Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller
maaf kalau aneh.
Ini skrinsut-an boomerang soalnya, hehe.


Apalagi kalau bukan,

G R A M E D I A


Iya, gramedia, toko buku yang kadang masang harga ketinggian buat segala hal yang dijual didalamnya.

Namun entah kenapa termaafkan. Karena di sisi lain juga disayangi dengan sepenuh hati.

Sebenarnya togamas juga oke sih, periplus juga not bad.

Tapi mau gramedia dulu aja, dengan $1000 aku bisa sekalian bikin member card, wkwk, dulu sempat punya lalu menghilang entah kemana gara-gara aku masih apatis "ini kartu buat apaan sih," waktu dikasih membercard nya kakak (doi punya dua beidewei, makanya aku dikasih satu).

Nggak muluk-muluk kan.

Soalnya di sumbawa nggak ada toko buku (yang setara gramed) sama sekali.

 Ini menyedihkan.

Buat aku, ini menyedihkan.

foto yang diambil untuk stories instagram.

Terkadang
Hujan sering disandingkan dengan sendu
dan rasa menunggu
dikenal pula sebagai waktu untuk para perindu
untuk mengingat ingat masa lalu

Hujan juga identik dengan kenangan
yang hobi menyeruak tanpa tanda
membuahkan ribuan angan
serta untaian asa


Hujan juga berhubungan baik dengan hangat
entah kopi hangat
pelukan hangat
atau perasaan hangat mengetahui kamu baik-baik saja.


HAHAHA.
Efek sudah terlalu bingung mau nulis apa.

Ngomong-ngomong, pemandangan hujan di sini indah.
Beda sama tempat lain.
Hujan yang turun di sumbawa rintik-rintiknya lembut gitu (meski kadang percikannya keras).
Enak dilihat pokoknya.
Aku suka.
Tahun 2007 berarti aku berusia sembilan tahun.

Antara kelas empat atau lima esde.

Antara sekolah di al-khairat atau labuha 1.

Aku nggak banyak nyimpen foto masa kecil di laptop, kebanyakan Abi yang nyimpen.

Lagian yang paling banyak punya foto masa kecil tuh si ragil, banyak banget, kayak hampir setiap momennya dia terabadikan gitu. Kami (kakak-kakaknya) (eh) (aku doang sih) menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada.

Kelapangan dada yang ditambah dengan ketidaktahuan akan tahun lahirnya, haha.

Karena terkadang aku bingung, si ragil lahir di tahun 2007 atau 2008.

Bingung juga tanggal lahirnya itu 21 atau 22, kecampur ingatannya sama tanggal lahirnya ummi.

Dia lahir tanggal 21 deng, karena besoknya ummi ulang tahun. Jadi dia lahir sebagai sebuah hadiah untuk ummi (dan abi) (dan kakak-kakaknya).

ternyata kau pernah unyu ya, ragil.

Kok malah ngebahas si ragil sih.

Ngomong-ngomong, namanya dia bukan ragil ya. Kupanggil ragil karena dia anak bungsu.

Kembali fokus ke judul.

Kemarin waktu lebaran aku sempet mindahin beberapa file foto jaman baheula, buat amunisi kalau lagi pengen ksbb.

Di antara file itu, ada sih fotoku. Tapi aku nggak yakin diambil tahun berapa karena fakta bahwa aku (dan adikku yang pertama) memiliki foto-foto saat esde adalah tidak lain tidak bukan merupakan akibat dari lahirnya ragil ke tengah-tengah keluarga kami.

 like this one
no expression as always, wkwkw
mari pakai hestek #makasihRagil #PenyelamatMasaLalu
Wah, aku pelit sih kalau soal ini.

Kasih nggak ya, hmm.

Nggak ah.

Nunggu di upgrade terlebih dahulu.

Ketika ada perubahan dari segi kuantitas kualitas.


Aku cuma punya satu dompet. Warna hijau, beli di online shop beberapa tahun lalu atas saran kakakku.

Si kakak pengen beli barang kembaran gitu ceritanya. Barengan sama aku dan adek.

Ujung-ujungnya ummi juga pengen ikutan nimbrung, wkwk.

Jadilah berempat punya dompet yang sama model, beda warna.

Dompet adalah satu dari sekian barang yang sekarang kedudukannya masih di level 'gak butuh yang baru kalau yang lama masih bisa dipake.'

Makanya boro boro handbag, dompet aja cuma satu. Lagian bawa handbag kemana-mana tuh ngeribetin nggak sih, bergunanya cuma pas mau ke kondangan atau acara formal.

Di balik masalah hiatusdarismartphone aku berusaha mengambil foto isi dari dompetku, yang langsung dibongkar di tempat.



Iya, nggak ada duitnya sama sekali.

Padahal awal bulan.

Toh, naruh duit kan nggak kudu di dompet. Ye kan?

Ku jelasin aja kali ya isi dari dompetku itu biar tulisannya panjangan dikit.

1. Tiket Medical Expo FKUII

Medical Expo adalah acaranya anak FK Universita Islam Indonesia, kalau nggak salah tiap tahun ada deh. Acaranya tuh ntar kita kayak diajak ngerasain jadi dokter sehari/?/ keliling fakultas kedokteran, apa aja yang dipelajari di kedokteran/?/ sebenernya aku nggak terlalu tau soalnya aku nggak ikut.

(nggak ikut)

Buat menjelaskan aja. Kalau aku ikut, sudah pasti tiketnya nggak bakalan ditemukan dalam dompet.

Kenapa aku nggak ikut?

Sebuah peristiwa alam yang langka menjadi penyebabnya.

Nggak di postingan ini, nggak di postingan yang peristiwa alam itu. Aku tetap nggak tau ME itu acaranya ngapain aja wkwkw.

2. Tiket Bioskop

Ketularan teman-teman yang sukanya nyimpen tiket bioskop. Mulanya tidak paham apa faedah dari hal tersebut, namun makin kesini sepertinya memang bukan hal yang buruk menjaga bukti kenangan. Sebuah ingatan tidak akan berharga jika tidak ada campur tangan kenangan #asiq

Itu tiketnya cuma beberapa kok. Telah sekian lama dibiarkan mendekam dalam selipan dompet tanpa dilirik hingga sesaat sebelum aku membongkar dompet untuk postingan ini.

3. Photo Box

Errrrrrrrrrrrrrrr......

hmm....

waduh..

Sebenarnya aku nggak terlalu suka photo box.

Serius.

Habis biasanya diajak photo box di amplaz yang editannya super sekali.

saynototiputipuwajah

Aku baru tiga kali photo box, yang terakhir perlu rayuan berkali-kali sebelum aku mengiyakan.

Yang pertama tuh yang fotonya udah sedikit luntur kena air. Kami bertiga (Ula-Hilma-Shofwa) memutuskan buat photo box setelah nonton Insidious 2.

Kedua kalinya di Galeria Mall. Waktu itu sama sekali nggak ada niatan untuk photo box, murni ke galeria hanya ingin jalan-jalan, tapi melihat tempat foto yang sepi dan hanya 20k saja serta no editan, ya why not. By the way, tempatnya sempit bangeeeeeeeet.

Terakhir kali photo box itu waktu aku ketemuan sama Hilma, Farah, dan Nadia saat masa-masa libur pasca akhirussanah. Berhubung kami berempat emang suka sama yang koriya gitu alhasil kami memutuskan buat ketemu di Amplaz lalu makan di Seorae



Sok berkelas banget emang, haha. Masih (calon) mahasiswi tjoy, ketika penghematan adalah segalanya. Kami milih paket dua orang loh itu sama tambahan nasi dua porsi, minumnya Ocha yang free refill dongz.

Dua porsi tapi ngenyangin banget, aih, pengen kesana lagi tapi kudu nabung dulu.

Harganya standar harga mall.

Mall kan makanannya nggak temenan sama kantong.

( malah bahas makanan )

(wqwqwq)

Setelah makan, kami muter-muter dulu buat ngabisin waktu. Farah, Hilma, sama Nadia emang udah ada niatan buat photo box, ngajakin aku juga tapi kutolak.

"pokoknya aku nggak mau photo box lagi." (kalau editannya bikin nipu) (cantik tapi nipu mah maaf maaf aja ye)

Cuma kala itu pendirianku belum kuat, jadilah aku menjadi pemilik atas dua foto yang diambil pada suatu sore dalam sebuah ruangan kotak yang terang benderang akibat cahaya lampu.

4. Pas Foto

Masih berhubungan dengan foto.

Itu yang paling atas bukan aku lho yaaaa.

Dua foto yang di bawahnya baru foto aku, satu saat SMP, satu lagi saat SMA.

Ketutupan? Emang, sengaja kok.

5. Struk Belanja

Kebiasaan sejak kecil, nyimpen struk belanja sampai menuh-menuhin dompet.

Tujuannya mah biar tau harga setiap barang gitu biar bisa ngomong, "harga barang A di toko X lebih murah 500 perak dari toko Y."

Padahal kalau cuma beda 500 perak doang palingan yang peduli cuma paman Gober.

Meski pada akhirnya, struk belanja cuma mendekam di dompet tanpa diapa-apain.

6. Kertas dari Jihan

Waktu itu H-1 Haflah Khotmil Quran dan Jihan lagi dijenguk sama keluarganya.

Tiba-tiba Maya datang ke kamarku, "shof mau nginep di hotel nggak?"

Intinya, Ummi nya Jihan udah ngebooking kamar buat dua malam eh tapi Abi nya mendadak ngajak mereka trip ke luar kota jadi di hotel itu masih ada jatah satu malam. Daripada rugi nggak diapa-apain, akhirnya Jihan nawarin Maya dan dia nyuruh Maya ngajak aku karena saat itu posisinya aku lagi sendirian di kamar.

Nginep di hotel. Wifi kenceng. Lokasinya dekat dari tempat Haflah.

Menolak tawaran tersebut adalah sebuah kerugian yang nyata.

Ketika aku sama Maya sampai hotel, ditanya sama resepsionis,

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Errr, mau ambil kunci kamar atas nama Jihan."

"Maya sama Shofwa ya?"

"Eh? Iya."

Lalu mas resepsionis nya ngasih kunci kamar plus pesan manis dari Jihan <3

7. Kartu Berobat

((( kartu berobat )))

Sebutannya apa banget.

Aku berobat ke Sardjito baru sekali, itu pun bukan sesuatu yang perlu di khawatirkan.

Di Hidayatullah juga baru sekali, tapi yang ini kudu bolak-balik.

Udah bolak-balik. Tapi kalau ditanya sakit apa, aku pun bingung jawabnya.

Yang kalau ditanya udah sembuh atau belum, aku pun tak tau jawabannya.

Kok malah melankolis---

Karena dibongkar di tempat jadi cuma dua kartu yang terfoto, kartu-kartu lainnya berserakan di dalam laci.

Bukan kartu berobat kok, tenang aja tenaaaang.

/menenangkan diri sendiri/

8. Boarding Pass

Ketutupan sama kertas berisi pesan manis dari Jihan.

Boarding Pass LOP-SWQ.

Bukti dimulainya kisah kehidupan shofwa di daerah baru.


Yeaaaaaaaaaay, sudah tema ke dua puluh satu.

Aku harus menyelesaikan tantangan ini secepat mungkin.

Ngomong-ngomong agak wagu nggak sih ketika judul postingannya in english tapi isi tulisannya pakai bahasa Indonesia non formal campur bahasa pergaulan?

Tapi gini aja nggak papa, daripada susah susah ngetranslate terus ujung-ujungnya banyak grammar yang salah.

Inginnya mau menyelesaikan 30TM ini di satu hari, biar langsung selesai. Udah. Nggak ada tanggung jawab lagi atas tantangan ini. Selesai. Kembali menulis semampu dan sesempatnya.

Cuma, pas baca-baca kembali tulisan sebelumnya...

Oh ini kan tantangan ODOP.

One Day One Post.

Mana bisa langsung hantam ngepost sepuluh tulisan satu hari.

Berarti tantangan ini, selain memaksa untuk konsisten, juga memaksa untuk bersabar.

Sabar biar nggak kegoda buat langsung ngehabisin tema yang disediakan mentang-mentang lagi banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Meski kemarin-kemarin sempat tergoda.

Tergoda karena lupa kalau ini One Day One Post.

Lalu, soal mainan favorit saat kanak-kanak.

Beda sama post tentang acara TV favorit, aku punya beberapa mainan yang aku suka saat masih memiliki wajah yang berpipi unyu unyu gemash minta dicubit.

1. Bekeeeeeeeeeeeel
Di tempat aku, anak bekelnya bukan dari besi tapi pakai jasad-jasad kerang yang dengan kejam dipisahkan dari kuburan pasir pantai kemudian dijual seharga goceng/6pcs (harga setahun lalu ketika si ragil membawa bekel ke Lampung hasil dari beli di pasar)

source = gugeeel


Bentuknya kayak gitu tapi aku lebih suka yang ukurannya dua kali lipat dari di gambar dan berwarna cokelat. Warna cokelatnya menunjukkan kelas yang berbeda/?/ mbikos terlihat lebih menawan dan lebih mahal. Kalau kerangnya ngadep ke atas sebutannya 'rika' kalau ke bawah disebut 'palaka.' Sedangkan bola bekelnya pakai bola kasti. Iye bola kasti warna ijo yang gedenya sekepalan tangan.

2. Lompat Tali
Ada masa ketika lompat tali merupakan kegiatan yang paling digemari. Nggak di sekolah, nggak di rumah, mainannya ini mulu. Posisi paling enak itu posisi anak bawang, karena nggak mati-mati. Posisi yang dihindari oleh semua insan adalah posisi yang bertugas megang tali, menjadi posisi yang dibenci ketika kamu megang tali lalu teman-temanmu semuanya jadi ahli dan mengakibatkan nggak ada yang mati, atau kamu udah lama megang tali lalu ada yang menggantikan posisi kamu kemudian kamu mati di ronde pertama yang menyebabkan kamu kembali bertugas memegang tali. Terus tali yang paling bagus tuh yang karetnya rangkap dua, atau tiga.

source : still google

Jaman dulu, punya tali yang nggak dirangkap tuh berasa hina. Tidak berkelas apalagi totalitas. Selain harus rangkap dua, karetnya harus karet yang bagus, bukan yang terlihat rapuh gampang putus. Karet aja harus bagus, apalagi hubungan, iye gak? Punya hubungan tuh ya dijaga, jangan dibiarin rapuh, ntar ujung-ujungnya putus.

Lalu baper.

Ngepost banyak foto.

Dan juga status.

Nge-defense mecchanism #JombloBahagia

Cukup hati aja yang rapuh, hubungan jangan.

Kok malah curhat, wqwq.

Nyari karet yang berkualitas, disambung dengan penuh kesabaran dan dua rangkap, biar nggak ada halang rintang waktu lagi seneng-senengnya main (misalnya karet putus mendadak). Karetnya dijaga penuh kehati-hatian layaknya harta pusaka.

Anak kecil aja totalitas.

Masa kamu enggak?

(ujung ujungnya reminder)

3. Cenge cenge
Ini permainan umum yang punya banyak nama karena di setiap daerah penyebutannya beda-beda. Untung nggak terserang krisis identitas dan multipersonality akibat memiliki nama panggilan yang terlalu banyak #hah

source = always google

Dulu biasanya main tiap sore di halaman rumah bareng tetangga masa kecil. Waktu udah punya beberapa petak pribadi (disebutnya rumah) (benefitnya adalah kita boleh menjejak rumah kita pakai dua kaki) rasanya kayak udah ahli banget, the queen of cenge cenge.

Di tempat aku, cenge itu artinya lompat.

#justfyi

Lompat ke depan melompati garis-garis tantangan agar bisa pindah ke level selanjutnya.

Eh, tapi cenge-cenge kan permainan, bukan mainan (baru sadar) (efek sekilas tenggelam dalam kenangan masa kecil)

Berarti yang banyak tuh permainan masa kecil aku (yang penuh kenangan) bukannya mainan saat aku kecil.

Yowes.

Sampai sini aja berarti.

byebyee.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes