Boleh dong saya nuntut bapak saya, karena beliau juga nuntut saya.”

Di bawah tangan pak menteri, toko emas keluarganya menjadi toko emas nomor satu di Batam dan memiliki banyak cabang yang tersebar di banyak tempat.

Setelah sukses, beliau berpikir bahwa “kalau kaya buat keluarga doang dan nggak buat orang banyak, belum kaya namanya.”

Pikiran tersebut membuat beliau memutuskan terjun ke ranah politik. Mulanya menjadi anggota DPRD Kota Batam, lalu jadi wakil walikota yang kemudian mengundurkan diri sebelum masa jabatannya habis karena hendak melangkah ke Senayan menjadi anggota DPR RI pada 2004, dan sekarang beliau diamanahi sebagai Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara. Kementrian yang membawahi para pegawai negeri sipil -dengan kata lain- beliau adalah bosnya PNS.

Sayangnya,, aku tidak punya foto bapaknya.

      2. Hasutan untuk ikut Dauroh Marhalah 1 KAMMI

Dimulainya hampir sebulan yang lalu apa ya, tiba-tiba Putri getol banget ngajakin aku masuk KAMMI apalagi sekarang lagi dibuka pendaftaran untuk DM1.

“Wa, mbok kamu masuk KAMMI to.” 
“Iya iya terus ntar di opsi alasan kenapa masuk KAMMI kutulis ‘biar bisa ikut ifthor jamai’ gitu ya.”

Kaderisasi KAMMI di sini emang punya program buka bersama setiap senin di maskam (nama aslinya sih masjid Alkahfi) (aku lebih suka pakai sebutan maskam) yang ku incar dari dulu namun belum tergapai.

Namun di lain waktu,

“Nggak usah deng shof, nggak usah masuk KAMMI. Ntar kamu sibuk, ntar waktumu produktif.”

Lah????
Wkwkwkwk
           
Enam tahun yang lalu, aku pernah ngekos sama seorang ammah yang juga anggota KAMMI Ternate which is aku jadi sering ikut acara-acaranya KAMMI bareng si ammah, sering pergi ke markas (aku gak tau sebutannya apa) KAMMI. Kelas tujuh tjoy, lagi dalam masa senang diajak jalan ala-ala anak sibuk. Nah, waktu itu aku emang udah jadi seorang individu yang pendiem dan takut ngomong, tapi ada satu ikhwah (aku manggilnya ami) yang, apa ya istilahnya, berinisiatif membangun percakapan denganku? Sering memberiku pertanyaan yang cukup berbobot? Semacam itu. Sepanjang kekuatan ingatanku, aku sempat beberapa kali berdiskusi dengan ami tersebut dengan bahasan yang lumayan berat (bagi anak kelas tujuh esempe) tapi paling bagi ami-nya itu bahasan yang biasa aja.

And guess what, Ammah yang satu kos denganku dan Ami yang (dulu) sering ngajak aku diskusi baru aja merayakan anniversary mereka yang ke lima beberapa hari yang lalu~ #fyi

Makanya selama melewati masa itu, aku punya sebuah tekad untuk ikut KAMMI ketika kelak aku udah jadi mahasiswa soalnya aku udah jatuh hati dalam sebuah diskusi yang berbobot, bermanfaat, berfaedah, bertidak membuang-buang waktu.

Tapi sekarang, begitu ada kesempatan untuk masuk KAMMI, malah tidak ku tindak lanjuti.

Ada kutipan yang bilang, hidayah itu dicari, bukan ditunggu.

Mungkin sekarang aku sedang fokus pada sesuatu yang lain hingga mengabaikan pencarian hidayah untuk masuk KAMMI.

Haha, bahasaku yatuhan. Berlebihan.

Terus hari ini di gedung Karim menunggu hujan reda, Putri menegaskan sesuatu,


Rintik hujan dan kursi kosong. Kenapa mengingatkanku tentangmu?

“Nggak wa, kamu nggak usah masuk KAMMI. Aku tau kamu bukan tipe anak organisasi.”

Thank you for knowing me.

Mungkin kalau aku nggak pindah ke Jogja saat kelas delapan, aku bakal jadi individu yang berbeda.

Okey, the past is in the past shof.

3. Paketannya Salwa

FINALLYYYYYY WAAAAA,  AFTER .....
120 days!
2880 hours!!
172800 minutes!!!
And 10368000 seconds!!!!

Niat banget itungnya, wkwk.

        Semuanya bermula pada hari 18 di 18. Salwa tiba-tiba nawarin mau ngirimin paket ke Sumbawa, itung-itung sebagai kado ulang tahunku.

Seneng? YAIYALAH.

Bahagia? SO PASTI.

         Langka gitu ada temen yang mau ngirimin paket, huhu. Kesempatan juga sekalian bisa nitip good day coolint (selama di sumbawa aku baru nemu sekali, susah banget nemu padahal itu good day yang paling ku suka).

         Tapi, Salwa ngirim paketnya rada ngaret. Dia mau ngirimin tuh paket ke kantor pos bareng Laras beberapa hari setelah aku ngasih alamat, eh qadratullah, mereka berdua mengalami kecelakaan kecil jadinya gagal tiba di kantor pos. Habis itu, mungkin kardus paketnya teronggok dilupakan mbuh lah aku yo ra paham dan Salwa nggak ngasih kabar hingga berpekan-pekan kemudian, hingga liburan semester berakhir, hingga tahun telah berganti.

         Aku kan orangnya nggak enakan. Ada yang bilang mau ngirimin aku paket aja udah seneng jadi kalau aku meneror salwa dengan pertanyaan ‘kapan paketku sampe?’ adalah suatu bentuk ketidaktahudirian shofwa pada teman yang sudah sangat baik. Makanya aku diem aja, nggak nanya lagi ke Salwa, pengennya mah tiba-tiba paketku udah sampe gitu. Biar ada bumbu-bumbu surprise. Soalnya aku juga suka dikasih surprise.

         Terus beneran surprise deh.                                               

         Senin malam tanggal 10, sepulang dari bermuhasabah diri di masjid Jami aku ketemu sama pak Didi yang bertanggung jawab atas kebutuhan air galon asrama di lobby.

“Selamat malam pak Didiiii~”
“Malam shofwa. Kamu tadi dapet paket tuh, udah dibawa teman ke atas.”
“Oh iya? Makasih atas infonya pak.”

Udah ya. Tiga poin itu aja. Cukup kan.

Sekarang kembali pada pembahasan awal.

Pernah nggak sih lo ngerasain pengen cerita masalah lo kemana-mana, udah diniatin bakal cerita lalu lo sejenak buka salah satu sosial media yang lo punya (misalnya instagram) terus ngeliatin timeline atau stories kemudian lo mendapat hantaman kesadaran

"Ngapa pula aku perlu cerita. Alay banget. Immature."

Karena lo gak terlalu peduli sama stories yang lo liat.

Berarti kemungkinan besar mereka juga gak peduli sama apa yang lo buat (dalam hal ini, tulisan yang sedang kalian baca).

Take and give.

Udah tau begitu, tapi tetep aja lo pengen cerita. Kayak lo tau emang nggak penting, lo tau tulisan lo gak berfaedah tapi lo tetep mau nulis, tetep pengen nulis, tetep mau apdet blog.

Thats what i feel when i write down this draft.

And my story has begun.


source : tumblr dongs:)


Ini hari kedua aku ngerasa 'not fine.'  Ketidak baikan yang bikin aku butuh refreshing namun entah apa. Gejala fisiknya memang udah memberi tanda lebih dulu, makanya kemarin pagi aku bangun dengan kondisi 1. Pusing, 2. Indikasi demam alias keningku rada rada anget, 3. Badan berasa remuk idek why tapi punggung aku ikut berkontribusi dengan minta perhatian lebih dari hari biasa, 4. Pilek aka flu aka a cold aka younameit, dan 5. Sakit gigi😷

Hipotesis pertama kenapa aku bangun dengan kondisi seperti itu 👉 psikis aku underpressured akibat deadline tugas dan sedikit kekacauan yang dibuat anggota kelompok. Tiga hari sebelumnya, tepatnya hari sabtu aku melakukan hal yang tidak biasa, bahwa seorang shofwa yang biasanya slow -menulis semua nama anggota di cover makalah bodo amat mereka ikut berkontibusi ngerjain apa nggak- sampe ngomel seharian gara-gara tiga orang yang kuamanahi tugas sederhana tidak menyelesaikannya dengan baik. Tugas sederhana yang sebenernya bisa ku selesaikan sendiri.

Hipotesis kedua 👉 aku lupa sikat gigi. Wkwk. Hal tersebut membuatku mengalami sakit gigi dan demam secara berbarengan karena biasanya itu sepaket. Kalau aku sakit gigi aku demam, kalau demam biasanya gigi ku sakit. Soal punggung, mungkin karena kasurnya udah makin tipis kali ya, haha.

Di bawah embel embel kata tanggung jawab, aku tetap masuk kuliah di hari itu (padahal hari selasa adalah hari tersibuk dengan tiga mata kuliah dari jam 08.00-17.10) toh aku masih bisa jalan, toh aku masih bisa bergerak, toh aku masih bisa mikir meski sering ndak fokus.

Alhamdulillahnya, mata kuliah terakhir dosennya memutuskan nggak masuk dan hanya mengumpulkan tugas, aku sama Ahda sampai di asrama sekitar jam empat setelah mampir sholat ashar di BI Corner. Putri? Dia ada agenda sendiri jadi kita pulangnya gak bareng.

Begitu sampai kamar, aku tidur (jangan ditiru sodara sodaraaaa) (tidur sore adalah hal yang tidak baik) tapi sebelumnya minum ice choco tumpeh tumpeh dulu sih (jangan ditiru jugaaa) (minum es saat sedang flu hanya dilakukan oleh orang yang keras kepala).

Sejam lebih beberapa puluh menit kemudian.

Sial!

Aku tidur salah posisi. Leher aku kek ogah mau digerakin:(

Kabar baiknya, suhu badan aku udah kembali normal dari yang sebelumnya hangat suam suam kuku.

Aku dibangunin putri ketika sholat jamaah dan al-matsurat udah selesai, ternyata pas aku bangun temen kamarku belum sholat semuaa. Yowes, kami sholat jamaah di aula (bekennya disebut balkon), kelar sholat aku melakukan rutinitas yang sedang dibiasakan lalu ke kamar. Begitu masuk kamar bawaannya pengen tidur soalnya masih puyeng kan kepalanya tapi nggak bisa (dan nggak mau) ditambah ingatan kalau tidur antara maghrib dan isya itu nggak dianjurkan. Bingung mau ngapain jadi berbaring aja, memutuskan tidur habis Isya aja, untungnya di pemikiran aku-kudu-ngapain, Ula nawarin liat vlognya kak Ndup waktu doi ndaki Ciremai.

Vlognya selesai. Waktu isya tiba.

Naaah.

"Nggak mau tau habis isya aku mau langsung tidur."

Manusia memang boleh berencana, dengan rencana yang sempurna, dengan rencana yang dilatarbelakangi perasaan subjektif. Dan tuhan yang mengurus sisanya.

"Uwaaaaa, gimana ini. Belum nambah-nambah."

Baru juga beranjak dari tahiyat akhir, salah satu temen sekamarku ngomong gitu.

"Yaudah kalau nggak bisa nambah, ya murajaah aja."

Terlihat seperti kalimat biasa bukan?

Tapi waktu itu aku ngerasa nada yang kupakai adalah nada jutek yang tidak enak didengar dan memperlihatkan aku lagi nggak mau diganggu serta dalam kondisi bete. Setelah ngomong gitu aku tilawah seperti biasa dengan fokus 'habis ini mau tidur' dan apatis terhadap kalimatnya temen kamarku.

Biar gak pada bingung, temen kamarku yang itu memang secara unofficially mendaulatku sebagai 'tempat setoran hafalan' belum lama ini makanya hampir tiap malam antara ba'da maghrib atau ba'da isya dia nyetor hafalan agar bisa memiliki hafalan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Doakan:)

Eh, waktu tilawahku udah mau selesai, tiba-tiba dia duduk tepat di sampingku. Mau nyetor hafalan.

Yha. Aku masih agak pusing padahal.

"Mau setoran?"

*angguk angguk* "tapi nggak sampe selesai."

"Nggak papa. Dah ayok setor."

Hidup adalah soal memprioritaskan banyak hal, mana yang penting, yang kurang penting, yang tidak penting, yang super tidak penting banget. Hidup juga adalah soal beradaptasi terhadap perubahan mendadak. Ketika temen kamarku duduk disampingku, otomatis prioritasku bergeser, dari "mau langsung tidur" jadi "denger temen setoran."

Gak papa. Pusing dikit masih bisa ditahan. Menolak niat baik sama saja tidak memberi dukungan terhadap satu tekad mulia.

Amazingly, sekitar 15 menit aku denger dia setoran (ditambah murajaah sih) (sama latihan melanjutkan ayat) pusing yang aku rasain malah makin buyar, makin menghilang :')

Makanya aku nggak nyesel nggak menolak niat baik temenku yang mau setoran hafalan.
Ternyata kalau memang ingin menuai pahala di ladang yang telah terhampar, bakal dibantu sama Sang Pemberi Pahala.

Kelar dengerin temenku setoran. Aku langsung balik kamar, nggak bisa tidur karena ada beberapa orang sedang bertamu dan memenuhi kasur. Akhirnya aku nyalain Kai, mau nulis buat blog.

Baru setengah jalan, stuck. Memutuskan untuk melanjutkan esok hari namun secara mendadak Ahda datang ke kamar

"Wa, lagi ngapain? Aku mau cerita."

Akhirnya dengerin ceritanya Ahda dulu yang  baru selesai jam sebelas kurang dikit.

23.01 apdet tumblr di atas kasur

Hari ini cukup. Cobalah untuk bahagia besok
- esha yang siap memejamkan mata

tetap dari tumblr


Gue ngerasa alay banget nulis beginian, tapi gue harus bodo amat.
Gue ngerasa memberi kesan cewek lemah tukang ngeluh, tapi saat ini memang (mungkin) begitu.
Mungkin gue nulis beginian gegara satu dari dua blogger favorit gue akhir-akhir ini nge posting tentang sesuatu yang berhubungan dengan kegundahan akan hidup. Sedangkan blogger favorit gue yang satunya, yang menjadi tumpuan gue dalam hal merahasiakan semua hal buruk yang dialami, lagi kena musibah, nggak sengaja blognya kehapus, blog yang udeh berusia hampir sepuluh tahun. Gue sedih, tapi gue yakin kakaknya lebih sedih.

*waving*
shofwamn
The girl who looks much nicer if you dont get to know about me. And you should.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes