Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller

Pukul 12.01

Hanya butuh sekitar tiga menit lagi untuk tiba di Merlo, sejenak aku mengambil nafas sebelum memasuki area Great Court dari arah UQ Chancellor. Lambungku sedikit berdenyut nyeri, barangkali akibat makanan yang baru masuk namun harus terguncang dengan langkah kaki cepat melewati medan tanjakan dan turunan area St Lucia untuk menuju kampus, atau mungkin tanda betapa gugupnya aku sepanjang perjalanan untuk menemui seseorang. Aku kembali menarik nafas, tiga menit lagi sampai di lokasi janji temu pukul 12.10, aku masih punya waktu, namun rasa-rasanya sudah seperti terlambat, melanggar prinsip setidaknya aku harus tiba sepuluh menit sebelum jam perjanjian untuk agenda yang penting.

Siang ini suasana Merlo cukup sepi, aku mengitari pandangan ke arah kursi-kursi di bawah pohon. “Oh, orangnya belum datang,” batinku lega begitu tidak melihat sosok yang kucari.

Apakah aku harus mencari tempat duduk? Apakah aku perlu menunggunya datang baru memesan? Apakah mending aku pesan kopi dulu? Apakah aku harus mentraktirnya karena sudah bersedia menyisihkan waktu? Atau jangan-jangan aku akan ditraktir? Apakah orangnya akan datang? Masih ada sisa waktu sebelum janji temu tiba, AKU HARUS NGAPAIN?

Rasa gugup yang tidak hilang membuatku pergi ke kasir untuk memesan secangkir flat white, mencari tempat duduk yang sekiranya mudah diakses dan tidak basah oleh air sisa hujan, rasa gugup yang masih ada ketika pelayan mengantarkan pesananku.

“Hey, sorry I am late! I was running,” sapa sebuah suara yang familiar dari arah belakang.

“Helloo. No, you are not. It is still 12.08pm.”

“Oh, you already ordered something? I want to buy you a coffee actually.”

Dan begitu saja, satu ucapan sederhana memunculkan satu sesal karena kehilangan kesempatan untuk merasakan kebaikan hati sosok itu.

Tapi sebelum aku bercerita tentang percakapan kami, mari mundur ke beberapa pekan lalu ketika perjumpaan hari ini masih berupa mimpi yang tidak pernah muncul di pikiranku.

Boro-boro berambisi untuk mendapat gelar S3 secepat mungkin, aku tidak pernah punya pikiran melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral ketika memulai studi magister. Pengalaman melalui semester pertama di UQ yang lumayan traumatis sama sekali tidak memberikan insight untuk melanjutkan studi PhD. Aku memang tidak punya niat untuk melanjutkan studi, namun bertemu dengan banyak sekali mahasiswa PhD membuatku merasakan bahwa level doctoral adalah sesuatu yang bisa kucapai. Setidaknya itu cukup untuk jadi bekal bahwa tidak ada yang tidak mungkin~ bahwa para PhD pun adalah manusia biasa, bukan manusia dengan superpower yang mengetahui segala jawaban, yang juga merasakan berbagai macam kesulitan akademik dan problematika kehidupan yang perlu dihadapi.

Tapi aku tetap tidak merancang pathway menuju kesana.

Ketika sebagian orang memilih untuk melakukan research project di semester terakhir agar memiliki pengalaman melakukan riset, syukur-syukur juga sekalian publikasi, aku tetap kekeuh dengan program coursework, menjalani perkuliahan dengan full mengikuti mata kuliah secara penuh tanpa menulis tesis ataupun research report.

“Kenapa nggak ambil research project? Kan lumayan untuk modal bersiap-siap, kalau mau S3 harus udah punya pengalaman riset.”

Masalahnya aku nggak ada rencana S3? Dan jikalau di masa depan rencana itu muncul, akan kuupayakan dengan sumber daya yang kupunya di masa depan. Tapi tidak untuk sekarang. Rasanya terlalu sayang memberikan jatah 4 unit untuk research project sedangkan 4 unit setara dengan 2 mata kuliah. Kenapa aku perlu melakukan research project untuk topik yang tidak kupunya ketika aku bisa menyerap ilmu-ilmu baru dari dosen UQ melalui interaksi di kelas? Sepanjang dua tahun belajar dengan mengikuti 16 mata kuliah, setidaknya aku bertemu dengan 14 dosen. Di antara empat belas itu, satu orang berhasil membuatku “KALAU GUE PhD, MAU DIBIMBING BELIAUUUUU.”

Bukan sekali dua kali topik melanjutkan S3 muncul di obrolan bersama teman, bersama kenalan, bersama orang-orang yang berada di lingkungan akademia. Dan aku tetap bertahan dengan pilihanku untuk nggak langsung serta merta melanjutkan studi doctoral paska menyelesaikan magister. Namun aku nggak nyangka akan menemukan sosok yang membuatku pengen dibimbing. Walau sekarang lebih pengen nemu sosok yang bisa membimbingku ke surgaNya.

#halo #jodohku #whereRu

WKKWKWKWKWK

Berhubung aku tidak tahu akan berapa lama lagi bapak dosen bekerja di UQ, melihat posturnya yang sudah lumayan berumur, aku berusaha menanyakan kabar bapak dosen melalui asdosnya yang kebetulan adalah salah satu dosenku di semester terakhir.

Kalian bingung apa maksudnya?

Aku bertemu bapak dosen di semester tiga, saat itu beliau punya asdos yang kupanggil mbak dosen. Ternyata mbak dosen mengampu salah satu mata kuliah yang kuambil di semester terakhir. Jadi aku sempat diajar oleh mbak dosen sepanjang semester empat.

Sadar diri dengan pertanyaan super recehku yang sama sekali nggak memberikan substansi penting, aku ngepoin bapak dosen lewat mbak dosen, dan bertanyanya melalui email. Sori banget, memang secupu itu, bahkan nanya langsung ke mbak dosen aja nggak berani. Lantas mbak dosen mengirim email balik, “I genuinely do not know his plans, tell him what you told me. He will appreciate that kind of intellectual honesty more than a perfectly formed proposal.”

APA TIDAK MUMET SEKETIKA DIRI INIII? CUMA MAU NANYA KABAR MALAH DISURUH NANYA LANGSUNG.

Sudah kadung nyebur, aku pun mengirim email ke bapak dosen. Mohon diingat bahwa kami sama sekali nggak berkorespondensi sepanjang tahun 2026, aku dengan kesadaran penuh mengirimkan email itu. Email berisi “permisi mister, mister sampai kapan ya kerja di UQ? Aku pengen nge-propose mister buat jadi potential supervisor, tapi nggak dalam waktu dekat karena aku masih belum menemukan alasan kuat untuk melakukan PhD.”

Sehari kemudian, jawaban email tiba.

“Hi Shofwa, I remember you. I am very happy to talk to you anytime about further study. Talk soon😊”

APEEE MAKSUDNYA MISTER. YOU CAN ANSWER MY QUESTION DIRECTLY. WHAT DO YOU MEAN BY TALK SOON TALK SOON.

Huft.

Sesungguhnya aku mau berhenti di titik itu.

Apa gunanya ngajak ngobrol kalau aku sendiri nggak punya topik yang bisa kubawa? Nggak punya rencana konkret tentang kelanjutan studiku untuk S3? Nggak memiliki hal penting buat didiskusikan? Apalagi meminta waktu seorang dosen UQ yang agendanya padat merayap?

Tapi tapi tapi, bukankah sekarang aku lagi jadi mahasiswa UQ? Aku bisa mengontak dosen UQ sesuka hati dan persentase mereka akan membalas emailku adalah 100%? Situasiku saat ini adalah privilise yang bisa kumanfaatkan? Apalagi aku masih di Brisbane jadi bisa ketemuan langsung? Kalau sudah di Indonesia, mana mungkin kesempatannya sebesar sekarang?

Begitulah, dua pertimbangan yang saling tarik menarik antara sadar diri untuk berhenti VS perjuangkan aja dulu.

Aku memilih yang kedua.

As always.

Karena terasa lebih mudah merangkul penyesalan yang muncul setelah memberikan usaha terbaik daripada sesal yang muncul karena memilih untuk menyerah tanpa mencoba.

Kukirim email berisi keinginan untuk bertemu, selang hitungan jam bapak dosen mengirimkan undangan zoom berjudul further study… WAITTTT WHAT. I DO NOT HAVE THE FURTHER STUDY VISION YET???! Dan beliau juga menawarkan kami bisa bertemu di Merlo pukul 12.10pm jika ingin bertemu langsung. Tentu saja aku memilih berjumpa di dunia nyata alih-alih maya.

Maka di sinilah kami berdua, bertemu di bawah kanopi Merlo coffee shop.

“Hi Shofwa, how are you? How have you been?”

Aku menatap sepasang mata biru dengan sorot bersahabat itu, sesungguhnya fisikku sedang tidak baik-baik saja sisa demam dan flu yang belum sembuh benar, cuma sepertinya bukan itu jawaban yang patut kuberikan, dan bukan itu pula yang ditanya. Beliau duduk di hadapanku, kami hanya terpisah oleh meja kecil. Aku memegang cangkir flat whiteku dengan gugup.

“I am good, but--”

to be continued.

 1… 2… 3… 29. Sepanjang ingatan yang kumiliki, baru kali ini aku menjalani Ramadan 29 hari.

Tahun kedua menjalani bulan puasa di tanah Meanjin, kegembiraan yang dirasakan masih ada ketika bisa berpuasa sembari melihat orang-orang di sekitarku membawa minuman di tangannya dan orang-orang tetap membanjiri kafe-kafe kampus ketika makan siang tiba.

Oke, latar waktunya ditarik ke agak belakang dulu.

Menjelang tanggal satu Ramadan, aku sempat bingung mau menjalani Ramadan yang seperti apa? Bagaimana aku akan menjalani Ramadan kali ini? Udah pasti urusan sahur akan jadi kesulitan tersendiri berhubung waktu subuh berada di pukul 04.10 dan bangun jam tiga pagi membutuhkan niat yang kuat. Tetap #shoutOut untuk para Ibus dan orang-orang yang bangun lebih pagi untuk menyiapkan hidangan sahur di meja keluarga.

Di tanggal 18 Februari, sehari sebelum puasa, aku menonton video youtube tentang fiqih Ramadan untuk Perempuan dari ustaz Adi Hidayat. Dalam video tersebut, beliau menyebutkan “sepanjang memiliki iman, SEMUA orang diberi ‘rasa’ yang sama sebagai pembuka Ramadan.”

Dengan kata lain, kegembiraan dari buncahan perasaan bertemu dengan bulan suci akan dirasakan oleh semua orang yang beriman (bukan berislam), aku langsung mengangguk-angguk setuju sembari mengingat betapa masjid biasanya penuh dengan jamaah taraweh di hari pertama, munculnya pasar kaget untuk #wartakjil yang meramaikan suasana ngabuburit, pengeras suara dari masjid yang mulai mengumandangkan bacaan Qur’an secara live.

Ternyata puasa adalah bentuk ibadah yang dapat meningkatkan takwa (Hidayat, 2026). Takwa /n/ terpeliharanya diri dari siksa Allah Swt. dengan tetap taat melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkannya, ketakwaan bisa meningkat ketika kita berpuasa (shiyaam) dengan benar. Bentuk dari meningkatnya ketakwaan kita adalah ketika Allah Swt. memberi solusi pada setiap permasalahan yang dialami, pun ia juga berbanding lurus dengan rezeki dan keilmuan yang diberikan olehNya.

Aku tetap mengangguk-angguk mendengar ceramah ustaz Adi yang sesekali diselingin dad jokes, dari sekian contoh amalan yang bisa dilakukan paralel di momen Ramadan untuk menambah takwa, ada satu yang “ok, this is it. I will try to maximise this.”

Tidak lain tidak bukan adalah salat yang hanya muncul ketika Ramadan tiba: tarawih.

Di kampus UQ cabang St Lucia alias kampus pusat, terdapat multifaith chaplaincy building (MCB) yang umumnya dipakai untuk kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk ruang salat yang juga terletak di gedung ini. Pada bulan Ramadan, MFB mengadakan tarawih setiap hari dengan target satu malam satu juz, sehingga bisa khatam Al-Qur’an di hari ke-30.

Tahun lalu aku kemana, ya? Tidak ada ingatan sama sekali ikut tarawih di MCB. Barangkali pada saat itu sebagian Ramadan diisi oleh berita Alfred si Tropikal Siklon dan hal-hal lainnya yang membuatku tidak pergi tarawih berjamaah di MCB.

Padahal, jika dipikirkan kembali, kondisi ini adalah sebuah privilise dari tinggal di negara minoritas. Kurasa tidak semua kampus memiliki MCB, dan tidak semua kampus memiliki program tarawih TIAP MALAM ketika Ramadan. Mempertimbangkan jumlah masjid yang jarang-jarang, fakta bahwa aksesku untuk pergi ke MCB sangatlah mudah terasa seperti hadiah yang pernah kusia-siakan.

Dalam ceramahnya pula, ustaz Adi menekankan sebenarnya jumlah tarawih 11 atau 23 rakaat tidaklah masalah, rakaat yang lebih banyak bukanlah poin utama dalam menjalaninya. Beliau lebih menekankan pada panjang bacaan surah pada tiap-tiap rakaat. Yang mana, dalam sependek pengetahuanku untuk memaknainya, 11 rakaat dengan bacaan yang panjang lebih dianjurkan daripada 23 rakaat tapi bacaan suratnya muter-muter di three-quls (An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas). Cocoklah kalau gitu, tarawih di MCB sistemnya satu rakaat satu halaman. 20 rakaat dapat 1 juz, gatau witir baca apa berhubung aku nggak pernah stay sampai selesai~ pokoknya tidak akan kusia-siakan kesempatan tarawih di MCB sebagai mahasiswa master semester terakhir di UQ.

Tahun ini aku masih berkesempatan megikuti tarawih keliling-nya IISB (Indonesia Islamic Society of Brisbane) ke Caboolture, Springfield, dan Albany Creek. Berhubung lokasi tarling berada di daerah suburban, umumnya tidak ada masjid, sehingga tarling dari IISB adalah kesempatan bagi diaspora Indonesia untuk bisa salat tarawih berjamaah sekaligus mendengar ceramah singkat menjelang berbuka dari ustaz yang dibawa oleh IISB. Program tarling menguatkan aku untuk tetap konsisten tarawih di MCB. Hingga hari terakhir Ramadan, jika dikurangi periode haid, momen pergi ke tarling, dan agenda buka bersama. Aku hanya absen 3x dari MFB. Alhamdulillah.

Selain tarling, tahun ini terdapat acara buka bersama yang diselenggarakan oleh IISB yang bekerjasama dengan badan organisasi lain seperti IMCQ dan PPIA cabang kampus yang berlokasi di area sekitar Brisbane: the University of Queensland (UQ), Queensland University of Technology (QUT) dan Griffith University. Tahun lalu acara buka bersama hanya satu (Grand Ifthar di UQ) karena pada waktu itu kampus-kampus sempat tutup, imbas dari siklon tropis Alfred. Ketika kampus kembali beraktivitas, waktu Ramadan yang tersisa cuma bisa mengadakan sekali grand ifthar. Sehingga ku senanggg sekali tahun ini berkesempatan main ke wilayah QUT dan Griffith University. Perdana berkunjung ke kampus tetangga dengan agenda buka puasa bersama, mashaAllah tabarakallah.

Sepanjang Ramadan juga ada war takjil (kerjasama IISB x PPIA-UQ), lagi-lagi bersyukur memilih UQ sebagai kampus tujuan studi karena, sepertinya, momen #wartakjil tidak terjadi di semua tempat. Ngomong-ngomong, meski dinamakan #wartakjil, sebenarnya yang dibagi adalah makanan berat (course meal). Program ini bisa berjalan karena ada donator yang berlomba-lomba memberikan paket makanan, ada yang bersedia mengorbankan tenaga dan waktu untuk menyalurkan (IISB x UQISA), dan ada yang mengincar makanan enak gratis (mostly mahasiswa :D). Semoga program ini tetap ada dan selalu ada untuk tahun-tahun berikutnya, semoga suatu saat program #wartakjil bisa menjangkau lebih banyak mahasiswa di kampus-kampus lain.

Ramadan tahun ini memang banyak serunya, diberi kesempatan mencoba hal-hal baru. Contohnya, aku beberapakali numpang di mobil mbak Luluk untuk pergi ke acara buka bersama dan tarling, pas lagi di dalam mobil kami sempat nyeplos aja pengen iktikaf. Nndilalah ujug-ujug malah beneran bisa iktikaf di IMCQ (Indonesian Muslim Centre of Queensland) pada malam ke-28, serombongan 4 orang perempuan semua. Saat iktikaf, ternyata semua pesertanya bapak-bapak wkwkkw. Ndak masalah. Niatnya, kan, iktikaf mengejar Laylatul Qadr.

Jadi ingat obrolan Pandji dan Ustaz Felix Siaw di konten #PutBal, Ustaz Felix ngasih tahu “kata Rasulullah saw. ada satu bulan istimewa, namanya Ramadan. Di dalam bulan tersebut, ada satu malam yang paling istimewa, namanya Laylatul Qadr yang berada di 10 malam terakhir. Di Surat Al-Qadr ayat pertama disebut ‘Al-Qur’an turun di Laylatul Qadr,’ tapi kok ada malam nuzulul Qur’an yang umumnya disebut terjadi pada tanggal 17 Ramadan?”

Lantas beliau menjelaskan perbedaan Nuzulul Qur’an (turunnya Qur’an) dan Laylatul Qadr (malam kemuliaan). Seperti yang kita ketahui, pada periode turunnya firman, ayat-ayat Al-Qur’an tidak turun secara berurutan seperti isi Al-Qur’an yang kita kenal sekarang, pun turunnya perlahan-lahan.  Kalau tidak salah, nuzulul Qur’an adalah malam ketika malaikat Jibril pertamakali membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. alias malam turunnya firman pertama (QS Al-'Alaq: 1-5). Sedangkan Laylatul Qadr adalah malam ketika Allah Swt. menurunkan bentuk Al-Qur’an yang sempurna (30 juz) dari langit Allah ke langit dunia.

Tidak ada tanggal pasti kapan Laylatul Qadr terjadi, yang jelas pada malam 10 hari terakhir, kemungkinan di malam ganjil. Tapi tapi tapi, gimana kalau kita memulai puasa di tanggal yang berbeda? Misalnya tahun ini ada golongan yang mulai berpuasa di tanggal 18 Februari, ada juga yang tanggal 19 Februari. Bukankah momen malam ganjilnya akan berbeda? Trus gimana, dong, kalau pengen ngejer Laylatul Qadr?

Itu pertanyaan yang muncul dari peserta tarling chapter Albany Creek, jawaban dari bapak ustaz (yang sakjane kupanggil kak Zaki tapi mari sebut saja ustaz karena lagi mode jadi da’i) adalah, “Allah itu tidak terikat oleh ruang dan waktu, keberkahan dari Laylatul Qadr bisa menghampiri setiap individu, meski mereka mengalaminya di malam yang berbeda.”

YAA KEK MANAAA ITU?

Sungguh jika mau coba dibayangkan, akalku nggak nyampe ketika bayangin Al-Qur’an turun di Laylatul Qadr tapi keberkahan Laylatul Qadr bisa dirasakan individu pada malam yang berbeda. Cuma itulah bukti bahwa aku hanyalah hamba dan terikat dengan konsep waktu yang kutau, karena Allah tidak terikat pada konsep yang seperti itu. Allah Al-‘AlÄ«m, the All-Knowing.

Udah sepanjang ini tapi masih ngomongin Ramadan wkwk, long story short ke 1 Syawal 1447H aja, ya.

Tahun ini IISB kembali menyediakan bus untuk menuju IMCQ, salah satu lokasi pelaksanaan salat Id dengan titik kumpul di St. Lucia, dekat kampus UQ. Jarak dari St. Lucia ke IMCQ sekitar 30-40 menit menggunakan kendaraan, tidak semua mahasiswa punya kendaraan, pun jadwal salat di pagi hari membuat pergi ke IMCQ menggunakan transpoprtasi umum adalah hal yang mustahil. Makanya bus dari IISB cukup diandalkan oleh orang-orang yang membutuhkan kendaraan untuk pergi ke IMCQ. Berhubung aku baru saja pindah ke area St. Lucia, aku memutuskan untuk coba-coba melaksanakan salat Id di IMCQ.

Gimana rasanya salat Id di IMCQ?

Ramai dan kenyang.

Bertemu banyak diaspora yang kumpul di IMCQ untuk mengadakan hari raya sambil makan bakso dan jajanan pasar.

Ramai sekali.

Cuma yaudah, gitu aja.

Balik dari IMCQ, aku pergi ke perpustakaan pusat (central library/cenlib) di kampus buat lanjutin ngerjain tugas. Barangkali aku nggak punya keterikatan dengan konsep idulfitri yang perlu a b c d e f (baca: menu santan, maaf-maafan, silaturahmi, serahterima THR), aku malah senang bisa melakukan apa yang kumau paska salat Id.

Incaran tambahanku kali ini cuma satu: bisa datang ke open house!

Alhamdulillah, incaranku langsung terkabul ketika diundang Mbak Luluk ke rumahnya buat makan siang. Bertemu ketupat, kentang ati, opor, dan rendang. Tidak lupa tiga jenis nastar dan kastengel keju yang enak banget mamamia endulita, serta iced milktea yang aroma teh dan creamy susu-nya berpadu sempurna. Selepas makan siang, kami sempat foto-foto berlatar rimbunan pohon kemuning yang sedang berbunga, ramai-ramai menunjukkan pose tertawa akrab ala keluarga cemara cendana.

Sepertinya bisa jeda sejenak dari budaya Idulfitri di Indonesia adalah hal yang aku syukuri. Aku bisa merasakan cara merayakan Idulfitri dengan gaya yang lain, tidak perlu mengurusi perdebatan mengapa satu Syawal bisa termanifestasi ke beberapa tanggal Masehi berbeda, tidak perlu terlibat obrolan politik tiap berkunjung ke rumah orang (idk why ini adalah hal yang gak terhindarkan(?)), nggak perlu seharian menggunakan persona sosialisasi yang ngabisin banyak energi.

Di Indonesia, momen Idulfitri erat kaitannya dengan aktivitas mudik ke kampung halaman. Idulfitri adalah momen libur sekolah untuk pelajar dan cuti bagi para pekerja. Idulfitri menjadi ajang kumpul-kumpul untuk bertemu saudara jauh yang tidak pernah berkomunikasi, untuk #UpdateLyfe berjamaah karena semuanya tumpah ruah di satu lokasi, untuk mencicip makanan-makanan khas Lebaran sembari mindful akan intake kalori. Bertahun-tahun merasakan Idulfitri dengan default seperti itu, sehingga ketika bisa menjalani lebaran di Brisbane sebagai mahasiswa yang tidak merasakan kehebohan dan malah menghabiskan hari raya di kampus malah rasanya kayak… alhamdulillah~

Eid Mubarak 1447 H kurayakan di hari Jumat yang mana beneran pas banget kalau dipikir-pikir. Aku nggak ada jadwal kuliah di hari Jumat, lantas langsung bertemu akhir pekan yang bisa dipakai untuk istirahat. Bagi sebagian orang yang merindukan keriuhan suasana Idulfitri, mereka bisa menggunakan hari sabtu atau minggu untuk berkumpul sesama diaspora, makan bersama sembari mencoba membawa sedikit keakraban budaya Indonesia di tanah Meanjin.

Ngomong-ngomong perihal kata Mubarak, aku menemukan satu konten di Instagram yang membahas makna ucapan "Eid Mubarak.” Tautan kontennya aku lampirin di akhir tulisan, namun ku akan coba jelasin dengan singkat berhubung konten aslinya menggunakan Bahasa Inggris.

Asal kata mubarak dari ba-ra-ka (ب - ر - Ùƒ). Dalam Bahasa arab, setau aku, satu akar huruf yang sama bisa berubah menjadi kata lain dengan makna berbeda. Kadang bisa jadi noun, kadang bisa jadi verb, kadang bisa jadi kata perintah (fi’il amri??). Meski bentuk turunannya beragam, terkadang maknanya tetap bisa saling dihubungkan.

Kata dasar tersebut memiliki bentuk fisik berupa birkah (بِرْÙƒَØ©), artinya kolam air. Kolam yang airnya tidak mengalir, airnya tidak turun seperti hujan, pun tidak menguap oleh matahari. Kolam yang airnya tetap tinggal dan selalu ada setiap kita menengok ke kolam tersebut.

Selain kolam air, ba + ra + ka juga bisa menjadi kata baraka (بَرَÙƒَ) yang berarti berlutut, kata ini digunakan ketika hendak menunjukkan unta yang menurunkan tubuhnya ke tanah untuk diam di satu tempat.

Dan ba + ra + ka juga bisa menjelma jadi kata barakah (بَرَÙƒَØ©). Terdengar familiar? Dalam indonesia terkenal dengan berkat, berkah, barokah.

Kata KBBI, berkah /n/ karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Sehingga Mubarak dapat dimaknai sebagai keberkahan dengan bentuk kebaikan yang menggenang, tidak luntur atau menguap, tidak tiba-tiba pergi karena ia menetap.

Goodness that stays. That is barakah. That is Mubarak.

Kebaikan yang selalu tinggal. Itulah keberkahan.

Lantas kenapa jadi Eid Mubarak? Kenapa ada tambahan unsur mu-? Kenapa bukan Eid Barak? Atau Eid Barakah?

Nah, kalian cari tau sendiri, lah, wkwkw. Aku nggak tau. Sempat nanya ke LLM (large language model, alias lebih dikenal sebagai AI), tapi bukan kapasitasku untuk menjelaskannya. Kagak punya ilmunya.

Namun, menurut konten yang kubaca, ketika kita mengucapkan “Eid Mubarak.” Ucapan yang terlihat sederhana itu ternyata menyembunyikan makna yang berisi doa. Ketika sebagian orang mengejar kebahagiaan yang selalu bergerak. Barakah adalah sukacita yang selalu menetap.

Semoga kebahagiaan Idulfitri tak pernah surut, dan semoga keberkahan yang kita kumpulkan sepanjang Ramadan tetap tinggal dan menetap, hingga kita dipertemukan lagi di Ramadan selanjutnya.

Eid Mubarak!

Semoga sukacita hari raya tidak berlalu.

Semoga keberkahan hari raya menetap dalam dirimu dan tidak pernah hilang.

Aamiin.

Tabik,

shofwamn.

 ----------------------------

p.s:

berikut tautan dari video dan konten yang kusebut di tulisan.

ceramah Adi Hidayat

#Putbal Panji dan Felix Siaw

makna Eid Mubarak

 

 

 “Kak, kamu kan kemarin abis mudik, sekarang ngerasa homesick nggak?”

“Nggak sih.”

“Soalnya temenku yang ngerantau ke Brisbane nggak pernah homesick, trus dia mudik sekali, pas balik ke Brisbane baru deh muncul homesick-nya.”

“Aku nggak homesick. Tapi aku jetlag dengan kehidupan di sekitarku.”

Hari pertama kembali ke Brisbane.

Aku tiba di apartemen pukul 12 siang, istirahat sebentar lantas pergi ke shopping centre (beli makan siang, kirim paket, groceries), kembali ke apartemen, packing untuk ke Tasmania, menjelang maghrib pergi ke tempat kak Kania untuk naruh bagasi, ngurusin final packing, balik lagi ke apartemen, serah terima barang jastipan.

Ini hari pertamaku dan aku sudah melakukan banyak hal.

Rasanya langsung direset kembali ke rutinitas Brisbane.

Tanpa aba-aba, tanpa ada yang memperhatikan, tanpa ada yang tau.

Dua hari lalu aku masih di Jakarta.

Kemarin aku masih di Manila.

Hari ini aku sudah kembali ke Brisbane, yang menyambutku dengan biasa saja.

Rasa-rasanya satu bulan terakhir yang kulalui tidak ada harganya.

Astaga.

Mengerikan sekali.

Aku seakan terjerumus ke dalam lingkup lingkaran dunia yang selalu berputar, dengan kamu atau tanpa kamu di dalamnya.

Dunia yang menganggapmu bukan siapa-siapa.

Dunia yang bisa menggantimu dengan siapa saja.

Kenangan yang kumiliki, kenangan yang menjadi hak aku, kenangan yang tidak dipedulikan oleh dunia di sekitarku, kenangan yang berharga bagiku.

Tanpa jeda mencerna, tanpa jeda mengapresiasi. Kenangan itu, yang berisi momen hangat bersama orang-orang tersayang, berubah menjadi tidak berarti.



Hari ini sudah sepuluh hari berlalu sejak aku kembali ke Australia.

Kemarin apartemen-mate ku baru saja tiba dari kampung halamannya.

Malam ini dia mengagetkanku karena berdiri di depan sink cuci piring dengan pakaian rapi siap-siap untuk keluar, pukul 9 malam.

Ternyata dia langsung kembali bekerja, shift malam.

Aku terhenyak.

Apakah dunia memang tidak mengizinkan jeda?

Terkantuk-kantuk aku menggoreng sebutir telur di dapur, kutengok layar gawai "oh masih jam 04.05, adzan subuh jam 04.24, masih ada waktu untuk makan ngebut," batinku sambal mengaduk telur menjadi orak-arik. Sembari menunggu cairan kuning berubah padat sempurna, aku menoleh ke arah luar. Dapur apartemen hanya dibatasi oleh pintu kaca dengan ruang tamu dan pintu ruang tamu yang menuju balkon depan memang materialnya kaca, jadi, ya, bisa langsung keliatan ada apa di luar.

“Langitnya udah agak berwarna? Sekarang matahari terbit lebih cepat kah?” pikirku heran, aku jarang memperhatikan perubahan warna langit saat fajar. Masih tidak merasa ada yang janggal.

Berkali-kali mengecek waktu untuk memastikan pergantian menit, aku membawa sepiring sahur ke kamar saat jam menunjukkan pukul 04.10, kulahap menu sahur yang sederhana itu dengan cepat. Aku bukan penganut paham ‘berhenti makan saat imsak,’ bagiku selama belum adzan maka tetep gas buat makan minum no need to stop. Mengucap hamdallah ketika berhasil menandaskan isi piring dalam waktu singkat, aku masih bisa minum dengan santai sembari menunggu subuh. Namun aku sedikit kebingungan ketika angka 04.24 muncul di layar.

“Hmm? Kok shuruq-nya 20-an menit lagi? Tumben cepet banget? Biasanya selisih satu jam dari waktu shubuh?” pikirku heran, aku langsung mengkalkulasikan kenapa jaraknya sedekat itu, lantas…

ASTAGHFIRULLAH

YA ALLAH

Astaghfirullaahalladziim

AKU SALAH LIAT JAM DARI AWAL!

Ketika aku mengira sedang menggoreng telur jam 04.05, nyatanya saat itu udah jam 05.05! Aku sama sekali nggak sadar, sepertinya karena fokus melihat menit sehingga sama sekali nggak ngeh dengan angka yang menunjukkan jam. Pantesan langit udah mulai berwarna!

Nggak tau hukumnya gimana (apakah bisa puasa? apakah nggak apa-apa? apakah puasanya batal?), tapi saat itu aku langsung wudu untuk salat subuh sambil tetap terheran-heran kenapa nggak sadar. Tetap memutuskan untuk berpuasa. Alhamdulillah atas rezeki sahur melebihi jam sahur(?)

foto: pagi 1 Syawal 1446 H

Begitulah momen sahur paling epik yang pernah kualami di ramadan perdana tanpa teman muslim yang tinggal bareng seatap, tahun pertama aku menjadi mandiri dalam menyiapkan sahur serta buka puasa. Ternyata sulit banget wkwkwkw cry, paling sulit ngurusin sahur, salut sama para ibu yang bangun dini hari untuk menyiapkan sahur keluarganya, salut untuk siapapun yang terbangun di sepertiga malam agar para penghuni rumah bisa langsung sahur begitu bangun tidur soalnya PUSING BANGET WEH MIKIRIN MENU SAHUR HUHU. Cuma bikin menu telur goreng aja bagiku udah butuh banyak waktu. Di bulan puasa kali ini, 95% menu sahurku sudah kusiapkan dari malam sebelumnya jadi hanya butuh dipanasin di microwave aja. Itu pun capek.

Capek atau males yha hmmmz, beda beda tipis lah.

Alhamdulillah ramadan di Brisbane mulainya di musim gugur, sempet khawatir karena saat musim panas subuhnya jam 03.41! aku nggak akan bisaaaa survive untuk sahur tiap hari kalau ramadannya di musim panas. Namun karena sudah masuk musim gugur, waktu subuh dan magrib tidak jauh beda dengan Indonesia, durasi puasa sekitar 14 jam. Masih normal. Apalagi hampir setiap hari waktu subuh mundur dan waktu magribnya maju. Subuh tanggal 1 ramadan pukul 04.21 dan magrib di 18.20. Saat 30 ramadan, subuhnya jam 04.39 dan maghribnya jam 17.48.

sc: pinterest

Sesungguhnya aku tidak banyak mencari tahu tentang kegiatan-kegiatan khusus ramadan di Brisbane, kayak… yaudah jalanin aja bulan puasa seperti biasanya(?) nggak perlu lah cari kegiatan tambahan, macam ko punya waktu untuk itu wkwkwk orientasi pikiranku adalah kuliah kuliah tugas organisiasi kuliah kuliah. Namun rasanya sayang bila nggak menambahkan ‘bumbu nuansa islami’ selama bulan suci, sehingga aku memutuskan untuk melakukan hal kecil dengan bergabung ke sebuah kepanitiaan bernama SERAMBI dari IISB.

Setiap tahun, Indonesia Islamic Society of Brisbane membentuk kepanitiaan SERAMBI (Semarak Ramadan di Brisbane) untuk menghidupkan suasana bulan suci di daerah minoritas muslim ini. Programnya beragam, ada tarling (tarawih keliling) yang mana panitia akan menyediakan ustaz kemudian membuka kesempatan untuk orang lain menjadi host/tuan rumah tarling. Berhubung tidak banyak masjid di area Brisbane dan sekitarnya sehingga kadang-kadang salat tarawih diadakan di rumah orang. Melalui tarling, aku jadi bisa merasakan buka bersama warga Indonesia di Caboulture, pun bisa berkunjung ke Gold Coast (bonus: melihat kondisi pantai Surfers Paradise paska siklon Alfred!).

SERAMBI juga mengadakan Grand Ifthar yang rencananya dilaksanakan di tiga lokasi (Griffith, QUT, dan UQ). Qadarullah saat jadwal di Griffith bertepatan dengan kedatangan siklon Alfred sehingga acara dibatalkan karena kampus tutup. Saat jadwal QUT, panitia tidak berhasil mendapatkan ruangan karena semua ruangan kampus difokuskan untuk kegiatan kelas pengganti akibat siklon. Alhamdulillah agenda di UQ berjalan dengan semestinya dengan dihadiri oleh sekitar 400-an peserta, angka yang melampaui eskpektasi panitia soalnya bertepatan dengan jadwal pertandingan timnas di Sydney. Kirain nggak bakal nyampe 400 orang berhubung banyak yang pergi ke Sydney untuk mendukung pertandingan sepakbola yang ujug-ujug hasil tandingnya 5-1. Ngomong-ngomong, hari ketika jadwal Grand Ifthar di UQ adalah hari yang padat untuk panitia! Ada 4 kegiatan lain yang perlu diurus: Islamic Parenting Talk, Pesantren Kilat Kids, Pesantren Kilat Teens, dan Tarawih Keliling di Sunshine Coast. Aku nggak akan ngomongin agenda-agenda tersebut supaya tulisan ini nggak bernuansa LPJ-an wkwkkw.

Di sisi lain, terlibat dengan beragam agenda SERAMBI membuatku tidak eksplor ke agenda ramadan yang diadakan oleh organisasi lain. Misalnya UQ Muslim Association mengadakan buber di kampus tapi aku tidak berpartisipasi (nggak tau infonya), UQ Muslim Chaplaincy mengadakan salat tarawih tiap malam di kampus tapi aku nggak pernah nyoba (bingung ngatur jadwal karena selesainya malam, perlu nyocokin sama jadwal bus dan kelas), beberapa masjid di Brisbane memfasilitasi I’tikaf di 10 malam terakhir Ramadan tapi aku tidak pergi iktikaf (niatnya kurang kenceng?). Keadaan-keadaan tersebut memunculkan niat melakukan eksplorasi jika tahun depan diizinkan untuk bertemu lagi dengan ramadan di Brisbane. Tahun ini ramadanku berfokus ke sosialisasi sama orang-orang Indonesia sajaaa.

Lantas, bagaimana dengan suasana Idulfitri?

sc: pinterest

Sesungguhnya tidak sulit mencari tempat salat Id, pilihannya banyak, termasuk kampusku sendiri. Langsung mikir untuk salat di kampus aja pas tau ada salat Id di UQ, nggak ribet mikirin transportasi dan seusai salat bisa langsung nongkrong di perpus(???), tiada tanggal merah di Idulfitri. Sempet selintas mau nyobain salat di daerah Springfield tapi tidak jadi kulakukan.

Aku berangkat sekitar pukul 6 lewat, janjian dengan kak Jannah di halte bus dekat UQ sign untuk sama-sama pergi ke lokasi salat yang mana merupakan parkiran mobil. Unik, ya? Salat di parkiran. Kami tiba pukul 7 pagi, situasinya masih sepi, di area perempuan baru ada satu saf yang terbentuk. Belum kerasa hawa-hawa lebaran soalnya sound system belum mengeluarkan suara takbir Allâhu akbar... Allâhu akbar... Allâhu akbar... Lâ-ilâha-illallahu wallâhu akbar. Allâhu akbar walillâhil-hamd.

Perlahan-lahan area parkiran ramai oleh kedatangan orang-orang dengan tujuan yang sama, satu saf perempuan berubah menjadu 2 saf, 3 saf, 4 saf… gatau deh totalannya jadi berapa baris. Tidak ada ibu-ibu yang muter sembari memegang sajadah buat tempat infak. Suara takbir nggak kedengaran (ntah telingaku yang bolot, suaranya kecil bangeeeet, atau emang nggak diputer). Eh tiba-tiba aja pada berdiri dengan posisi siap salat, oh wow sungguh membingungkan karena aku nggak denger arahan sama sekali.

Rakaat pertama… buset imamnya cepet banget bertakbiratul ihram. Beneran batinku baru mengucap ‘subhanallah…’ terus udah takbiratul ihram lagi. Baru kali ini aku salat Id dengan pace antar-takbir yang super singkat. Tapi bacaannya indah, jelas, enak didengar, mashaAllah. Saat rakaat kedua malah bikin bingung loading sesaat soalnya pak Imam langsung membaca alfatihah, nggak ada takbir berkali-kali. Waw, pengalaman baru buatku.

Sayangnya aku sama sekali nggak bisa mendengar khutbah Idulfitri:’) suara sound systemnya nggak gahar deh, terlalu kecil. Apalagi area ibu-ibu ntah kenapa jadi berisik sekali. Suara orang ngobrol, suara anak-anak, sulit untuk fokus mendengar apa yang disampaikan oleh ustaz yang sedang memberi ceramah.

Sehabis salat Id, aku dan kak Jannah pergi ke Merlo Café yang lokasinya berada di area kampus. Kami memesan kopi dan beberapa pastry untuk sarapan sembari ngobrol-ngobrol dikit tentang suasana berlebaran di Brisbane. Bagi kak Jannah, beberapa hari yang lalu ia sempat merasa biasa saja menyambut lebaran namun jadi terenyuh di malam takbiran ketika memutar takbir dari Youtube. Bagi aku, tidak ada kesedihan karena nggak berlebaran bersama keluarga, hari Idulfitri adalah hari yang akan kumulai dengan salat Id lantas kujalani seperti biasa karena ada jadwal kuliah, kemudian melakukan panggilan video keluarga di malam hari.

Bentar bentar, apakah ketiadaan agenda kumpul-kumpul dan ketiadaan ketupat adalah sesuatu yang mengenaskan? Kok macam menyedihkan kali konsep lebaranku yang sendirian ini wkwkw.

Tapi nggak juga.

During Ramadan, I reflected on WHY I did these things: the fasting, the tarawih, the additional deeds. I also wondered as Syawal approached, I don’t know what Eid al-Fitr is supposed to be, nor do I know how I am supposed to feel. Is Eid al-Fitr really Eid al-Fitr without rendang, opor ayam, ketupat, nastar? Is Eid al-Fitr really Eid al-Fitr without silaturrahmi?

Kuakui aku nggak terlalu punya keterikatan batin dengan Ramadan tahun ini. I mean, it has a sad side because I can’t gain multiple deeds anymore, which was the special opportunity of Ramadan. But people come and go, and the month also comes and goes. It's just a part of life (or time)????!" Begitupun dengan Idulfitri, it just the ends of the fasting periods and the starts of the new routine.

Maybe I am missing some parts about it. I do not know.

Salah satu hal yang aku suka ketika berpuasa di Brisbane adalah… kenormalan yang terjadi di sekitar? Aku nggak tau ini hal baik atau buruk, ya. Bagiku sih baik wkwkw. Ketika puasa, dunia di sekitarku berjalan seperti biasa. Restoran tidak mendadak berubah jam operasionalnya, tempat makan tetap ramai di waktu makan siang, orang-orang berjalan dengan memegang segelas kopi atau minuman lainnya. Hanya karena aku puasa, bukan berarti sekitarku harus memaklumi. Dan itu yang aku suka, aku tetap bisa ibadah terlepas dari ketiadaan dukungan lingkungan.

Di lebaran tahun ini, aku mendapatkan pesan-pesan spesial yang kehadirannya terasa hangat. Pesan berisi ucapan selamat berlebaran dari teman-teman yang tidak merayakan Idulfitri. Serta pesan yang ditulis secara personal dan dikirimkan melalui personal juga.

Tapi aku nggak banyak menerima pesan dari orang-orang yang merayakan Idulfitri. Dan sejujurnya, itu terasa seperti ironi.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Selamat berhari raya.

shofwamn.

Banyak banget keraguan yang aku hadapi selama beberapa bulan terakhir, keraguan kecil keraguan besar keraguan jamak keraguan tunggal. Apakah adaptasi memang diselimuti oleh ragu? Dan bila memang benar, apa iyaaa harus datang bertubi-tubi? Bertumpuk-tumpuk? Belum selesai mengenyahkan satu ragu, muncul ragu yang lain, hadeh.

Lantas kucari serpihan-serpihan perhatian di dunia maya, mencari tanda-tanda kasih sayang yang mungkin berwujud pesan anonim, cuitan singkat, kiriman lagu, atau sebentuk potret dengan sinyal tertentu. Pencarian yang berakhir nihil.

Adalah harap yang terus membuatku untuk tidak berhenti mencari. Harapan agar bahagia, harapan akan kehidupan yang jauh dari bising isi kepala, harapan untuk hadapi segala keterasingan dengan tegar, harapan mendapatkan apa yang diinginkan.

Di sela-sela patah oleh masalah, kecewa oleh manusia, dan capai oleh asumsi. Tetap tertambat secara kokoh impian mencapai kedamaian. Kapanpun. Selalu.


Dua hari lalu aku menamatkan webtoon berjudul Muse on Fame, komik yang terasa seperti narasi sebuah film alih-alih cerita bergambar. Plotnya terlalu jauh dari realita dengan alur fluktuatif yang terlalu bergelombang dan jedar jeder bikin kaget.

Beberapa hari terakhir aku sibuk bertanya-tanya, apa mimpi orang-orang? Seperti apa hidup yang dijalani oleh orang-orang? Bagaimana mereka mengenyahkan perasaan kebas? Apakah mereka memiliki hasrat untuk terus bergerak? Ataukah menjalani hari seumpama cangkang kosong?

Banyak cuitan berterbangan di sebuah platform yang pernah disebut Twitter, cuitan-cuitan berisi pesan tentang milikilah hobi. Hobi yang akan menyelamatkan dari aktivitas monoton yang menjemukan. Di sisi lain, sebuah postingan berkata bahwa sebuah hobi, setidaknya, harus berkontribusi pada: menambah otot, menambah uang, atau menambah relasi.

Aku pusing.

Aku bingung.

Kepalaku berdenyut-denyut.

Perasaanku berkedut-kedut.

Hampa, hengkanglah.

Ini bukan tempatmu.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes