Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller


Kata-kata tidak mengenal waktu, kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya.

Aku terdiam cukup lama sebelum menarikan tanganku di atas keyboard. Mencurahkan apa yang ada di otak bukan perkara mudah, kadang di tengah nulis aku mikir "sebenarnya aku mau nulis tentang apa? buat siapa? untuk apa?" Karena ada beberapa buah pikiran diri sendiri yang orang lain tidak tertarik untuk membacanya.

Dan jawaban dari pertanyaanku hanya satu 

DIRI SENDIRI

Terlihat jawaban yang egois ya? Tapi itu benar adanya, aku menulis tentang aku, saat aku memikirkan teman-teman maka aku menulis tentang mereka. Saat aku berkhayal aku memikirkan banyak peristiwa. Sekarang aku menulis karena aku senang menulis, sesimple itu. Aku senang saat membaca ulang tulisanku yang lalu-lalu, seperti mengingat ulang hal-hal yang telah kulupakan. Tak jarang saat membuka folder lama aku berpikir "wah, ternyata aku yang dulu penuh dengan imajinasi," sambil bertanya kenapa sekarang imajinasi yang pernah ada seperti tidak muncul lagi. Saat di satu waktu aku malas, maka aku berpikir "Hei, jangan malas! Jika kamu tidak mencurahkan kenangan hari ini di atas putih. Kamu akan melupakannya dan kamu membiarkan penyesalan datang."

Mencatat kenangan itu penting, kamu nggak bisa mengandalkan otak untuk mengingat segala peristiwa yang kamu lalui. Kalau kamu hanya mengandalkan otak, bagaimana ia bisa menyimpan pikiran tidak penting seperti "Hari ini hujan," "Tadi ulangan pelajaran blabla," "Ketemu sama---"


Untuk saat ini aku memiliki empat file MWord khusus untuk cerita yang isinya random dan kebanyakan gaje. Tiga di antara empat file itu merupakan surat yang nggak akan pernah sampai. 

(Tiba-tiba kakak ku baca ini)
(Kemudian dia nanya Letter for sista itu buat dia atau nggak)
(BOM!)
(Langsung terdiam sambil nyoba bohong)

Sedangkan file Diary, hmm, nggak usahlah aku jelasin juga udah jelas kan. Sebenernya aku bukan tipe orang yang suka punya Diary. Mungkin nama filenya perlu kuubah, geli juga kalau namanya Diary.

Ngomong-ngomong soal Diary, aku ingat Diary (dalam bentuk buku) pertamaku tuh cuma buku biasa yang sampulnya Meriposa. Tapi aku berusaha untuk tidak mengingat apa yang ada dalam si Meriposa, karena aku tahu kalau isinya bakal bikin aku ilfeel dan rasanya pengen belajar bagaimana-cara-agar-amnesia. Apa sih yang bisa diharapkan dari Diary anak ingusan berseragam biru yang baru saja merantau ke pulau seberang?

Bukan kangen rumah, bukan.

Dan karena si Meriposa yang isinya begitu memalukan, aku jadi lebih sering nulis hingga sekarang walaupun isi tulisanku gitu-gitu mulu, nggak berbobot, aneh, nggak berkualitas, nggak ada ilmu yang bisa diambil.

Aku yakin kok, (mudah-mudahan) aku berada di jalan yang benar. Memang aku sedang berada dalam fase menulis untuk kesenangan pribadi, mungkin aku perlu menaiki beberapa tingkat lagi sebelum sampai di fase menulis untuk kesenangan sesama #maksudnyaapa . Aku belum tau apakah aku bakal jadi penulis, i mean, apakah niat untuk menjadi penulis itu ada atau tidak. Kalau mau sombong dikit, aku bisa aja nulis satu novel tanpa waktu lama tapi aku menyadari kalau aku melakukannya maka draft yang aku tulis nggak akan ada bedanya sama buku-buku yang isinya nggak jelas topiknya tentang apa dan gaya bahasanya seperti apa. 

Terus inget tulisan 17 halaman yang baru kelar setelah satu tahun.

Jadi orang tidak boleh sombong. Memang sih pasti ada hal-hal yang meskipun nggak ditulis tapi kita mengingatnya, kayak dulu aku pernah ngirim pesan ke orang isinya, "made in (nama orang)" kemudian dibales, "made by (nama orang) kali." Astaga, udah sok pake inggris, eh, malah salah. Sampai sekarang aku langsung geleng kepala kuat-kuat kalau kenangan itu balik lagi. Tapi dengan adanya kesalahan, aku kadang jadi lebih baik.

Ah, apa karena aku terlalu fokus pada "hal memalukan" makanya aku jadi sering melupakan hal-hal penting.

Aku merumuskan manusia menjadi empat :
1) Orang yang cerewet di dunia nyata tapi pendiam di dunia maya.
2) Orang yang pendiam di dunia nyata tapi cerewet di dunia maya.
3) Orang yang cerewet di dua dunia.
4) Orang yang pendiam di dua dunia.

Lingkungan pertemananku mayoritas merupakan orang-orang yang cerewet in real life mereka, dan aku tidak menyesalinya. Karena itu berarti teman-temanku masih menghargai pertemanan di tengah zaman gadget yang memiliki efek mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Bukan berarti aku termasuk kelompok pertama, mungkin aku lebih condong ke kelompok yang kedua dengan batas-batas yang bisa ditoleransi. Aku lebih suka mendengarkan daripada didengarkan, memang ada saat dimana aku ingin didengar dan jika sudah begitu aku mikir, "emang omonganmu berbobot shof?" seketika itu aku langsung mengurungkan niat untuk berbicara, toh, belum tentu mereka akan mendengarkan omonganku dan aku sayang sama suara aku yang masih terdengar janggal ketika menyebut dua huruf itu. Kelemahan adalah kelebihan seseorang bukan? #PositiveThinkingDipraktekkan

Biasanya hal tersebut hanya terjadi kalau aku sedang berada di kelompok pertama sih. Aku sebenernya menyesuaikan situasi yang ada, aku nggak terlalu tahan sama situasi canggung dan krikkrik, kalau sudah berada dalam situasi seperti itu aku bakal diam sambil mengkhayal banyak hal atau mencoba mencairkan suasana

Yah

Walaupun jatuhnya bakal garing

Back to topic, aku pernah iseng bikin blog sebelum memiliki ini. Penasaran bagaimana keadaannya sekarang, aku nyoba nyari lewat mbah google. Dua kali nyari, akhirnya nemu my first blog yang hanya berisi satu postingan dan langsung melongo



Sabtu, 05 Maret 2011
pengantar
Ass maaf kalau gak ada isi z masih dalam tahap jadi kurang tau.jangan marah yah???insya allah dlm wkt dkt By:orang miskin informasi




ASTAGHFIRRULLAH,

HAHAHAHA.

SIAPA ITU.

TULISAN MACAM APA ITU.

DASAR ALAY!!


2011 berarti aku masih kelas 7, yah, aku nggak tau kenapa gaya tulisanku bisa kayak gitu, belum tahu cara menempatkan tanda baca dan kapital, serta singkatan yang wajar. Jaman saat kata "banget" ditulis "bwngtz," Aku bahkan lupa pernah nyingkat "nya" pake satu huruf terakhir dalam alfabet.

Alhamdulillah sekarang lebih tertata, entah sejak kapan aku ketularan penyakit "tidak bisa menyingkat kata," kalaupun aku menyingkat kata, itu bersifat mendesak dan sewajarnya kayak yg atau nggak diganti ke inggris biar lebih irit kayak atau jadi or, kenapa jadi why, karena jadi  cause, dan lain sebagainya.

Menulis bukan tentang menjadi penulis, bahkan kalaupun kamu adalah komikus kamu pasti akan menulis entah itu jadwal kegiatan, deadline, atau apapun. Masalah pendidikan dimana siswanya belum bisa nulis termasuk masalah yang bikin aku greget, bisa dimaklumi kalau siswa belum bisa membaca tapi belum bisa menulis??! Aku sedih kalau lihat berita seperti itu, belum perlu lah belajar huruf rusia yang kayak sandi rumput, atau huruf ibrani yang (kelihatan) lebih susah dari huruf arab, atau hangeul, katakana, hiragana, tapi cukup alfabet dulu. Hanya 26 huruf, dan kamu bisa mendapatkan serat menyebarkan ilmu yang unlimited. 
Kenapa libur hanya diberikan satu hari tiap pekan.
Padahal banyak tugas dan kegiatan yang mau dilakukan, belum lagi istirahat dari beban hidup.

Well, ketika kalimat pembuka aja udah ngeluh duluan.

Berasa hidup ini hanya berisi kesusahan belaka.

WKWKWKWK

Ahad, 06 September 2015. Seperti beberapa malam sebelumnya, aku tidur larut hanya untuk menulis. Memang bukan kewajiban, lebih ke mood yang selalu nongol tanpa bisa dicegah.
Padahal udah kelas 12, kenapa mood ku sendiri nggak menuruti aku?-__-

Beberapa hari lalu temen ku bilang kalau di UGM ada festival Jepang, aku lumayan suka sama sesuatu yang berhubungan dengan Negeri Sakura tersebut, apalagi aku juga menggemari beberapa manga meskipun bukan Otaku.

Otaku itu seseorang yang menyukai manga/anime kan? #SokTau

Dan saat itu tanggapanku cuma "oh, kayak mangafest gitu ya?"

Aku pernah sekali ke MangaFest yang ternyata (menurutku) biasa aja, padahal aku udah membayangkan MangaFest itu acara yang wah. Tapi lagi-lagi aku dikecewakan oleh kenyataan. 

Bener-bener nggak tertarik sama Festival Jepang yang dikasih tau temenku itu, sama sekali nggak ada niat untuk pergi. Bukan takut dikecewakan, cuma memang aku lagi pengen istirahat di Asrama menghabiskan akhir pekan.

Kemudian entah darimana, aku tau kalau Festival yang dikasih tau temenku itu ternyata JOGJA JAPAN WEEK 2015 #JJW2015

Apa itu #JJW2015? Jogja Japan Week adalah acara dua tahunan yang merupakan salah satu wujud apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap jalinan hubungan kerjasama dengan Jepang yang sudah ada sejak lebih dari dua puluh lima tahun.

Diadakan di Grha Sabha Pramana UGM

Aku langsung excited begitu tahu kalau JJW lokasinya d GSP. Soalnya, kalau acaranya di GSP pasti layak diperhitungkan.

"Keren nih, kayak Festival Anti Korupsi akhir tahun lalu dong. Pergi ah."

Jogja Japan Week diadakan mulai tanggal 3-6 September. Aku datang di hari terakhir soalnya bertepatan juga sama acara anak #MentoringKeren yang mau jalan-jalan menyusuri Fakultas-Fakultas di UGM.

Keluar Asrama jam setengah 9 bareng Azmi, Hilma, sama Inas. Kami nungguin Bis Jalur 4 yang subhanallah, kenapa lama sekali. Sekali lewat, bis nya penuh. Setelah nunggu sekitar satu jam dan hanya satu kali Bis Kota lewat, kami pun naik Taxi.

Mahal memang, tapi kami nggak tega biarin anak #MentoringKeren menunggu kami terlalu lama.

Singkat cerita, ba'da dhuhur #MentoringKeren udah selesai menjelajahi (beberapa fakultas) UGM. Kami langsung jalan ke Grha sabha Pramana, sebenarnya Hilma mau langsung pulang tapi karena nggak ada temen, yaudah, dia terpaksa ikut ke JJW.

Mendekati GSP, aku melihat kalau pintu masuknya JJW ternyata ada di salah satu ruas jalan menuju GSP.



Seketika itu pula aku mulai merasakan kekecewaan (lagi) dan ngomong 

"Festivalnya bukan di gedungnya toh? yah, tau gini mending pulang aja."

Tapi kami tetep masuk karena desakan tenggorokan yang meminta hak nya untuk di isi air. Kehausan level tinggi. Jadi niat kami masuk hanya untuk membeli minum, eh, nggak taunya pas udah belok kanan.

Ternyata Jogja Japan Week nya juga diadakan di area dalam gedung Grha Sabha Pramana.

Alhamdulillah nggak jadi kecewa, meskipun bukan di gedung utama kayak Festival Anti Korupsi tapi lumayan lah ya.

Pintu Masuk
Begitu masuk, terdapat banyak stand yang dapat dikunjungi. Aku beli gantungan kunci dari daun dan bunga.
Di dalam gedung terdapat area Haru (musim semi) sama Fuyu (musim dingin). Aku nggak memperhatikan apa ada area untuk Aki (musim gugur) dan Natsu (musim panas).

Yang namanya Jepang, pasti identik sama cosplay (berpenampilan seperti salah satu tokoh komik). Sejauh mata memandang, aku ngelihat banyak cosplayer berseliweran. Lagi pula memang hari ini ada lomba cosplay. Tapi, sebagai orang yang udah lama nggak update Anime, cosplayer yang aku tau cuma dari tokoh One Piece dan Naruto.

Plus Vocaloid bernama Hatsune Miku.

Foto sama Miku 

Oh ya, aku ketemu sama Dila, Niswah, Azka.
Mereka bertiga jauh lebih suka Jepang daripada aku.

Karena memang aku nggak tau orang-orang pada nge cosplay siapa, kami nyari cosplayer yang (bisa dikatakan) nggak berpenampilan aneh.

Kakaknya cantik ya?
Selama mengitari area Joga Japan Week, aku tiga kali ketemu Luffy. Walaupun papasan lebih dari sekali, aku nggak foto sama tokoh favorit ku itu.

Pertamakali lihat, aku ngempet ketawa karena si Luffy ini tingginya nggak sama seperti yang asli. #NggakSadarDiri #KayakPunyaBadanTinggiAja

Keduakali, nggak berani minta foto. Padahal aku yakin orangnya baik.

Ketigakali, aku lagi kepisah sama si empunya kamera jadi percuma aja minta foto. Siapa yang mau fotoin?

Di total dari pagi, kaki ku udah berjalan sekitar lima jam. Capek, Lelah, Penat. Tapi seneng juga meskipung nggak banyak foto bareng cosplayer. Nggak nyesel udah bela-belain datang ke Jogja Japan Week!
Cakepan Sasuke yang asli, hehe
Beberapa tahun dari sekarang mungkin aku nggak bakal ingat semua nama dan wajah personil KLASIK. Buktinya, ingatanku tentang teman sekelas semasa SD sudah sedemikian memudar.

Bentar coba aku ingat-ingat dulu, ada 36 orang, yang terdiri atas :

18 cewek : Ati, Nisa, Febi, Sela, Wiwin, Wiska, Vena, Bela, Nadia, Mila, Ika, Adelia, lupa.
18 cowok : Ryan, Harun, Munawir, Yahya, Boby, Iqbal, Dodi, Sofyan, Ade, Kristo Latupapua, lupa.

See? Aku cuma bisa mengingat sedikit. Beberapa wajah masih terlihat samar namun nama mereka seperti menghilang dari otak.

Makanya aku nggak mau ingatanku bareng KLASIK malah bernasib sama dengan ingatan masa SD ku.

Kalau sebelumnya aku mendeskripsikan personil kamar E (baca disini) sekarang aku akan mendeskripsikan personil KLASIK.

Yang jumlahnya 34 orang

Padahal personil kamar E yang cuma enam orang aja terbagi menjadi dua part

Kalau ada 34 orang

Aku harus nulis berapa part?

#mukalelah #lelahtapisenang


Ide ini aku dapat dari calon Penguasa Dunia, soalnya aku bukan tipe orang yang mudah menilai seseorang.

Kan tiap orang berubah setiap hari.

Jadi, post edisi #SifatAnakKlasik merupakan kolaborasi antara aku dengan salah satu personil KLASIK. Dia yang namanya-masih-dirahasiakan bertanggung jawab untuk menulis sifat tiap personil. Dan karena pikiran manusia tidak selalu sama, aku mencoba untuk membantu dengan menambahkan deskripsi menggunakan font yang berbeda.

INGAT : font ini untuk deskripsi yang dia tulis, sedangkan yang aku tulis bakal di bold.

Langsung aja yaa, dari absen pertama


Ainun Nahdhia Azhari (AINUN) 
Putih, tinggi, cantik, pinter, hafalan qur’annya banyak, bisa dihampir semua pelajaran (IPA, IPS, Bahasa, OR, Seni), jago Bahasa Inggris. Pokoknya hampir perfect! Tapi Ainun itu pendiem, iya, diam-diam menghanyutkan. Dia punya cara sendiri untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, apalagi di Matematika -__- Oiya doi juga pinter merajut, dia udah pernah bikin selimut sendiri dengan rajutan penuh cintanya. Doakan ya biar cewek kelahiran 2 september ini tembus Astronomi ITB!^^

Dan Ainun susah sekali dimintai foto-_- entah karena nggak mau atau nggak suka. Oh ya, terkadang kalau ada anak yang minta diajarin sebuah soal ke Ainun, kadang Ainun bilang gak tau dan bilang kalau dia jawab ngasal. Ngasal tapi bener-_- mata batinnya mah emang beda.

Education goal : Astronomi, Fisika

‘Aisy Rufaedah (FIDA AISY)
           Si bendahara kelas yang hafalan qurannya banyak dan bacaannya bagus. Kadang bikin iri soalnya kalau ngafalin quran terlihat mudah. Kalau kata aku sih, mukanya istriable banget :3 Fida ini punya rasa ingin tahu yang sangat besar, sampai kadang bingung kalau ditanyain .__. katanya mau ke Turkey, doakeun yaps :3

Suka kalau liat Fida ketawa lepas, khas gimana gitu. Dia juga baik, kalimat favorit ku yang dari dia, "Aku mau aja ngajarin asal kamu mau diajar." Guru tahsin pribadi:)

Education goal : Pertanian

Alifah Ashil Salsabila (ALSA)
          Salah satu moodbooster KLASIK dan merupakan wakil ketua kelas yang extra somvlak. Alsa sangat tertarik dengan topik, “bagaimana cara mengecilkan perut,” “bagaimana cara mengecilkan paha,” dan lain sebagainya. Kepribadiannya yang bodo amat pas banget sama tingkah lakunya yang nggak jarang bikin ngakak. Tapi over all good, dia juga salah satu perwakilan KLASIK untuk menjadi panitia angkatan.

Mungkin kelas bakalan sepi tanpa kehadiran Alsa. Kadang aura kepemimpinannya sebagai wakil ketua terasa tapi kadang juga menghilang/?/

Education goal : Kedokteran


Amalia Suci Ramadhani (CICI)
        Cici ini bendahara selain Fida Aisy. Punya sepupu juga di SMA IT tapi anak ikhwan. Cici merupakan otaku, sedikit mengerti dunia per-kpop-an dan pecinta cowok berkacamata garis keras. Dia ini diam-diam menusuk, bukan menghanyutkan lagi. Selera humornya juga sangat receh wkwk. Seperti Fida Aisy, rasa ingin tahunya juga mayan besar. Tapi karena suaranya yang kecil, tiap dia mau nanya pas pelajaran pasti ada aja yang ngimbuhi, “USTADZAH CICI MAU NANYA.” Keseringan sih Fatchiya dan Alsa yang teriak gitu

Cewek yang punya darah sulawesi dan tidak suka memakai kacamata. Ada logat khas yang tersembunyi dibalik setiap ucapannya /?/ Kalau ngomong juga suka ketawa yang khas. Kalian harus denger sendiri. Cici orangnya suka berterus terang apa adanya tak ada yang di tutupi.

Education goal : Kedokteran

Annisa Nur Hayati (NUHA)
           Buat yang belum tahu, nama ‘nuha’ itu Ula yang bikin (dasar songong kau). Soalnya waktu kelas 7 dulu banyak banget yan namanya Nisa. Balik lagi ke topik, Nuha ini mayan pinter Kimia, terkadang aku heran sama dia kenapa bisa sesuka itu dengan Kimia yang di mataku tampak bullshit hhh-___- Nuha mayan alim, kaos kakinya panjang, pake deker, kerudungnya gede dan bukan tipe pembolos banget (lirik shofwa) (Ula nggak nyadar diri) (bodo amat)

Setelah absen kelima, sosok asli dia yang-namanya-dirahasiakan terbongkar juga. Iya, aku bikin tulisan ini bareng Ula.
Nuha adalah satu dari sekian anak yang setia bersekolah di Yayasan MULIA. Pernah belajar wingchun dan merupakan ketua CAB. Nuha itu, hmm, gitu deh pokoknya. Dia termasuk kaum minoritas di kelas yang suka nanya pas pelajaran Kimia berlangsung ketika kaum mayoritas hanya ngangguk-ngangguk sok ngerti.

Education Goal : Kedokteran
Asa Ahsana (ASA)
               Murid baru di kelas 12 ini pindahan dari SMAN 5 YK. Alasan dia pindah sih katanya tiap ditanya, “mau memperdalam islam” dan lebih dari setengah anak kelas ngempet ketawa. Asa klop banget sama Alsa soalnya nama mereka cuma beda huruf “L” doang (?) hehe. Pokoknya mereka kayak substrat dan enzim dah. Oiya, Asa ini anak baru tapi kayak udah di SMA IT sejak awal, kayak bukan anak baru wkwk.

Penampilan Asa waktu ngomong di depan kelas untuk pelajaran Bahasa bikin ketawa namun sarat makna #asekk. Mayan kaget sih pas tau ada anak pindahan di kelas 12. Kadang Asa gampang ditipu hehe, Asa juga nggak segan buat muji anak kelas. Kayaknya tiap hari pasti ada ahja yang dipuji sama dia.

Education goal : Psikologi

Asiah Nur Aini (ASIAH)
               Si cewek dari Pulau Berau yang cantik anet :’) Badannya ideal banget jadi iri huhu. Asiah ini suka banget sama warna biru. Sprei, selimut, dan sebagian besar barangnya berwarna biru. Dia suka sama makanan pedas dan (menurut penglihatan author) suka mengoleksi jam. Awalnya kelihatan pendiem, tapi kalau udah kenal asik+cerewet gewla. Dua juga tipe yang suka cerita-cerita ke temen :D

Nggak pernah satu kamar sama Asiah, hehe. Cewek yang namanya kayak istri Firaun ini sering menampilkan ekspresi sesuai dengan suasana hatinya. Kalau udah deket sama Asiah, anaknya lumayan humoris kelompok pemilik selera humor receh sih #soktau

Education goal : Psikologi


BERSAMBUNG KE PERSONIL KLASIK (PART 2)

p.s : big thanks to titiw's camdig.



Manusia adalah makhluk yang sulit dipahami, padahal Manusia dan Hewan cuma dibatasi oleh akal alias pikiran. Memahami satu manusia secara luar-dalam saja sudah termasuk hal yang hampir mustahil.

Karena beberapa orang malah tak memahami dirinya sendiri

Padahal penduduk Dunia ada lebih dari Empat milyar jiwa

Penduduk Indonesia di atas 255 juta jiwa

Penduduk Jawa *brb buka gugel* sekitar 154 juta jiwa (buset, banyak bener ternyata)

Penduduk Ngayogyakarto Hadiningrat *brb buka gugel again* >388 ribu jiwa

Penduduk ARYOGA kayaknya di bawah 500 ratus jiwa (sekolah sendiri tapi nggak tau ada berapa siswanya)

Penduduk Kelas 34 jiwa

Terus kamu mau memahami siapa? #yah #gaknyambung






Selamat datang di ruang dengan nomor 321. Artinya ruangan ini ada di Gedung 3 Lantai 2 Ruang 1, kurang paham sama penomoran untuk angka terakhir, ruang 1 itu maksudnya ruang pertama yang dilihat dari arah timur, barat, selatan, atau utara?

Biasanya kalau aku disuruh milih angka random, aku susah asal nyomot angka. Paling aku bakal milih angka yang berurutan atau kelipatannya. Kalau nggak boleh dua opsi itu ya milih yang punya kesamaan (1, 11, 21, 31, dsb). #CintaKeteraturan

Begitu kamu ke ruang 321, kalau pintunya ketutup kamu bakal menemukan tempelan ini


Abaikan aja tangannya

Di toko yang tersedia cuma tempelan itu, coba kalau ada tempelan Senior Only. Kan Klasik udah kelas 12, udah senior, udah jadi yang paling tua.

Oh ya, kalian belum tau KLASIK tu apa?

kla·sik /a/ : bersifat seperti seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan

Itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

KLASIK itu nama untuk kelas ku, pertama kali diusulin aku sempat mikir. Ternyata masih zaman ya namain kelas.

Waktu kelas 11, jumlah kami 34 orang dan Provinsi di Indonesia jumlahnya juga 34 #eaa #CintaIndonesiaBanget

Sayang sedikit sayang, mungkin karena tabiat orang Indonesia yang susah move on dan belum nerima kalau provinsinya udah nambah satu, jadi setelah satu semester ada satu anggota yang memutuskan pindah jurusan.

Setelah melewati masa-masa jomblo (karena anggotanya ganjil jadi tiap pekan pasti ada aja anak yang duduk nya sendiri, kan satu meja berdua) selama enam bulan akhirnya Klasik ketambahan anggota baru lagi. Bukan siswi pindahan dari jurusan sebelah, tapi emang siswi pindahan dari sekolah lain. Jadinya tetap ada 34 anggota.

Seingat aku nama Klasik baru diusulkan jadi nama kelas pas akhir tahun 2014 #CMIIW
Setelah beberapa kali berunding akhirnya nama Klasik yang dipilih. Mulanya kukira CLASSIC ternyata yang bener KLASIK


Belum lengkap


Kelas Alam Asik

Yap! Kami memang kelas IPA, tepatnya IPA 3

Dan kami selalu bersikap asik.

KBBI mengatakan kalau salah satu sifat Klasik adalah serasi. Di bold biar lebih tegas, dan ternyata serasi bukanlah penghalang terjadinya perpecahan, atau lebih tepatnya perbedaan pendapat.

Dalam perjalanannya, tentu aja Klasik nggak selalu mencapai satu kesepakatan tanpa adu mulut. Namanya juga cewek jadi kalau mulutnya nggak dipakai buat debat rasanya ada yang ganjil. 

HAHAHAHA

Misalnya lagi ada perlombaan antar kelas, kami bakal

"eh, ini gimana lombanya"
"Kita mau ngapain aja?"
"Terserah"
"Gimana kalau blablaba"
"Nanti kumpul ya teman-teman, kita rapat mau bahas. . . ."
"Menurut ku itu blabla, mending kita blabla"
"Voting yuk voting"

Terkadang ada keadaan dimana aku ngerasa Klasik terlalu terobsesi, kalau udah kayak gitu mungkin nggak papa dibiarin selama melahirkan sesuatu yang baik. #apaiya

Karena Klasik bukan cuma cerita tentang satu-dua orang, maka kejadian dimana sebagian pihak merasa sebel dengan pihak yang lain tentu aja nggak bisa dihindari.


nggak sengaja nemu foto ini


Pas classmeet tahun lalu. Dalam menyemarakkan jalan pagi, kami memutuskan untuk  bikin atribut yang menunjukkan kalau "ini lho Klasik." 
Anak boarding udah begadang bikin bando, aku udah bayangin kalau kami bakal kece jalan pagi sambil makai bando.

Tapi ternyata yang ikut jalan pagi cuma empat orang

EMPAT ORANG!!!

Kemanakah 29 anak yang lain

Sebenernya nggak ada yang perlu disalahkan sih, sebagian anak juga panitia classmeet. Makanya nggak bisa ikut jalan pagi yang paling cuma memakan waktu 20 menit-an. 

Terus yang hari itu nggak sekolah palingan sakit atau ada acara. #PositiveThinking #MasaLaluBiarlahBerlalu

Kalau jalan pagi bisa nambah poin buat menang, pasti bakal banyak yang ikut.

Toh, akhirnya target kami tercapai juga untuk dapetin Piala Umum Kategori Akhwat.
Alhamdulillah.

Cuma sebagian medali yang diperoleh Klasik

Sebagai kelas yang berteman dengan MAFIA bukan berarti kami melupakan pengetahuan umum. 

"Saya tidak ingin kalian cuma tau teori, dan meskipun kalian siswa IPA bukan berarti kalian nggak open mind." -Guru Bahasa Indonesia


Seperti yang udah aku bilang di atas. Sekarang Klasik udah kelas 12, saat dimana kami akan berpacu dengan tumpukan materi dan kumpulan soal-soal.
Beberapa bulan lagi, kami bakal berpisah. Dulu waktu kelas 10 wali kelas ku pernah bilang "bener lho mbak, SMA tu masa yang cepat banget. Pasti nanti udah mau lulus aja."


Beberapa tahun dari sekarang aku bakal mengingat Klasik dalam tiga warna

Biru, Putih, dan Coklat


"Shof, Kenapa nggak abu-abu?"

Sapa suruh rok sekolah warnanya lebih ke biru daripada abu-abu. Lagipula batik kita juga warnanya biru.

"Kalau Hijau?"

Emang sih sekolah penuh dengan nuansa hijau. Tapi aku kan ngehabisin waktu SMA bareng Klasik bukan bareng Sekolah.

"Apa alasan mu milih ketiga warna itu?"

Ah elah harusnya itu jadi pertanyaan pertama. Kebanyakan kenangan yang aku buat bareng Klasik tuh saat aku memakai seragam sekolah. Dan seragamku tuh dominan di tiga warna yang aku pilih.




Bagiku memang tiga warna itu yang paling tepat untuk mewakili Klasik.
Impian Klasik juga cuma tiga

Keluar dari SMA IT
Masuk PTN yang diinginkan
Nggak mengalami STRESS akut

Apa coba korelasi antara warna dan impian. . . .

ehehehe


Kami dengan sejuta Impian

wait, sejuta tu alay

Kami dengan beragam Impian

nah, itu baru bener

Tentu aja Impian kami bukan cuma tiga. Seperti kalian, kami juga punya banyak hal yang ingin kami lakukan.

Impian juga nggak ada di tempat yang rendah. Hanya orang-orang yang menantang sifat air yang bisa mencapainya.

We are IPA 3, We are KLASIK


Hari ini nulis lagii

ah, ralat

Hari ini ngepost tulisan baru di blog lagi, sepekan ini banyak kejadian yang patut diceritain. Mulai dari pertikaian, ketidak adilan, sampai protes ke pihak atas. Yah, hal-hal tersebut memang seru untuk ditulis apalagi kalau nulisnya pas sedang dalam keadaan hati yang bener-bener mendukung, beberapa waktu terakhir hati ini memang menampung banyak emosi. Apalagi hari ini aku denger fakta baru yang Astaga, itu orang maunya apa sih, nyapa nggak pernah, terkesan menutup diri, tapi bikin perkara mulu.

Meskipun aku pengen nulis dengan judul Kejadian Luar Biasa Sepekan Terakhir, toh aku mengurung kan niat untuk melakukannya. a secret makes women women

Pernah nggak sih kalian mengalami keadaan dimana ketika pikiran kalian udah positif banget sama satu hal tapi realita yang terjadi malah sebaliknya?

Atau ketika kalian udah pasrah banget sama satu hal, eh, nggak tau nya malah jadi lucky.

Kita memang nggak bisa lari dari takdir, umpamanya kita adalah tawanan, takdir itu jeruji, dan sipir nya adalah Tuhan. Nggak usah bayangin bisa kabur lewat jendela kecil, gali terowongan bawah tanah, bikin sipir tidur biar bisa nyuri kunci, atau apapun cara keluar dari penjara yang pernah kamu tonton di film.

Nurut aja deh, kita tawanan, takdir jeruji, dan Tuhan sipir.

Kalau malam ini aku bahas tentang Tuhan, itu bakal terlalu menyimpang dari niat sebelumnya. Jadi mari kita membahas hal yang simpel aja

contohnya. . . .


LARI



Tadi pagi, setelah dua hari berkutat dengan kasur dan selimut akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan yang membuat terlena

Sedikit sekali orang yang bilang sakit tu enak, mungkin aku salah satunya. Memang sih aku ngerasa kurang nyaman dalam balutan jasad yang hangat dan nyeri di sana-sini, terlepas dari itu semua aku bisa memikirkan banyak hal selain pelajaran ketika dua hari aku menghabiskan waktu di kasur kesayangan.

Hari Rabu, sama sekali nggak ada keistimewaan di hari Rabu. Kelasku dapat jatah Olahraga di Rabu pagi alih-alih memakai Pramuka, aku langsung make seragam OR.

Selama karier ku jadi siswi sekolah ini, aku diajar oleh dua guru Olahraga. Di kelas 12 guru OR ku sama kayak di kelas 10 jadi agak bisa diraba kegiatan OR apa yang bakal kita jalani

Antara Aerobik atau Lari

Sesimpel itu menebak jalan pikiran guru yang ngajar di sekolah yang nggak punya GOR

*uhukk* *sekolah siapa* *uhuk*

Waktu ustadzah ngumumin kalau kita bakal lari dua putaran, sama sekali nggak terlintas apapun di pikiran selain tips-tips bagaimana cara berlari dengan baik

Lari dengan langkah kecil-kecil kayak jogging

Jangan ngomong

Jangan ketawa

Aliran nafas nya diatur

Tubuh jangan condong ke depan

"Aku Bisa!" aku hanya perlu meyakinkan diri kalau aku bisa, lari dua putaran tu apa sih. Langsung aja inget kalau dulu waktu SD pernah lari keliling lapangan lima kali #songong

Kloter pertama absen 1-17 jadi aku cuma duduk senderan ke bahu cow-- maksudnya senderan ke tembok sambil mikir random.

HAHHH. . .

Orang pertama yang nyelesein dua putaran bikin aku dongak

"Mungkin dia emang butuh banyak udara."

HAHHH. . .

Orang kedua yang nyelesein dua putaran bikin aku heran

"Apa emang sesuah itu? Kan cuma lari."

Akhirnya 17 orang pertama selesai menunaikan kewajiban mereka, giliran nomor absen 18-34

Aku mulai dari lari-lari kecil, pokoknya aku nggak mau jadi yang terakhir, kedua dari terakhir okelah, aku bisa kok, lari mah kecil.

TAPI. .

HIDUP NGGAK BAKAL SEBAIK ITU MAU NURUTIN KEMAUAN KITA, setelah melewati dua belokan aku mulai sempoyongan, pengen banget tetep lari meski pake langkah-langkah kecil. Hanya saja motivasiku untuk lari belum sebesar motivasi Jae Hee yang mau nolongin Tae Joon sampe ngorbanin dirinya ikut Maraton

Aku belum sebodoh Jae Hee si cewek sok kuat yang nyamar di Sekolah khusus laki-laki

Sejak kapan takdir jadi baik banget mau nurutin kehendak kita. Mana ada orang yang bisa bikin jeruji gerak-gerak sendiri.

Kecuali kalau punya kekuatan Telekinesis kayak Luhan.

Kali ini mari lupakan saja tentang telekinesis.

Putaran pertama selesai, aku di urutan ketiga dari terakhir. Ngumpulin sisa-sisa kekuatan biar bisa lari waktu ngelewatin ustadzah

dua meter. . .

lima meter. . .

"Shofwa kuat nggak? kalau kuat lanjut, tapi kalau nggak, kesini aja istirahat"

"Iya us."


Sempet kegoda buat balik aja, paru-paru ku serasa mau mogok kerja, tapi enak aja berhenti, nggak sudi aku berhenti, baru juga putaran pertama.

Baru nambah beberapa langkah aku disalip lagi sama temen, artinya. .

SELAMAT DATANG DI POSISI TERAKHIR

Entah kenapa aku udah masa bodo lah sama urutan posisi, mana mungkin aku melesat bagai petir ke posisi pertama terus teriak "halo, aku shofwa! selama ini aku punya kekuatan super lhoo"

ew.

Setelah belokan pertama aku makin sempoyongan tuh, sempet ada kunang-kunang juga di mata, pokoknya aku dah ngerasa si Paru-Paru beneran mogok kerja.

Apa organ dalam ku bikin Persatuan Organ Sehat jadi setelah si paru-paru, yang lain ikut ngasih sinyal mau mogok juga.

Aahh, padahal aku udah sarapan, kenapa sih kalian nggak peduli. Durhaka lah kalian wahai organ-organ dalam perut!

Sekitar 10 meter setelah belokan pertama aku bener-bener capek, aku ngeliat kalau temen yang tadi nyalip udah belok lagi, akhirnya aku jongkok di depan halaman rumah orang sambil sesekali ngeliatin kendaraan lewat.

Agak lama sih jongkok nya, sekalian negosiasi sama Paru biar jangan mogok kerja,

Terus mikir, gimana kalau aku balik aja. Jarak buat balik paling cuma 100 meter, lagi pula Ustadzah juga udah bilang kalau boleh balik

Balik. . . . Nggak. . . . Balik. . . .Nggak

"Balik aja shof, lo udah di urutan terakhir, apa gunannya?"

"Udahlah shof, balik aja. Jaraknya kan masih deket."

"Kalau kamu lanjut, kamu bakal pingsan. Balik ajalah!!"

Tarik Napas

Keluarkan

"Heh! Dasar pikiran buruk, ga usah nongol sekarang deh. Mending pergi bersemayam dimana gitu sambil intropeksi. Jangan bikin pikiran positif gue ternodai oleh lo lo pada yang nggak tau sopan santun. Main masuk pikiran orang seenaknya!"

Kalau aku kembali, artinya aku mengaku kalah.

Berdebat sama pikiran sendiri kadang-kadang lebih melelahkan.

Akhirnya aku lanjut, bukan lari, kaki ku cuma bisa jalan. Aku tau kalau aku maksa lari lagi meski cuma 10 langkah, aku bakal mengalami sesuatu yang nggak mengenakkan. Waktu aku belok di belokan ketiga, orang yang nyalip aku baru aja belok di belokan terakhir. Jauh banget jaraknya.

Sepanjang sekitar 250 meter terakhir aku jalan-jalan ringan, pasrah aja palingan pas nyampe garis finish temen-temen udah pada ganti baju.

Eh

Nggak taunya

Di belokan terakhir, pas banget aku baru belok, aku ngeliat temenku naik motor ke arah mulut gang

Dia mau jemput aku yang belum nongol setelah ditunggu sekian lama, syukurlah, tau gitu tadi istirahatnya aku lama-lamain. Ya Ampun, pokoknya bersyukur banget dah, untung aku belum pingsan di tengah jalan.

Intinya, dari lari aku paham kalau aku harusnya nggak usah maksain diri. Lari pagi aja jarang, sok-sok an bisa lari dua putaran. Dan lari bisa bikin Paru-Paru ku mogok kerja.


Kalau biasanya di malam libur kami bakal muroja'ah atau tilawah, halaqoh hari ini agak berbeda. Tetep di buka pake salam, tetep ditanyain kabar terus jawabannya "Alhamdulillah, luar biasa, lulus UN, masuk PTN, gek ndang nikah, allahu akbar!!!" tetep ada pembukaan puji syukur kita hanturkan kepada blabla tak lupa shalawat serta salam untuk blabla.
Dan setelah kegiatan monoton itu, kami malah main truth or dare.
Meskipun TOD nya gagal, tapi mereka yang kena giliran kudu cerita apapun. Jadi ada yang cerita soal takdir, Turki, sampe sejarah sihir.

Kemudian waktu adzan Isya, tiba-tiba ustadzah bilang ke aku kalau habis salat jangan langsung ke kamar dulu.
Seketika hati ini degdeg an nggak jelas, secara kalau ustadzah udah mengisyaratkan mau bicara empat mata itu berarti dua hal : 1) kamu udah atau sedang melakukan kesalahan dan 2) ada permintaan bantuan yang hendak diajukan.

Namun melihat situasi serta kondisi, aku berada di posisi nomor satu, sayangnya, aku tau persis apa kesalahan ku. Jadi setelah salat Isya, aku berhadapan sama ustadzah

U : Shofwa tadi pagi nggak ikut halaqoh ya
S : Ehehehe, iya us
U : Karena nggak ikut halaqoh dengan alasan yang syar'i, ini ditulis dulu (nyodorin buku pelanggaran)
S : (sambil nulis) iqob nya cuma ini atau. . .
U : Ada lagi
S : Apa?
U : Buat Shofwa mah iqob ini kecil
S : (senyum kecut dalam hati) nih us, udah selesai nulis
U : Kalau telat salat berjama'ah poinnya 5, nggak ikut halaqoh poinnya 10. Jadi Shofwa nulis 10 halaman alquran di folio (ngasih empat lembar folio)
S : Lho, kok cuma empat lembar
U : . . . .
S : Oh iya, kan 10 halaman alquran ya. Kirain 10 halaman folio. Nulisnya dimana?
U : Sebenernya harus di sini (tempat salat-red) tapi karena ustadzah baik jadi tulisnya di kamar aja besok pagi baru dikumpulin.
S : Okedeh.

Aturan tentang dapat poin dan nulis ayat alquran karena nggak ikut kegiatan Asrama baru diresmikan sekitar satu pekan, tentu aja kami (anak Asrama-red) pada nggak setuju karena hal tersebut bikin kami tergesa-gesa tapi kami mah apa atuh, hanya sekumpulan manusia yang ada di titik terendah piramida kekuasaan sekolah. Aku aja curiga selama ini kalau kami protes kayaknya nggak pernah di proses, hanya didengar bagai angin lalu.


Waktu balik ke kamar pikiranku masih positive, "ah cuma 10 halaman doang." Dan fakta yang terjadi adalah, setelah ditemani oleh sebotol pocari sweet dan sekotak nescafe french vanilla, ditambah mengistirahatkan diri dengan bersihin kipas angin. Aku belum juga menyelesaikan ah cuma 10 halaman doang ku meanwhile per halaman rata-rata membutuhkan waktu 25 menit untuk disalin. Arghhh, pegel tangan aing disuruh nulis banyak-banyak. Mana setelah beberapa halaman, tulisannya makin acak adul yang aku pun nggak punya minat buat baca tulisan sendiri. 

Mungkin tahun depan di brosur sekolah perlu ditambahkan kalimat, "Mencetak lulusan yang memiliki kerapian dalam menulis arab."

Aku mengakui, bagi yang udah pernah terkena aturan ini pasti bakal kapok buat melanggar lagi. Kalaupun suatu saat melanggar untuk kedua kalinya, bisa dipastikan itu bukanlah kesengajaan. Walaupun peresmian aturan ini nggak disambut air mata kayak berita pembuat shock beberapa hari lalu, dan juga nggak sejelek sistem hafalan sekarang yang bikin hilang semangat. Aturan ini cukup efektif, semoga tetap dipertahankan dan dilaksanakan.

Tapi jumlah halaman yang perlu disalin tolong dikurangi.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes