Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller
Seperti biasa, jika sudah lama tidak memperbarui bianglala maka prolog akan menjabarkan sekian alasan kenapa blog ini tidak pernah diupdate. Alasan-alasan yang kelak akan menjadi basi karena sesungguhnya tidak perlu diceritakan. Kali ini merupakan rekor terlama bianglala ditinggalkan oleh pemiliknya, bahkan di lomba-lomba nulis aja kadang ngasih persyaratan “memiliki blog yang aktif paling lama tiga bulan terakhir.” Syarat yang tentu saja tidak bisa dipenuhi oleh bianglala, enam bulan itu termasuk suatu kemunduran yang super signifikan, yang bikin aku miris melihat archive blog tahun 2018 yang masih nol.

Basic question, kenapa lama tidak update?


Inginnya sih berlindung dibalik kata laporan, ada waktu di mana kata “laporan” merupakan kata yang haram diucapkan, dan kata yang enggan didengar, kata yang membuat telinga langsung bereaksi negatif dan otak menolak dalam memproses yang menyebabkan pening di kepala. Rasanya pingin kurutuk semua tumpukan laporan yang secara otomatis telah mengubah kemampuan kognitifku dengan segala macam istilah baru.

(( kognitif ))

Lebay. Tapi memang benar.

Pantas disayangkan kejadian seperti itu terjadi justru di tengah euforia tahun baru, harusnya tahun baru identik dengan libur dan menikmati hidup. Rehat sejenak dari kewajiban yang saat ini tengah dijalani; seorang mahasiswa. Boro-boro rehat, laporan membuat hari-hari awal bulan Januari terasa lebih berat. Bahkan setelah enam bulan berlalu, laporan masih menjadi beban tersendiri meski sudah bisa sedikit ditolerir dengan tidak terlalu bertingkah lebay seperti saat pertamakali mendapatkan tumpukan laporan yang harus dikerjakan. Istilah singkatnya, adaptasi lumayan berhasil!


Kambing hitam kedua yang ingin digunakan adalah tidak ada yang bisa diceritakan dalam rentang kehidupan selama enam bulan ini, kehidupan yang biasa, rutinitas yang biasa, kesibukan yang biasa, semua serba biasa bagi kalian. Nah, ini sih salahnya. Padahal, perjalanan touring ke Lombok berdelapan saat libur semester ganjil, atau touring nekat Sumbawa-Surabaya-Sumbawa menggunakan motor bareng Ula untuk menghadiri acara pernikahan seorang teman SMA, bahkan peristiwa sesepele shofwa kembali mengikuti lomba menulis dan mendapatkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan sebenarnya cukup untuk dijadikan bahan update. Tapi semuanya tersimpan rapi dalam jajaran daftar draft, semuanya terhenti di tengah jalan. Terhenti karena apa? karena dibayangi oleh kata biasa.



Setelah dipikir-pikir, sepertinya berada dalam lingkup sosial yang lebih luas dari lingkup sosial SMA masih merupakan sesuatu yang belum bisa diterima oleh bianglala #hah lingkup sosial yang lebih besar berarti readers yang semakin beragam, pernah disebut di postingan yang lalu tentang kegundahanku (KEGUNDAHAN, wkwk, kosa kata apaan) terhadap orang-orang yang ditakdirkan untuk ‘nyasar’ ke blog ini, yang ditakdirkan untuk mengunjungi bianglala, agak serem aja gitu ngebayangin ada stranger nyasar kesini terus membaca tulisanku yang memang isinya tentang hidup aku (yaiyalah?! ngapa pula nulis kehidupannya orang lain) padahal mah konsekuensi memposting sesuatu di dunia maya kan memang harus siap di-kepo-in sama stranger. Terkecuali bianglala di-hack atau tidak sengaja terhapus, maka tulisan yang aku buat akan tetap ada dan bisa kalian baca dengan bebas karena aku bukan tipe orang yang suka  menghapus postingan-postingan lama. Makanya aku jadi tidak bisa sembarangan bercerita dengan disadari oleh kenyataan jika tulisan bisa menjadi pisau bermata dua bagi penulisnya, karena secara nggak sadar ada sesuatu yang sedang dibangun dan perlu penjagaan, sesuatu yang sering dinamakan sebagai..... personal branding! Ewh banget gak sih seorang shofwa ternyata jadi peduli sekali dengan yang namanya personal branding, ckck.

Sekarang aku merasa bahwa makin banyak rahasia-rahasia kecil yang tidak ingin aku tulis, makin banyak pikiran-pikiran yang bisa jadi tidak tertampung dengan baik jika ditaruh di bianglala sehingga masih tersimpan sendiri. Terkadang, ada hal-hal yang ingin aku tulis namun tidak ingin dijadikan obrolan di dunia nyata dan pengennya terendap aja di dunia maya tanpa diungkit-ungkit lagi meski  itu merupakan sesuatu yang hampir mustahil, soalnya takut tulisan tersebut tercampur dengan emosi sesaat, udah nulis pake emosi terus nggak dihapus, kacau! Aku tidak mau merusak hubungan interpersonalku hanya karena tulisan yang dibuat dengan emosi. Beberapa kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang membuat tulisanku tidak pernah selesai, tulisan tidak selesai sama dengan makin banyak draft yang menumpuk. 

Draft yang menumpuk = kumpulan sampah-sampah kenangan.

Semua alasan di atas mungkin terpatahkan setelah aku mengobrol dengan kak Ipeh, kak Ipeh ini salah satu teman yang sekarang jadi mahasiswi Ilmu Komunikasi UTS, dia menjadi penghuni sementara BTN Ent untuk beberapa waktu selama periode libur Ramadaan. Keberadaan kak Ipeh sedikit banyak memberiku dorongan untuk meng-update bianglala dalam waktu dekat, apapun yang terjadi harus di-update, enam bulan udah terlalu lama dan kalau dibiarkan bisa-bisa blog aku tutup usia di umurnya yang masih muda. Dua malam sebelum Eid Fitr, aku sedang berada di depan Kai dengan tampilan layar halaman microsoft word yang telah terisi setengah, kak Ipeh juga di depan laptopnya. Jari-jari dia lincah banget di atas keyboard, menulis dengan lancar jaya untuk keberlangsungan hidup wordpress miliknya sedangkan aku sudah beberapa menit menghentikan gerakan jari, membaca ulang tulisan yang telah terketik namun merasa buntu sehingga melontarkan sebuah pertanyaan,

“Kak, biasanya apa yang kak Ipeh tulis di wordpress?”
Dia berhenti seketika begitu mendengar pertanyaanku , "kenapa?"
"Pernah nggak sih kakak kalau nulis di wordpress tapi sebenernya buat seseorang? Atau nggak kakak nulis postingan nih terus ada bagian yang ditulis untuk seseorang tapi kayak tersirat gitu?"
"Maksudmu gimana?"
"Kakak nulis tapi sambil mikirin seseorang. Misalnya nih, aku sama kak Ipeh berantem hebat kan terus nggak lama kemudian aku nulis di blog, di tulisanku ada kalimat yang aku tujuin ke kakak -entah kalimat nyindir entah kalimat apa- tapi itu untuk kakak cuma nggak ditulis secara gamblang."
"Oh aku sih nggak pernah. Soalnya aku kalau nulis ya nulis sesuatu yang pengen aku bagiin."
"Tapi bukan ditujukan juga, hmm apa ya. Kayak kalimat yang dibikin tuh muncul karena terinspirasi oleh seseorang? Nulisnya sambil mikirin seseorang?" ralatku, ngerasa analogi yang aku buat sama sekali tidak menjelaskan poin dari pertanyaanku. 

“Oh! Pernah-pernah, aku punya temen yang sesama blogger juga terus...”

Jawaban kak Ipeh waktu itu agak panjang dan butuh aku cerna perlahan, kemudian membandingkan jawaban itu dengan kondisiku sambil menatap layar Kai, membaca tulisan yang sudah setengah jadi.

Malam itu dugaan baru muncul bersamaan dengan kenyataan yang baru aku sadari, bisa jadi aku memang vakum lumayan lama dari bianglala karena jika nulis, takutnya akan ada kalimat-kalimat tidak jelas dengan tujuan yang ambigu. Mending kalau masih kalimat, yang parah itu kalau a whole postingan memang ditujukan untuk satu orang tapi malah ditaruh di blog ini.

Sungguh perbuatan yang ceroboh.

Ternyata rentetan laporan yang terus membayangi, privasi pribadi yang tidak ingin sembarangan dibagi, atau objek bianglala yang masih belum terdeteksi bukan alasan terbesar kenapa aku pergi selama enam bulan. Ternyata selama ini vakum karena secara tidak sadar khawatir akan membuat tulisan yang bidikannya tidak pasti.

#ditempelengmassa

souce: webtoon

Selama enam bulan terakhir, aku sama sekali tidak mencari usaha agar bianglala bisa di-apdet lebih cepat, misalnya berusaha berbaur dengan orang-orang yang juga aktif menulis agar termotivasi dan tersemangati, dalam kasusku hal tersebut tidak akan banyak membantu karena sudah lama sekali aku tidak memiliki ketertarikan dengan forum-forum menulis online, terakhir kali mengikuti forum menulis itu saat kelas 10 kalau tidak salah, tidak bertahan lama dan alhamdulillah ada dua puisi yang tercipta dan sampai sekarang masih suka dibaca. Kalau selama ini kalian menemukan aku tertarik dengan forum menulis online, itu nggak lebih dari rasa penasaran, keinginan untuk mendukung, ataupun hanya sopan santun belaka, bukan semata-mata didasarkan oleh perasaan ingin menjadi bagian di dalamnya. Rata-rata, forum menulis online yang aku tahu merupakan forum tempat berkumpulnya banyak sekali gaya menulis dengan penggunaan diksi yang rame oleh kata-kata kiasan serta tulisan-tulisan yang maknanya masih perlu diterawang terlebih dahulu.

Ngerasa nggak sih, hidup udah kebanyakan mikir, mending gak usah nambah-nambah pikiran dengan membaca tulisan yang diksinya rame oleh kata kiasan wkwk. Apalagi kalau udah disandingkan juga dengan istilah-istilah yang tidak diperuntukkan bagi orang awam, wassalam, tulisan-tulisan semacam itu enaknya dibaca temporary ketika memang ingin berpikir lebih jauh, lebih dalam, lebih luas. Atau dibacanya pas emang lagi pengen bergalau ria, banyak kan tulisan begitu yang memuat unsur-unsur galau. Tidak cocok dibaca ketika sedang ingin membaca tulisan yang ringan-ringan aja.

Itu sebabnya aku enggan mengikuti forum menulis online daripada  terdistraksi oleh berbagai macam gaya menulis yang kelak bisa mencemari blog ini. Untuk menulis, terutama menulis blog, lebih ingin improvisasi sendiri. Mau membesarkan bianglala tanpa perlu mendapatkan motivasi motivasi maya dari anggota forum yang tatap muka secara langsung aja belum pernah. Jika butuh panutan, cukup dengan kak Ron dan kak Nadi saja.

#Teteup #HidupLoyalty


Ngomong-ngomong, sebulan terakhir aku jadi sering memakai dan merenungi kata denial semenjak seorang teman memberi nasehat sebagai tanggapan dia terhadap peristiwa yang menurutnya tidak patut terjadi, dia memberi banyak masukan dan pemahaman bukan cuma tentang peristiwa itu aja. Salah satu kalimat yang dikatakannya dan masih terngiang-ngiang sampai sekarang adalah,

 "Shof, menurutku kamu udah denial."

Wkwk denial katanya, wkwk, gue diberi justifikasi kalau udah denial.

"Hmm, bentar. Denial yang kayak gimana nih maksud kamu?"

"Dengan kamu menolak kenyataan bahwa memang seharusnya kamu nggak begini tapi kamu malah seperti menyalahkan keadaan."

Membantah bahwa aku sedang denial bukankah sama saja seperti mengakui jika aku memang denial?


Setiap orang pasti punya caranya masing-masing dalam menghadapi keadaan baru, pun punya problem solving-nya masing-masing dalam menangani masalah yang muncul akibat dari keadaan baru tersebut. Basically, ada dua respon yang saling bertolak belakang yang akan aku tunjukkan dalam menghadapi keadaan baru: 1) excited, 2) cemas. Dalam hal ini, aku sempat menghadapi keadaan yang belum pernah aku alami sebelumnya dan aku merasa excited terhadap hal tersebut. Masalahnya, sebenarnya aku paham bahwa perasaan excited yang kumiliki ini bisa bermakna ganda jika dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Misalnya permasalahan KPOP deh, dari kacamata para kpop fans, menjadi penggemar dari musik-musik Korea bukan sesuatu yang salah ataupun sesuatu yang buruk. Namun dari kacamata lain, menjadi kpop fans itu tidak baik dan tidak memberikan banyak manfaaat apalagi jika sudah fanatik. 

Contoh lainnya kayak seorang anak gadis kecil yang diajak orang tuanya main ke hutan untuk pertama kalinya, gadis kecil tersebut excited banget dan melakukan banyak hal, salah satunya dengan mencoba  memanjat pohon. Ayahnya menganggap tingkah tersebut biasa, biarkan gadis kecil itu bermain dengan bebas. Sedangkan Ibunya beranggapan bahwa itu bahaya, tidak pantas dilakukan oleh anak perempuan.

Perasaan dari tadi bikin analogi kenapa nggak bener mulu dah.

Kondisi yang aku alami bisa dinilai salah, bisa dinilai benar, tergantung kamu melihatnya menggunakan kacamata apa.

Waktu itu rasanya pengen menyangkal kalau aku nggak denial hanya saja aku tau dia sedang memakai sudut pandang yang mana. Ada rasa syukur yang mendadak muncul karena setidaknya aku tahu sudut pandang yang dia pakai itu tidak akan membuatku menjadi pribadi yang lebih buruk lagi (semoga).

source: webtoon

Di dalam habluminannas (halah), alias di dalam hubungan manusia dengan manusia, kebenaran dan kesalahan yang absolut itu tidak ada, kebaikan dan keburukan yang absolut juga tidak ada. Mungkin kamu anggap sesuatu itu benar, namun bisa jadi salah bagi orang lain. Mungkin juga yang menurut orang lain buruk, bisa jadi menurutmu baik. Inget, ini konteksnya hubungan manusia dengan manusia, tidak pake campur tangan dari sisi spiritual.

Sepertinya aku sudah sering sekali menulis tentang ini di segala platform online yang aku punya, temen-temenku yang suka menyempatkan waktu untuk membaca tulisanku juga mungkin tahu seberapa seringnya aku nulis ini, tentang sikap skeptisku terhadap makna pertemanan.. Aku nggak pernah meminta harus dilakukan seperti apa, aku mencoba untuk tidak membuat mereka terbebani karena sudah berteman denganku. Dulu aku memang punya harapan tentang satu sosok teman yang ingin aku capai, namun makin kesini harapanku buat punya sesosok temen yang sesuai dengan bayanganku makin menghilang. Aku punya banyak temen yang bikin aku nyaman dan aku sayang sama mereka tapi nyaman dan sayang aja nggak cukup untuk membuat harapanku tercapai #ehgimana

Dan aku pun tidak peduli jika harapan tersebut benar-benar menghilang. 

Makanya aku belajar untuk bahagia dan sedih hanya dengan diri sendiri. 

So, when i think i finally found someone who can be my reminder, i felt so relieved because finally I end up to not having keep the secret just for myself. But, not long left, someone who i thougt that could be my reminder, someone who judged me that I was denial said, "Oke, aku akan tidak peduli lagi, It’s whatever you want, whatever you will, and whatever you do."

Sebulan yang lalu dia memberikan justifikasi denial padaku, sebulan yang lalu aku senang karena ada yang mau peduli sama aku dan mungkin dosa-dosa yang aku buat.

But, the whatever-thing has came.

A friend of mine said whatever.

Terserah kamu ingin apa, terserah kamu mau apa, terserah kamu mau ngapain.

Terserah, kata dia terserah.

Haha, ketawa miris dulu boleh nggak sih.

Serius. Words can be so harsh if we didnt put it in a good time with a good feeling.

Gampang banget loh bikin aku pesimistis terhadap masalah yang penyelesaiannya masih membuatku gamang (gamang karena aku terlalu keras kepala, udah tahu mana yang baik, tapi yang baik tidak selamanya ‘baik,’ makanya masih gamang), gampang juga bikin aku membuat sekat baru, sekat yang menciptakan batasan-batasan terhadap cerita seperti apa yang sebaiknya aku berikan kepada teman-temanku, dan cerita seperti apa yang sebaiknya kusimpan sendiri.

Meski sempat tertegun sejenak dengan kalimatnya tapi aku nggak marah karena kalimat tersebut kembali menyadarkan bahwa pada akhirnya juga bakalan sendiri, pada akhirnya juga berjuang untuk diri sendiri.

Orang lain ada untuk menjadi pendorong sementara yang tidak bisa diandalkan setiap saat, sebagai support system yang pasti membutuhkan timbal balik, sebagai perwujudan dari peduli yang memiliki batas. Terkadang, keberadaan orang lain di kehidupan kita dapat dijadikan tolak ukur, sudah seberapa mampu kita berjuang untuk diri sendiri.

Kita berjuang untuk hidup yang tidak kita minta (ehiya nggak sih? atau sebelum ruh ditiupkan di hari ke-120, di lauhul mahfudz sana udah ditanya apakah kita mau hidup atau enggak?), kita berjuang untuk menerima kehidupan yang kita punya, kita juga berjuang untuk memiliki akhir yang menurut kita baik, kita berjuang untuk akhir cerita yang membuat kita tidak merasa menyesal karena sudah menjadi manusia.

Wow, Didnt imagine that i could make a too deep sentence.



Keberadaan seseorang juga bisa menjadi suatu momentum untuk mencoba merasakan sebuah perubahan. Pernah nggak sih kalian berubah demi seseorang? Atau berubah untuk seseorang?
Pernah nggak sih kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah kalian lakukan sebelumnya, dan itu karena seseorang?

Jika pernah, selamat. Kalian masih memiliki jiwa sosial sebagai makhluk sosial. Kalian masih memiliki jiwa peduli dan kesadaran untuk berbenah diri.

Aku? Apakah aku pernah?

Nggak mungkin lah aku nanya begitu kalau tidak mengalaminya sendiri, ngapain membuat pertanyaan seperti itu kalau tidak pernah mengalaminya, mau ngasih ceramah? Buang-buang waktu amat yak, ngasih ceramah ke orang yang belum tentu mau diceramahi.

Temenku yang membuatku untuk mengambil sebuah keputusan dalam perubahan ini bukan temenku yang bilang whatever. Jadi postingan ini emang isinya ghibahin temen sendiri wkwk, ndak perlulah aku sebut nama kedua temenku, salah satu alasan kenapa aku nggak mau sebut nama kalau sedang bercerita tentang teman sedetail sekarang karena aku ndak mau membuat kalian-kalian memiliki prasangka ke temenku, mungkin kalian mengenalnya tapi gak deket, mungkin kalian tau tapi hanya sebatas tau, atau bahkan mungkin kalian sama sekali tidak tahu mereka. Nda mau aku tu membuat temenku diprasangkai oleh kalian-kalian yang aku tak tahu siapa, oleh kalian-kalian yang bisa aja lebih cepat suudzon daripada husnudzon tujuh puluh kali. Soalnya kalau prasangka yang muncul malah prasangka buruk, bisa-bisa jadi dosa jariyah. Kalian mau nebak? Ya boleh boleh saja walaupun aku tidak akan melakukannya jika jadi kalian, terkecuali memang kalian memiliki banyak waktu yang bisa dibuang untuk sesuatu yang tidak berguna.

Daripada menebak-nebak, mending nanya langsung ke aku, bukankah begitu?

Tentu saja tidak akan aku jawab wkwkw.

Temenku yang kedua dan tidak perlu kusebut namanya ini, dia tidak pernah memberikan saran apapun, tidak pernah memberi advice apapun, tidak pernah mengatakan "shof mending kamu..." "shof kayaknya kamu bagus kalau...." "shof kenapa kamu nggak mencoba...". Tidak pernah memberi tahu pendapat dia tentang harus seperti apa aku.

I love the freedom!
Wkwkw.

Ok. Kebanyakan tawa. Lanjut.

Justru biasanya kita bisa memikirkan sebuah perubahan karena orang-orang yang hanya lewat di kehidupan kita, yang mungkin hanya mampir sejenak, yang mungkin hanya datang memberi kesan. Sesimpel chatt aku dibalas oleh kak Ron di akun Line official lalu bikin aku semangat dengan bianglala, sesimpel membaca tulisan kak Nadi yang menjadi agen muslimah di negara orang dan membuatku ingin lebih mengenal agamaku sendiri, temenku dengan perilaku tidakpernahnya membuat aku mengambil sebuah keputusan untuk mencoba sesuatu baru, sesuatu yang sama sekali tidak ter-setting sebagai goals yang ingin aku raih.

Keputusan untuk mengambil sebuah perubahan adalah karena aku melihat dia nyaman berada di suatu tempat, lalu aku penasaran, apakah jika aku kesana aku juga akan merasa nyaman? Mungkin bakalan seru kalau aku bisa mengobrol sama dia di tempat yang membuatnya nyaman tersebut.

Kalian pasti punya temen yang akrab karena satu kesamaan, entah itu hobi, kebiasaan, tingkah laku, masa lalu, cita-cita apapun itu yang membuat kalian merasa bisa berteman dengan seseorang.

Ya gitu, niatnya mau nyusul tapi sepertinya nggak kesampaian deh hehe.

Dia udah kayak member tetap di tempat tersebut sedangkan gue mau masuk aja kudu ngehadepin para penjaga dulu.

Untungnya aku berubah tanpa dia tahu kalau perubahanku terjadi karena dia sehingga aku tidak perlu memiliki tekanan untuk mencapai tingkat perubahan tertentu, tapi kayaknya temenku ini udah tahu deh soalnya aku udah pernah bilang, beberapa bulan lalu, ya bilangnya secara tersirat sih, tapi dia lumayan jago mengartikan hal-hal semacam itu, kayaknya wkwk.

Lagian kalau temenku tau dari awal, itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku tidak memiliki tekanan untuk mencapai tingkat perubahan tertentu. Semisal dia memberikan saran, tentu saja tidak akan kutelan mentah-mentah. Aku yang memutuskan berubah, aku yang tahu sampai sejauh mana perubahan yang aku inginkan.

Aku nggak sebodoh kerbau dicocok hidungnya yang bakalan manut begitu aja.

Niat berubah yang paling mulia memang yang lillahitaala, niat itu bisa diperbarui seiring berjalannya perubahan yang telah terjadi pada diri sendiri tanpa perlu menghabiskan banyak waktu. Tetapi, perilaku yang berubah? kebiasaan yang berubah? proses yang mereka butuhkan tidak sesingkat merubah niat. Sah-sah aja kalau mau berubah demi seseorang, karena seseorang, untuk seseorang, selama perubahan itu bisa membawa kamu mendapatkan lebih banyak kebaikan #asiq

Yang nggak boleh tuh berubah menjadi yang bukan kamu demi seseorang. Berubah menjadi kamu yang tidak bisa kamu kendalikan demi seseorang. Berubah agar kamu bisa mencapai harapannya seseorang padahal harapan manusia itu sifatnya dinamis.

Jangan sampai kehilangan jati diri mbakyu lan kangmas.

Setelah hampir satu tahun hidup dengan perubahan ini, aku mencapai pemahaman kalau aku akan berubah (lagi). Bentar.. bentar, dari tadi kalian tidak aku kasih tahu ya perubahan apa  yang udah aku alami? HAHAHA, itu nggak penting lah.  Intinya, perubahan setahun ini sudah banyak memberikan pengalaman-pengalaman berharga dan juga momen-momen yang berkesan, tapi aku sama sekali tidak mau mengulangi pengalaman dan momen tersebut meskipun bisa saja pengalaman dan momen yang terbentuk di masa depan akan berbeda dengan yang aku alami setahun ini, aku sudah merasa cukup. Terkecuali jika ada situasi atau kondisi tertentu yang membuatku harus kembali hidup seperti sekarang.

source: seorang selebask yang baik hati namun tak ku kenal

Selama menulis ini, aku juga memikirkan bagaimana cara untuk membuat titik temu antara isi dengan judul postingan. Kalian semua harus tahu bahwa membuat judul postingan kadang mampu menimbulkan problematika tersendiri.

Sebenernya bikin judul itu simpel, akunya aja yang ribet, kekeuh pake judul ini karena suka sama padanan katanya wkwk. Tiga kata yang menjadi judul postingan ini berasal dari status whatsaap seorang teman lawasku yang kalem, yang sedang belajar di Sastra Indonesia makanya aku suka bercakap-cakap sama dia (suka tapi udah nggak sering), supaya bisa dikoreksi saat kalimatku nggak bener, dan supaya bisa mendapatkan kosa kata baru, ataupun ilmu baru.

Ketika aku menanyakan maknanya, dia menjawab “kalau yang aku buat kan nggak pake tanda koma Shof, jadi: angan ingin angin. Aku berangan ingin punya angin. Pemaknaanmu gimana?”

“Setelah ngubek kbbi, untuk sementara ini aku memaknainya sebagai: khayalanku yang menginginkan sebuah kesempatan.”

Siapa sih yang nggak punya khayalan? Tiap orang pasti memilikinya, tiap orang juga pasti pernah melakukannya; berkhayal.

Tentang denial, sekarang masih dalam proses kok (doakan ya!)  proses memastikan apakah denial ini nyata ataukah opiniku yang nyata (meski sebenarnya aku udah tahu) (wkwk) (lantas apakah memang benar denial) (hmm). Poin utamanya bukan menghapus justifikasi denial, tapi menyelesaikan masalah penyebab justifikasi tersebut muncul.

Nah, bingung nggak lo.

Aku yakin aku membutuhkan banyak waktu untuk memulai perubahan yang akan aku lakukan, dan mencapainya akan membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi, banyak langkah-langkah yang harus dilalui satu per satu, prosesnya tidak sebentar, godaannya juga pasti tidak sedikit. Eh kenapa jadi berlebihan gini padahal mah perubahan tersebut bukan merupakan sesuatu yang spesial (bagi kalian) (kalau bagiku, tentu aja spesial because i love freedom!).

Khayalanku yang kadang-kadang absurd sedang menginginkan kesempatan, kesempatan berubah menjadi yang aku inginkan.

Karena hidup ini kenapa suka sekali minta diumpat padahal kan harusnya disyukuri.

Hehe.

waving
shofwamn.

ps: terimakasih Tyas untuk Angan Ingin Angin-nya:) semoga setelah ini kita menyapa bukan ketika butuh saja ya hehe.

Sebenarnya, alih-alih merasa sedih karena belum diizinkan untuk pulang, aku justru excited ketika mengetahui akan merayakan Hari Raya di Sumbawa, yang mana sekarang menjadi tanah rantauan.

(kesampingkan saja segala cerita kepulangan yang ada, plus kisah tentang para anggota bilang-gak-pulang-tapi-mendadak-pulang kleb)

 cr to: Ulala

Hari ini, aku dan Aiko kesiangan berangkat ke tempat sholat. Memang lapangan buat sholatnya nggak luas-luas amat sedangkan jama’ah membludak dan itu membuat ruas-ruas jalan digelari oleh berbagai macam karpet atapun koran bekas (yang tidak dipungut lagi, meninggalkan sampah koran di mana-mana -__-) yang bikin aku berdecak adalah, penataan jama’ahnya kurang terorganisir. Masa di belakang shaf aku isinya bapak-bapak, terus dua shaf di depanku juga diisi sama bapak-bapak. Udah nggak bener, tapi mau gimana lagi, baru kali pertama sholat Eid Fitr di Sumbawa dan datangnya agak telat jadi nggak menyangka kalau shafnya bisa random seperti itu.

Ketika tahu kalau lebaran kali ini akan dihabiskan di Sumbawa, sudah merencanakan beberapa hal, salah satunya adalah: masak! Setidaknya berusaha agar bisa makan enak ketika Lebaran dan sebisa mungkin menghindari konsumsi micin di Hari Raya. Niat baik pasti akan bertemu dengan niat baik karena beberapa hari sebelum lebaran, seorang kakak tingkat yang juga tidak mudik bernama teh Shofy menghubungi aku melalui layanan whatsapp,

“Uwaa, anak-anak BTN halbi yuk! Kita masak-masak buat makan bareng.”

Sejak bulan September 2017, aku bersama sembilan orang temen mengontrak sebuah rumah yang kami namai sebagai BTN Entertainment (ada Instagramnya loh! check @btn_ent). BTN Ent sendiri berlokasi di BTN Bukit Permai dan memang banyak mahasiswa UTS yang mengontrak ataupun nge-kost di wilayah tersebut, sehingga dibentuklah aliansi PPN-BTN dengan anggota para mahasiswa yang tinggal di wilayah PPN ataupun BTN agar bisa saling membantu jika membutuhkan. Dari sepuluh orang pemegang saham BTN Ent, hanya delapan orang yang menghuni kontrakan tersebut. Alhasil, aku dan Ula yang sama-sama memutuskan untuk tidak pulang diberikan mandat untuk menjaga BTN Ent selama libur Ramadaan dann Eid Fitr karena enam penghuni lainnya menjadi bagian #TeamMudik2018

“Kapan tuh? Anak Aliansi nih?”

“Iyaa, tapi kalau ada himara (himpunan mahasiswa rantau) lain yang mau join ya gapapa.”

Ekspektasi aku nih ya, ajakan tersebut memang ajakan untuk anak-anak aliansi yang memang tidak mudik. Makanya aku kaget ketika kemudian teh Shofy menyebar broadcast halbi, bahkan ada posternya pula. Setiap melihat nama-nama peserta halbi yang di-update di grup, aku sembari membayangkan berapa banyak energi yang harus dikeluarkan untuk bersosialisasi dengan manusia-manusia yang mayoritas tidak kukenal.

Aduh, bakalan capek banget.



Bukan bermaksud untuk membatasi diri atau bersikap ansos, tapi kembali lagi ke ekspektasi aku bahwa itu merupakan acara makan-makan untuk aliansi agar feel kekeluargaannya bisa lebih dapet, agar nggak merasa sendiri saat Lebaran.

Tapi, sebenernya aku juga terbuka dengan open house, kapan lagi gitu ngadain makan bareng di hari kemenangan? Nggak papa sih kalau emang banyak yang datang ke halbi, nanti anak-anak aliansi bisa menjadi tuan rumah dan yang datang adalah tamu undangan.

Tamu undangan tapi ditagihin uang iuran makan wkwk.

Lagipula ekspektasi aku tidak kebanting amat kok, karena beberapa anak aliansi ngumpul untuk masak-masak buat persiapan halbi di malam takbiran, ada bang Hamdi selaku tuan rumah, lalu mas Azzam, kak Aladin, Teh Shofy, dan Ula, plus dua penghuni sementara BTN Ent: Aiko dan kak Ipeh. Kami baru selesai masak sekitar jam satu dini hari dan, yah, i had so much fun back then even aku sama sekali tidak membantu masak dan hanya berkontribusi terhadap penyiapan bahan masakan serta mencuci piring plus sibuk merekam tingkah duo Ipeh-Ula yang hobi karaokean dengan menggunakan pisau kupas sebagai microphone.

Karena memang udah memiliki agenda halbi, aku dan Aiko langsung menuju ke rumahnya bu Putri begitu sholat Eid selesai karena di sana ada Ula dan kak Ipeh yang menunggu. Bu Putri ini salah satu dosen Ula yang sedang mudik, jadi beliau menitipkan rumahnya ke Ula biar ada yang menjaga dan kami memanfaatkan kulkas yang terdapat di rumah beliau untuk membuat es batu.

Dari rumah bu Putri, aku dan Aiko pulang dulu ke BTN Ent sedangkan kak Ipeh dan Ula mampir ke kontrakan mas Azzam untuk ngambil karpet. Habis itu langsung ngumpul di rumah bang Hamdi karena masih harus memasak tempe mendoan dan menyiapkan tempat untuk makan.


Tradisi yang selalu aku lakukan kalau lebaran adalah sungkeman setelah sholat Eid, entah mau lebarannya di Lampung atau di Bacan, sungkeman nggak pernah absen.  Berhubung tahun ini lebarannya di Sumbawa, jadi sungkemannya ditiadakan dulu karena siapa pula yang mau di-sungkem-in? Sebenarnya aku menunggu telepon dari rumah tapi sama sekali nggak ada telepon masuk sampai bingung sendiri hari ini jadi lebaran nggak sih? kemudian sadar, lah gue kurang ajar amat jadi pihak yang menunggu, harusnya kan anak yang berbakti kepada orang tua jadi harusnya ya anak yang menghubungi orang tua, bukan sebaliknya wkwk, makanya aku langsung telepon ummi..... dan nggak diangkat dong:)

Iyalah nggak diangkat, waktu di Sumbawa kan satu jam lebih lambat dari waktu di Bacan, bisa jadi orang rumah udah keliling-keliling buat silaturrahim ke kenalan ketika aku masih di lapangan dengerin khutbah Eid Fitr sambil ngeliatin dua gadis kecil yang lucu parah.

Karena nggak berhasil menghubungi rumah, aku berinisiatif mau menghubungi kak Muna yang tahun ini lebaran di Tangerang tapi inisiatif tersebut aku urungkan karena pasti kak Muna masih sholat Eid. Tangerang kan waktunya satu jam lebih lambat dari Sumbawa.

Padahal masih beda WIB – WITA – WIT doang tapi mau berkomunikasi aja udah rada ribet gitu.



Ngomong-ngomong, yang datang halbi sekitaran lima puluh orang dan tentu saja mayoritas tidak aku kenal. Karena aku nggak mau repot-repot kenalan, jadi yang aku lakukan hanya muter-muter nggak jelas, ngambilin emping, nyomot kue, minum es, main hp, ngobrol sama orang yang aku kenal, menyapa seadanya ke orang yang aku tahu, dan tidak terlalu memperdulikan sisanya.

Seharian ini yang stay di rumah bang Hamdi adalah orang-orang yang turut serta dalam memasak makanan untuk halbi (bang Hamdi, mas Azzam, kak Aladin, Teh Shofy, Ula, Aiko, kak Ipeh). Menu yang kami sediakan untuk halbi hari ini ada lontong, nasi, opor ayam, sambal kentang, tahu goreng, tempe mendoan, sambal kecap, kerupuk udang, emping, es sirup, dan air mineral, lalu ada makanan perintilan macam kue-kue kering, buah, serta brownies.

Rumah bang Hamdi udah berasa rumah sendiri, selepas dhuhur beberapa dari kami tidur di gazebo, ada yang tidur di kamar, ada juga yang tidur di ruang tengah, terus kalau mau makan tinggal ambil makan, mau ngemil juga banyak camilan. Sorenya, kak Ipeh menggoreng sisa tempe yang belum sempat digoreng, kak Ipeh juga menggoreng ayam opor karena khawatir santannya sudah mulai tidak bagus untuk dikonsumsi.

Kami mulai beres-beres merapikan pekarangan rumah bang Hamdi yang sudah dipakai sebagai lokasi penyelenggaraan halbi ketika yakin tidak ada lagi orang yang akan datang untuk makan. Ada yang nyuci piring, ngerapiin alas duduk, buang sampah, beberes meja, menata barang-barang yang dipinjam selama halbi, berbagai macam kegiatan tersebut selesai ketika maghrib menjelang. Seusai sholat, Mas Azzam, bang Hamdi, teh Shofy, sama Ula pergi buat ngembaliin alat-alat.

Tentu saja kami tidak lupa mengabadikan momen terakhir halbi sebelum pamit undur diri dari kediaman bang Hamdi yang super cozy buat dijadiin tempat nongkrong, sebelum akhirnya kembali mencari kesibukan masing-masing untuk megisi waktu libur setelah diiznkan merusuh sejenak di rumah bang Hamdi.

Terimakasih untuk malam ketemu malamnya!

minus kak Aladin yang harus pamit lebih dulu karena suatu urusan

Padahal cuma stay di satu tempat tapi ngerasa capek, i would say it might be caused by my introvert side. Seorang introvert perlu banyak energi untuk bersosialisasi dengan orang-orang sedangkan bersosialisasi merupakan cara seorang ekstrovet untuk mencharger diri.

Ehtapi bisa jadi ngerasa capek karena emang jarang melakukan aktivitas seharian penuh dan lebih sering mendekam dalam kamar, berduaan sama Kai haha.

Lebaran kali ini berbeda karena jauh dari keluarga namun bisa berakhir dengan menyenangkan! Tahun kedelapan merantau, diberi kesempatan untuk merasakan lebaran di tanah rantau, alhamdulillah.

best regards,
shofwa muhimatunnisa

Kabar aku -alhamdulillah- baik baik saja. Di setiap hari, selalu ada kebaikan yang hadir. Kadang kebaikan tersebut terselip di celah-celah waktu hingga luput disadari, atau bahkan tumpeh-tumpeh yang mengukir senyum sepanjang hari.

Alhamdulillah Desember masih bertahan di puncak klasemen sebagai bulan ter-favorit.

Bulan terakhir, peng-akhiran semua hal yang telah dilakukan sepanjang tahun, dan juga persiapan untuk menyambut tahun berikutnya.

Dan yang terpenting, karena Desember adalah bulan kelahiranku.

Oho, jelas subjektif dongs.

Tahun lalu juga ada tulisan edisi ulang tahun, nih link-nya: 18 di 18

why is the thing you want to completely forget is always the most unforgetable one?

Someone said to me,"do we necessary to celebrate or sending a happy birthday to everyone at their birthday? It is just like a formality to make everyone feel remembered that they still alive."

Right. sometimes it just for formality. But, besides that, it can be weird if there is no one who celebrate or sending greeting at your birthday.

Momen ulang tahun bisa dimanfaatkan untuk segala macam hal. Mulai dari sikap 'nggak inget kalau hari ini aku ulang tahun,' hingga ke 'inget tapi biasa saja sih, cuma ulang tahun doang.'

Di usia segini, bersikap hebring ketika ulang tahun kayaknya sudah nggak cocok deh, wkwk.

Tentu saja ucapan terimakasih tidak luput terucap, mungkin ada yang tidak tersampaikan, mungkin ada yang terlupa dan hanya terucap dalam hati. Tapi terucap semua kok, terlepas dari bagaimana caranya.

Bisa jadi beberapa yang mengucapkan memang berlandaskan formalitas. Walah, ndak si papa kalau tidak ngucapin. Thats okay guys. Apalagi semisal kalian memang hanya sebatas tau dan sebatas kenal diriku.

Perihal ulang tahun kan balik lagi ke diri masing-masing, aku sih nggak papa nggak diucapin asalkan diinget.

#EAAA

Nulis 'nggak papa nggak diucapin' padahal sebenarnya di tahun ini ada beberapa orang yang kuharapkan memberikan ucapan, ehe.

Alhamdulillah, harapan tertunaikan~ yuhuuu, happiness delight.


Terima kasih pada Desember untuk tujuh belas hari terakhir. Sembilan belas kali ketemu sama Desember, kayaknya yang tahun ini adalah yang paling menguras tenaga, fisik, batin, dan segala hal yang bisa dikuras.

D I T E M P A.

Iya. Wajibun alayya pakai capslock dan bold.
Aku ngerasa Desember tahun ini aku ditempa sedemikian rupa oleh kondisi dan situasi. wow, like daebak sekali, wah pokoknya emezing.

Penempaan yang belum selesai, jika dijabarkan, output dari penempaan itu sendiri hanya hal-hal biasa yang masih bisa dihitung dengan satu tangan.

Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Hasil saja yang kadang mengkhianati proses.

Tema bulan ini adalah 'let see how busy I am to enjoying my life.'

 (enjoying-nya jangan too much ya shof.)

So, lets enjoy life, keep having fun, and do not stop to feel happy!

ps:

Ternyata tulisan edisi tahun lalu panjang juga ya, beda sama tahun ini yang singkat.

Adooooooh.

No problem lah~ tidak ada salahnya membuat perbedaan wkwk.


yang ingin semakin paham dan mengamalkan apa itu kebutuhan, keinginan, kemampuan, dan kecukupan.

-perempuan berusia sembilan belas tahun-
Semenjak menginjakkan kaki lagi di tanah samawa untuk kembali bergelut pada paradoks perkuliahan yang kadang-kadang membingungkan, terdapat empat (sekarang sudah  berubah menjadi enam) lagu yang menjadi playlist utama.

Playlist aku sedang terhindar dari ke-korea-an, apa daya EXO belum kambek, Bigbang belum ngupload video lagi, BlackPink sibuk nyiapin debut jepang di Thailand, NCT Dream belum lengkap dengan Jaemin (newest update! JAEMIN SUDAH BALIK KE NCT DREAM SODARA-SODARA. Kesayangan aq), DNA BTS tida memuaskan (sorry not sorry army), ditambah dederetan rookie macem Wanna One, MXM, JBJ, Weki Meki, hoam sajalah why banyak sekali trainee-trainee yang debut namun lagunya seperti lagu comeback dengan konsep yang tidak terdeteksi.

Tau kok kalau debut itu nggak gampang, hanya sedang mengeluarkan opini pribadi.

Kesampingkan saja fakta bahwa Twice baru saja kembali dengan 'Likey.'

 halaman pertama sebuah buku milik kakel SMA aka kak Ipul

Dari sekian lagu yang ada di playlist, aku paling suka dengan soundtrack-nya Moana.

Banyak sekali orang yang berkeyakinan bahwa venture out your comfort zone adalah hal penting, sehingga banyak orang pula yang lebih memberi saran, “keluarlah dari zona nyaman kamu, masa mau stay mulu sih.”

idek, aku merasa kurang setuju saja.

Soalnya, bisa jadi mereka terlalu memaksakan gitu nah. Memaksa keluar dari comfort zone terus mengganggap semuanya itu sebagai ‘ujian’ tanpa tahu batas kemampuan, mengambil banyak amanah tanpa tahu apakah bisa memberi kontribusi maksimal, memilih semua pilihan untuk kemudian terbingungkan oleh prioritas dan jadwal yang bertabrakan.

#eyak #mirror

Memang keputusan untuk keluar dari zona nyaman itu kembali lagi ke masing-masing individu.

Padahal, bertahan di zona nyaman juga merupakan keputusan yang sama beraninya dengan keluar dari zona nyaman.

Keputusan bertahan di zona nyaman dengan dipenuhi oleh pemahaman akan konsekuensi loh ya, bukan keputusan plinplan ataupun keputusan untuk menghindar dari hal-hal yang ditakuti.

"Berarti kita nggak perlu keluar dari zona nyaman, shof?"

Yeuuh, masih aja nanya. Berkembang ataupun nggak berkembang bukanlah sesuatu yang (sebaiknya) kita paksakan terhadap orang lain. Kita boleh memberi saran, tapi jangan memberi pengarahan.

Makanya, itu kembali ke kalian masing-masing sebagai seorang individu. Mau keluar dari zona nyaman, atau tidak. Mau berkembang di dalam zona nyaman, atau berkembang di luar zona nyaman.

Kenapa aku nulis gini?

Karena, yah, aku sebenernya cuma mau ngobrolin tentang playlist di hp tapi kok tanpa sadar prolognya udah meluber kemana-mana wkwkw.

Moana – How far Ill go


Every turn I take
Every trail I track
Every path I make
Every road leads back
To the place I know
Where I cannot go
Where I long to be
See the line whe  the sky meets the sea, it calls me.
And no one know.
How far i'll go.

Aku nonton Moana dua bulan yang lalu, dan di film itu sedikit banyak memberi insight kalau believe in yourself itu penting. Lebih penting daripada be yourself.

You should believe in yourself because you cant be yourself everytime.

Sama kayak Moana, sesuka apapun dia pada laut dan se-keras kepala apapun sifatnya, dia tidak bisa melenggang bebas ke lautan. Nggak bisa berpikiran, "bodo amat, gue kan emang suka berpetualang. Ngapain patuh sama larangan untuk berlayar." Hingga ketika dia memutuskan untuk menjadi nakhoda sebuah kapal kecil, dia berpegang pada kepercayaan bahwa dia bisa, dia percaya bahwa kepergian dia adalah untuk membawa perubahan terhadap pulau yang menjadi tempat tinggalnya.

Tidak ada yang tahu seberapa jauh perjalanan yang bisa ditempuh sebelum mencoba.

Louis Tomlinson – Just Like You


Sore itu, aku sedang ngadem di amshelf yang ber-air onditioner meeting bareng Putri. Bukannya fokus pada pembahasan meeting, kami berdua malah sibuk nge-refresh youtube di hpnya Putri dan melihat kalau Louis baru saja ngupload satu video.

Otomatis videonya kami tonton.

Videonya itu berupa lirik lagu, makanya aku langsung menyukainya saat pertama kali mendengar.

Apalagi di lirik yang ini nih,

eventhough my problems looks nothing like yours do. I feel the same as you do, same stress, same shit, same go through. If you only knew.

Seperti disindir kalau kita nggak boleh menyepelekan masalah yang tengah dihadapi orang lain. Siapa tau bagi kita masalahnya sederhana, super sederhanaa, tapi bagi yang bersangkutan masalah tersebut hampir membuat hidupnya kacau.
#berlebihan

Disindir juga kalau kita nggak perlu ngerasa insecure dengan masalah yang kita hadapi. kita punya hak bersuara, nggak ada salahnya mengeluhkan masalah kita, nggak harus memendamnya karena merasa masalah kita bukan apa-apa.

Wait... wait, kenapa malah makai kata ‘kita.’

Adoooh, parah. Malah terkesan sok bijaq kan-___-

Apa itu insecure? Kata kak Kaisoone, itu adalah kondisi di mana kamu ngerasa hidup kamu nggak berguna untuk orang lain dan kamu lebih memilih mengasingkan diri dari dunia karena pada dasarnya, kamu nggak pantas untuk siapapun, dan bahkan ada saatnya di mana kamu merasa nggak pantas untuk diri kamu sendiri.


Karena terkadang ada saat di mana aku bisa ngerasa insecure dengan berpikiran “MashaAllah mereka produktif banget waktunya, karena diberikan permasalahan yang tidak mudah.” ke teman-temanku.

Selanjutnya malah merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

Terus memendam semuanya sendiri, sampai pusing dan akhirnya memutuskan untuk melahap dua pil panadol untuk membuktikan khasiatnya. Siapa sangka akhirnya ada waktu di mana aku membutuhkan obat-obatan semacam itu.

“Minum tuh habbatusauda waaa. Minum kok panadol.”

“Nggak papa lho, nggak ada salahnya mencoba.”

Jika digambarkan, perasaan insecure berbentuk seperti piramida yang tidak berujung dan saling berputar. Piramida karena yang dilihat adalah apa yang berada di atas kita sehingga arahnya horizontal positif, dan berputar seperti siklus karena memang tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan insecurity. Misalnya, aku ngerasa insecure karena mengganggap masalahku tidaklah seberapa dibandingkan dengan masalahnya seorang teman, teman tersebut juga ngerasa nobody daripada temannya, begitu terus sampai menjalar ke Ooh Sehun yang juga berpikiran belum selevel dengan Miranda Kerr, eh taunya Miranda ngerasa aku lebih baik dari dia meski sebenarnya aku hanyalah manusia biasa dan Miranda juga merupakan manusia biasa, yang sama-sama mampu berpikir, bernafas, bergerak, serta bertingkah laku layaknya makhluk hidup yang memiliki akal.


Insecurity bukan hanya perihal 'masalahku nggak ada apa-apanya dibandingkan masalahnya dia', tapi juga hal lain seperti kecerdasan, kecantikan, kepribadian (brian beauty behavior banget nih? wq), dan semua hal yang bisa menciptakan perasaan inferior.

Insecurity bisa membuat seseorang memendam apa yang tengah dipikirkannya. Ketiadaan orang yang bisa memberikan telinga juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu.

Terkadang, orang-orang menanggapi masalah milik orang lain dengan, ‘iya gue juga pernah berada di posisi lo sekarang.’ atau ‘gue tau kok rasanya seperti apa,’ dan semacamnya.

But you are not, we are not.

Sebisa mungkin aku berupaya untuk tidak memberi tanggapan yang seperti itu, khususnya aku-pernah-ada-di-posisi-mu. Hellaw, orang bercerita bukan untuk mendengar ceritamu yang kamu rasa ‘mirip.’ pernah nggak kalian curhat tapi ujung-ujungnya malah jadi orang yang dicurhatin? Apalagi kalau curhatnya jadi nggak kekontrol, sekarang bahas A, lima menit kemudian B, balik lagi ke A, lompat ke C. Pernah kan?

Aku nggak bilang bahwa tanggapan tersebut tidak dibutuhkan, hanya saja kebanyakan orang kadang belum bisa menempatkan dan megeluarkan tanggapan seperti itu dengan cara yang baik dan benar, include myself.

Upaya penghindaran yang ujung-ujungnya malah menghasilkan afeksi datar, kayak cuma mengeluarkan respon seperti, ‘hmm,’ ‘oh gitu,’ ‘iyasih bener,’ ‘terus kamu mau apa?’

Orang boleh bilang pernah merasakan hal yang sama, meski sebenarnya tidak.

Balik lagi ke pemaparan lagu Moana, keputusan untuk bertahan bukan keputusan yang mudah. Orang yang memutuskan bertahan bukan berarti tidak merasa stress seperti orang yang memutuskan keluar dari zona nyaman. 

Taylor Swift  - Look What You’ve Made Me Do


I do not trus nobody and nobody trust me.
.
.
"I'm sorry, the old Taylor cant come to the phone right now."
"Why?"
"Oh, cause she's dead!"

Sebagai manusia yang mengganggap kata ‘percaya’ adalah sesuatu yang berharga.

Aku lebih memilih dipercayai daripada disukai.

Kayak segampang itu suka sama kamu, tapi percaya sama kamu bukan hal mudah.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku makin tidak terlalu memedulikan persepsi orang terhadap orang lain. Dari dulu memang sudah seperti itu sih.

Misalnya gini,

X: tau nggak? aku punya temen, namanya fulanah, dia tuh hebat banget soalnya (memberitahu sejuta kebaikan dan kehebatan fulanah).

S: (ceritanya nggak kenal fulanah in personal dan sebelumnya nggak tau fulanah)  oh ya? wah, hebat ya, mashaAllah (nada datar).

Intinya, kamu boleh mengganggap seseorang itu hebat, namun bisa jadi menurutku tidak. Dan berlaku sebaliknya.

Perihal menilai orang untuk kepentingan pribadi (dalam hal ini, berteman), aku memakai pandangan subjektif. Kita kan kudu selektif ya kalau menyangkut pertemanan, meski semua orang itu baik tapi tidak semua orang bisa dijadikan teman. Dan jangan lupa, kamu tidak bisa secara otomatis menjadi teman dekatnya teman dekatmu.

Ada beberapa orang yang cukup kuberikan respek, tanpa harus berusaha untuk menjadi temen dekatnya. Duh, buat apa?

Aku sudah berhenti melakukannya, melakukan usaha agar bisa menjadi teman dekat seseorang. 

Ikatan teman dekat tuh bukan merupakan sesuatu yang perlu diusahakan karena (harusnya) terjalin tanpa perencanaan.

Usaha diberikan ketika ingin mempertahankan, usaha yang tentu saja akan berhasil ketika yang berusaha tidak hanya satu pihak saja.

Nulis paragraf di atas sambil mikirin seseorang, haha. Seseorang yang dikagumi banyak orang, namun tidak membuatku tertarik sama sekali. Seseorang yang –seperti sudah kubilang- cukup diberikan respek.

Kalau memang ditakdirkan untuk menjadi teman dekat, ya alhamdulillah. Kalaupun tidak, ya tidak apa.

Perihal berteman, sesungguhnya aku menolak kalimat '1 musuh terlalu banyak, 1000 teman terasa kurang.' Karena bagiku, punya seribu temen juga kebanyakan. Teman yang bukan ‘teman.’ 

Kualitas di atas kuantitas.

Ed Sheeran – Perfect

Dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favorite song
Whwn you said you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, 
You look perfect, tonight.

Nah loh!
Ada yang bilang ke aku, kalau lagu Taylor Swift umumnya berisi lirik-lirik yang ingin dikatakan oleh wanita, maka lagu-lagunya Ed Sheeran adalah apa yang ingin didengar oleh wanita.

Tidak terlalu salah.

Sam Smith – Too Good At Goodbyes

Sampai sekarang aku masih tidak paham kenapa ada penambahan huruf ‘s’ pada kata ‘goodbyes.’

I’m never gonna let you close to me
Even though you mean the most to me
Cause everytime I open up, it hurts
I’m never gonna get too close to you
Even when I mean the most to you
In case you go and leave me in the dirt

Jika ingin ditarik kesimpulan dari sudut pandang yang positif, bahwa sepenting apapun seseorang di dalam kehidupanmu, mending nggak usah deket-deket banget biar kalau orang tersebut pergi, setidaknya kamu nggak harus melewati apa itu fase sakit hati dan masa-masa suram penuh kelabu. Well, berharap pada manusia itu rawan kecewa you know.

Sedangkan dari sisi negatifnya, yaelah itu lagu napa baper amat dah. Penakut betul. People came and go, man!
.
.
.
.
.
Bentar, bentar, kayaknya dua kesimpulan di atas isinya terkesan positif semua.
.
.
Hmm.

Nggak papa. Toh, bukannya kita harus mencari 70 husnudzon sebelum bersu'udzon?

Taylor Swift – Gorgeous


Whiskey on ice, sunset and vine
You’ve ruined my life, by not being mine
You’re so gorgeous
And I cant say anything to your face
Cause look at your face

Secara implisit, lagu ini berisi inferiority feelings dan sindiran halus.

 “Kok lu hebat banget sih, gue sampe kaga bisa ngomong apa-apa di depan lu.”

Bingung, ini ngatain diri sendiri atau ngatain orang lain?

“Makasih loh udah ngerusak hidup gue gara-gara not being mine.”

LAH?! Mbak Tay Tay? waras mbak?

“Semisal lu punya pacar, gue bakalan jealous ke dia, tapi kalau lu kaga punya, sayang banget atuh.”

#nggakpaham


Album Redemption-nya Taylor udah keluar, dan mayoritas lagunya bagus-bagus woy aing teh tak paham lagi lah.

Rasanya akhir tahun kok cepet banget datang. Seperti baru kemarin aku bangun di tengah malam lalu pindah dari kamarku ke kamarnya Ahda sambil kelaperan dan mengabadikan rasa lapar pertama di tahun 2017 dalam sebuah tweet~

Di penghujung quarter terakhir 2017, masih ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sekiranya berfaedah bagi kehidupan ke depannya. Yah, setiap hari dan setiap saat kita memiliki kesempatan tersebut. Hanya bagaimana kita melakukannya.

Welcome December! Back to December (again).
Let see how busy I am to enjoy my life.

regards,
me as december girl~
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes