Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller
Aku masih inget dulu waktu esde ada zaman di mana temen-temen ku hobi ngoleksi kertas binder, tuker tukeran kertas, dan kertas merk harvest adalah kertas terbagus.
Nah, hobi mengoleksi kertas binder dadakan diiringi dengan hobi saling tuker tukeran biodata dan waktu itu nickname yang bisa kutulis cuma 'shofwa.'

Standar.

Tak ada yang spesial.

Kalau sekarang?

Nambah lah dikit. Aku sekarang punya beberapa nickname yang merupakan bikinan orang lain.

1. Shofwa
Gak perlu dijelasin lah ya sejarah nama panggilan ini. Ye kali pas aku lahir orang orang manggil aku pake nama lengkap ku, ribet bener.

2. Owa
Ini panggilan khusus di lingkungan keluarga sih, tapi ada beberapa temen ummi yang juga manggil aku 'mbak Owa.' Seinget aku nama ini dibikin sama Om ku, jadi waktu itu Om ku ngasih tau kalau Owa adalah nama sejenis kera yang bertangan panjang dan tidak berekor kemudian entah apa sebabnya aku dipanggil 'Owa.' Apa dulu muka aku kayak monyet kali ya🐒🐒

3. Uwa
Sepertinya ini modifikasi atau versi upgrade dari 'Owa.' Orang pertama yang manggil aku Uwa tuh temennya kak Muna, tapi habis itu Ula jug mulai manggil aku Uwa dan akhirnya beberapa temenku ikut manggil aku pakai panggilan itu. Sekarang temen temen ku banyak yang manggi aku 'Uwa.'

4. Chopek
Nah, aku sama sekali buntu ide kenapa seorang septi bisa membuat kata 'chopek' sebagai nama panggilanku. Ini nama panggilan sewaktu di pondok, biasa sih ya anak pondok nama panggilannya rada rada antimainstream. Jadi, tiap ada nomor gak dikenal memghubungi aku dan menyebutku sebagai 'Chopek,' aku langsung tau kalau itu salah satu temen SMP ku.

5. Kiddo-ya
Cuma satu orang yang manggil aku pakai sebutan ini, yaitu Mayaaaaa, Maya Pradipta Sylvasari Sa'diyah. Mulanya dia manggil aku anak kecil, abis itu jadi little kid, habis itu berubah lagi jadi kiddo, imbuhan -ya di belakang itu karena anaknya demen nonton korea, wkwk.

6. Nisa
Ada masa di mana aku pernah ikut ODOJ, jadi member ODOJ 2669, dan saat perkenalan karena tau betapa nggak pasarannya nama yang ku punya, membuatku memutuskan memperkenalkan diri sebagai 'Nisa,' nama yang penulisannya tidak menyusahkan dan mudah diingat. Aku ikut ODOJ bentar doang sih, nemutuskan keluar gara gara peraturan baru asrama yang tidak mengizinkan siswi membawa hp. Tapi sampai sekarang aku masih sering bertukar kabar sama salah satu anggota yang baik bangeeeet😍 dan ammah nya masih memanggilku dengan nama 'Nisa.'

7. Muna (kecil)
Wah ini yang bikin kesel abis. Kata orang orang mukaku mirip sama muka kak Muna, perkataan yang kubantah abis abisan sih😒 karena aku nggak bisa liat di mana sisi miripnya. Akibatnya ada waktu di mana seseorang manggil aku 'Muna' dan membuat ku noleh, kayak tiap denger orang manggil 'Muna' aku juga ngerasa terpanggil,
T : ngapain sih kamu noleh? Orang bukan nama kamu juga.
Me : Aku cuma mau memastikan, itu orang beneran ngira aku kak Muna atau cuma guyonan ra mutu doang.

Iya, banyak kok yang salah manggil😪 dikirain aku 'Muna' beneran, bahkan pak rektor pun juga pernah🙄

Kayaknya cuma itu aja deh nicknames yang melekat pada ku. Dan aku yakin bakal nambah, iyadong pasti, beberapa tahun lagi~


Salam
Esha.
Nggak yakin kalau ada yang mau baca #10facts'boutme, jaman gini sapa sih yang masih suka jadi stalker berharap orang yang distalkerin bakal bikin post beginian.

Ah, ada, aku namanya.

Wqwqwqwq

Oke, here we goooo :
1. Arti nama aku masih misteri, kalau nanya ke ummi dibilangnya "wanita yang amanah" or something like that tapi muhimatunnisa kan "wanita yang penting" dan shofwa kalau aku google artinya keikhlasan dalam cinta, sofwah sih tapi ya beti lah. Jadi nama arti nama aku apa sebenernya? #gakmenjawab #marimikirbarengbareng

2  i love writing and reading and eating and sleepin'.

3. Gak jago makan makanan pedes, bilang begini karena standar rasa pedasku merujuk pada kakak sendiri yang sampai saat ini belum menemukan makanan yang pedesnya bikin dia nangis.

4. Nggak bisa makan jeroan. Apapun jenisnya. Ati, ampela, usus, otak. Ew😫. Nggak bisa lho ya bukannya nggak mau😅 Mau dimasak sedemikian rupa, kalau makan jeroan tuh otomatis bakal kumuntahin. Bukan cuma jeroan, kuahnya aja nggak bisa kumakan. Aku juga nggak bisa makan daging ikan yang bagian daging warna hitam.

5. Suka ngitung dalem hati, kalau ambil minum di galon diitungin tuh gelembungnya sampe berjumlah genap, kalau minum segelas air juga tegukannya kudu genap. Tapi sekarang udah gak seekstrem dulu sih.

6. Gak tau kenapa greget gitu tiap liat sisir atau kipas yang kotor. Bawaannya pengen ngebersihin bermodal kuku dan jarum pentul.

7. Nggak bisa judes padahal pengen. Nggak bisa marah padahal mau. Nggak bisa dendam tapi paling keinget doang wkwk.

8. Punya satu kakak cewek dan dua adik cewek. Makanya mengharapkan datangnya seorang abang tapi ya begitu.

9. Masih berpendapat bahwa foto candid adalah foto yang terbaik. (anaknya bukan photogenic) (mau bagaimana lagi)

10. Nggak suka diganggu pas lagi baca buku, sayang, cuma temen temen deket ku yang tau fakta ini:( dan aku gak bisa nyemprot orang yang gak tau fakta ini. Jadi kadang aku ngeladenin orang yang ngajak aku ngomong pas aku lagi baca buku, meski ujung ujung nya pada bilang aku nggak memberi respon yang baik sih. 


Ps : ini foto waktu pelajaran bahasa indonesia setahun lalu, kelasnya ustad Anand. Disuruh maju dan cerita bebas. 

Well, yeah, aku kembali setelah dua bulan.

Kali ini, kuputuskan akan menulis setiap hari dengan tulisan tulisan pendek dengan tema sesuai dengan yang ada di gambar.

Hari ini dihitung sebagai hari pertama, 🙈🙈 meski sedikit nggak yakin tapi nggak ada salahnya mencoba.

Mending dikit tapi konsisten dulu lah daripada lama ngepost terus sekali ngepost langsung ber part part.

Nggak salah sih emang, cuma mengingat kesibukan aku yang kepadatannya belum layak disombongkan ini bisa jadi pengisi waktu yang baik #asiiik

ps : ada satu draft yang pengen banget aku posting tapi sayangnya masih berbentuk ide.

Ah, foto ini aku dapet dari salah satu blogger yang baru kutemui belum lama ini.


“Kak Nuha, sebelum ditutup, aku mau ngucapin happy birthday ke Shofwa.”


LUMEEEEEEEER:’)


Oke, cerita soal itu ditahan dulu.

Hari ini akhirnya aku 18 tahun juga, yeyeye lalalala, sudah tua, dua tahun sebelum menyentuh kepala dua.



Niat awalnya sih cuma pengen sedikit berkata-kata sebagai  pengganti caption di Instagram soalnya aku udah bertekad nggak mau bikin caption super panjang lagi di Instagram, tapi kayaknya ini bakalan rada panjangan deh, hehe.

Entah efek ulang tahun pertama di bumi Samawa atau efek tanggal cantik (18 tahun di tanggal 18) yang jelas dari kemaren kemaren aku nggak sabar nunggu hari ini datang. Apa ya, excited aja gitu meski untuk alasan yang nggak jelas.

Ah, apa ini semua gara-gara my fitness pal yak.

Karena akhirnya aku bisa registerrrrrr di aplikasi tersebut, yippppie!! Aku tuh udah download aplikasi my fitness pal dari jaman kapan tau tapi nggak bisa register gegara umurnya belum mencukupi, sooo sad. Nggak tau sih itu aplikasinya bakal berguna banget atau malah akan berakhir dengan di uninstall.

Satu hal yang ingin kubiasakan ketika berulang tahun adalah menulis sebuah surat untuk umurku, rada alay tapi bodo amat, kemarin aku baru aja mengunjungi g+ setelah sekian lama itu akun nggak kubuka dan menemukan postingan yang berisi surat untuk 16 dan 17.

Tenang aja, suratnya nggak bakal ku copy paste kesini kok, aku juga nggak bakal nulis surat untuk 18 di sini juga, kasian waktu kalian kalau kudu baca tulisanku yang lebih mirip surat refleksi diri wkwkwk.

Sudah menjadi rahasia umum kalau aku punya daya ingat yang rendah, gara-gara itu bulan ini aku dua kali salah ngucapin selamat ulang tahun ke dua temenku.

Temenku yang pertama, dia ulang tahun tanggal 15, aku ngucapin hepibesdeynya emang tanggal 15 tapi ditambah sama kalimat,”kemarin kayaknya ada yang baru abis nambah umur.” Jadi tuh aku ingetnya dia milad tanggal 14 dan baru kuucapin tanggal 15, kesannya telat ngucapin padahal yo sakjane tanggalnya bener.

Kalau yang pertama terkesan ngucapin telat, yang kedua malah kecepetan, haha, parah. Dia ulang tahun tanggal 17 tapi aku ngucapinnya malah tanggal 16.

Habis kenalanku yang ulang tahunnya bulan Desember tuh banyak banget, malah ada yang dobel gitu dua sampai tiga orang di tanggal yang sama. Pokoknya slogan untuk bulan Desember adalah evridei is my friends birthday.

Entah mau secepat cahaya atau selambat keong berjalan tapi karma pasti berlaku. Masa ada dua orang yang ngucapin pibesdey ke aku tanggal 17.

Waktu baca ucapan dari mereka tuh rasanya agak miris piye ngono (soalnya aku belum ulang tahun) tapi langsung terbalutkan sama rasa terimakasih karena ternyata masih ada yang mau ngucapin pibesdey and make a wish for me:’) jadi merasa disayang, uhuk.

Selain dari dua orang yang salah tanggal itu, aku juga dapet ucapan selamat ulang tahun yang kecepetean, yang ini bukan karena salah tanggal, tapi karena bisa ngucapinnya emang sehari sebelum tanggal delapan belas.

Jadi, setelah sabar menunggu untuk waktu yang lama, akhirnya kelompok Liqo terbentuk juga (ciyeee shofwa sekarang liqo) (naik pangkat dari yang sebelumnya cuma mentoring abal abal), asal kalian tahu, kelompok liqo ku tuh berisi anak anak yang berisiknya masha allah subhanallah walhamdulillah waallahu akbar pisan dan berasal dari berbagai macam prodi : psikologi, bioteknologi, ilmu komunikasi, teknik informatika, teknik sipil, bahkan teknik mesin yang prodinya cuma berisi satu orang cewek.

Jadwal liqo kita adalah malam minggu, ceritanya mau malam minggu liqo gitu deh emanglah saking nggak tau mau ngapain di malam minggu sampe memutuskan buat liqo segala ckckck.

Liqo malam kemarin merupakan liqo kedua kami, di pertemuan pertama kami cuma saling berbagi info umum aja alias berbagi biodata buat ta'aruf, di pertemuan kedua baru deh bahas materi yang (sebenernya) emang umum juga, nah, ada temen liqo aku, namanya bagus Izzatul Qonita tapi dipanggilnya Ijat, dia tiba tiba ngomong,

“Kak Nuha, sebelum ditutup, aku mau ngucapin happy birthday ke Shofwa.”

And I was like

HAAAAAAAAH????!

ASTAGA!

Kaget itu pasti, secara aku belum pernah ngobrol langsung sama dia, tapi kalau tatep tatepan ya udah pernah (eh) (emang penting ya) (wkwk), belum pernah ngobrol terus dia ngucapin pibesdey apa ya nggak bikin terharu, lumer hati ini tjoy.

Langsung deh murabbiku bilang ke semua anggota liqo buat ngasih aku doa,

Semoga dilancarkan segala urusan
Semoga dapat IPK yang memuaskan
Semoga, shof, kamu sukanya yang banyak bulunya atau nggak?  #ambigu
Semoga besok punya banyak anak dan cucu  BARU JUGA 18 TAHUN, WOY! GITU AMAT.
Semoga semua urusan kamu dilancarkan ya
All the best for you deh shof
Semoga kamu baik baik aja
Semoga kamu tambah tinggi   Aamiin, aamiin, AAMIIN!!!
Semoga kamu tambah item ya shooof!  Emang udah tambah item kok.

Dan yang bisa kulakukan hanya natep orang yang mendoakan aku dengan taapan terimakasih (meski aku gayakin mereka bisa menafsirkan tatapanku sebagai tatapan terimakasih sih haha)

Aku bahagia karena merasa tahun ini menerima banyak 💕💕💕.

Aku juga dapet surprise kecil dari salah satu temen kamar. Masa ya, aku baru pulang habis psikotest nih terus aku lupa mau ngapain pokoknya aku buka laci meja.

Terus. . .

Kaget dong.

Kok ada bungkus makanan warna cokelat yang ditempeli sticky note.


Lacinyaa tambah kutarik sampai wujud sticky note-nya keliatan, ternyata ada nama si pengirim di pojok kiri.



AAAAAAAHHHH

Langsung senyum senyum gaje.

Bahagia.

Bahkan kalau dia cuma naruh sebatang permen milkita pun aku udah bahagia as long as she write some note for me.

Terus permennya nggak bakal kumakan dan kusimpan sampai beberapa tahun ke depan.

Nggak tau kenapa aku suka kalau ada yang nulis sesuatu buat aku. Kesannya lebih kuat dan nancep di hati. Lopelope.

Itu kan aku nemu cokelatnya kemarin, terus tadi pagi waktu aku mau buka laci lagi

Eh penghuni lacinya udah nambah satu


Ini kalau tahun depan pada amnesia sama ulang tahunku kayaknya aku nggak bakalan sedih deh.

Tahun ini udah cukup senang.

Hari ini juga Aisyah bikinin aku makan siang spesial,

Sepiring nasi goreeeeeng~~

Waktu dia lagi masak di rice cooker aku pikir dia masak untuk dirinya sendiri soalnya emang kalau weekend gini perihal makan adalah sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan sendiri-sendiri, eh nggak taunya dia masakin buat anak kamar hoho dan dia bilang “ini khusus buat shofwa yang lagi ulang tahun,” sambil ngasih sepiring nasi, buatku sendiri, sedangkan anak kamar makannya sepiring bertiga.

Kalau gini caranya, aku boleh nggak ulang tahun tiap hari biar dimasakin terus sama Aisyah.

Sejak beberapa pekan yang lalu, aku mendaulat hari ahad sebagai hari ‘memperbaiki segalanya.’ Jadi bisa dibilang aku mengintrospeksi diri tiap hari ahad (apalagi didukung oleh malam minggu liqo yang berfungsi sebagai tempat mencharger iman). Because the only person I should try to be better than is the person I was yesterday. Bijak kan kalimatnya? Iyalah, modal nyomot dari tumblr orang.

Ketika hari ahad didaulat sebagai hari introspeksi, secara otomatis hari senin menjadi hari pertama yang menemani perubahanku. Emang sih kadang aku yang sekarang dengan aku yang sepekan lalu nggak beda jauh, tapi setidaknya aku udah memikirkan apa aja yang udah kulakukan sepekan terakhir (meski cuma fokus ke beberapa hal doang). Lagi pengen fokus untuk mengencangkan hal hal yang udah jarang kulakukan nih, kayak ibadah sunnah misalnya.

Oke, pembahasan soal itu cukup sampai di sini.

Anyway, aku mau ngucapin makasih ke orang-orang yang udah mendoakan atau mengucapkan pibesdey ke diriku. Yah bisa dibilang ucapan makasih yang disampaikan secara khusus #EAAA #HALAH #SOK

Buat Ula, aku tau kamu ngepost fotoku pas dini hari (aku dapet notif kalau aku di tag sama kamu soalnya) tapi sengaja nggak ku buka karena dari awal aku emang pengen nggak nyalain mobile data dalam kurun beberapa jam di tanggal 18, makasih lho La, aku tau kamu nggak bisa bikin caption yang manis-manis kayak yang kamu bilang, tapi dengan diam-diam naruh cokelat di dalam laciku udah lebih dari cukup kok. Makasih buat cokelatnya🍫🍫 Maaf ya udah nggak bisa nemenin kamu dengan cara punya umur yang angkanya sama #hah #gajelas

Buat Maya, HARUS GITU YA PAKAI FOTO ITU LAGI, KAN AKU UDAH MINTA SUPAYA FOTO ITU DIAPUS DARI JAMAN BAHEULA:((( kadang kamu ngeselin tapi sayang Maya, piye dong. Main-main dong sini ke Sumbawa biar bisa merasakan perjuangan kami untuk tinggal di sini. Oh ya, baju yang kamu kasih belum pernah kupake lhooo, bajunya terlipat rapi tuh di lemari, ntar aku bakal ngirim foto perdana shofwa memakai baju dari kamu, tunggu aja. Di sini nggak ada yang manggil aku kiddo, dan kalaupun ada bakalan nggak kuizinin karena itu nama panggilan buatanmu khusus untuk aku, asique, kok tiba-tiba aku merinding rada geli pas nulis kalimat itu ya, wkwk.

Buat fans beratnya park chanyeol, terimakasih karena udah mau bahagia sama aku🎉🎉🎉. Aku bingung mau nulis apa buat kamu pah, hehe. Pengen nulis banyak cuma beneran bingung mau nulis apaa. Tapi Afifah alias pipah adalah yang terbaik karena rajin ngumpulin drama jadi aku tinggal minta di kamu saja kalau lagi pengen nonton drama, praktis. Udah ya jangan marah sama aku lagi, ntar kalau masih marah ku spam coment di Instagram kamu deh.

Heh Aulia Puspa Ayodya, pertama, PERLU BANGET PAKE FOTO ITU??! Kedua, NGAPAIN NGEPOST FOTO ITU!! ketiga, captionmu bagus aku love deh sama captionnya. Ngomong-ngomong, maaf udah salah ngingat tanggal ulang tahun kamu. Sebagai gantinya, aku doain kamu mendapatkan cowok seperti Dirga, atau Ares, agak bangs@ tapi termaafkan.

Orang terakhir yang ngucapin aku pake caption Instagram tu Dini, makasih banyak lhoo. Padahal aku udah ngeposting tulisanku tapi karena dia ngupload foto jadinya kuedit deh biar bisa mengucapkan terimakasih ke Dini. Aku kenal Dini sebelum aku sampai Sumbawa berkat Nastiti. Karena Dini itu temen SMPnya Nastiti, eh ini aku kayak bikin paragraft desc beneran.

Selain di Instagram, ada juga yang ngucapin aku lewat personal and group chatt.

Auntieee qeaaaaak, huhu, maafin daku yang kecepatan ngasih ucapan met milad. Tapi aku langsung dapet karma kok jadinya aku tau gimana perasaanmu saat aku ngespamm chatt ngucapin met milad di tanggal yang salah. Doa-doa mu bikin aku terharu qi, jadi inget kemarin aku nggak ngasih wish apa-apa, kutulis di sini aja ya biar di-aamiin-kan sama banyak orang. Semoga kami bahagia selaluuu, ciye udah 19 taun, cepet banget waktu berjalan, semangat buat hafalannya!! Semoga tahun depan bisa dapet status mahasiswi di kampus dan fakultas impian ya.



Vani, aku gak tau motivasi kamu buat ngucapin aku di tanggal 17 jam 23.00 WITA tuh apa. Udah jarang muncul sekalinya muncul langsung ngirim banyak foto📷📷 kapan kita video call? Udah 7 tahun nggak ketemu, masa vc-an aja ndak bisa I love your hand writing btw. Makasih banyak untuk doodle-nya, iri sama orang yang tulisannya bagus T.T

Resa Aydwi, suara kamuuuuuuuuu, rasanya pengen ngakak tau nggak sih tapi bagus-bagus lucu bikin terharu. Gapaham lagi deh. Teman sepleton anak biotek berkacamata dari tempat yang banyak gajahnya, Lampung. Dulu aku manggilnya Echa gara-gara menghindari pelafalan 'r' tapi makin kesini malah anggilnya Rece' (bukan recek tapi rece') karena temen-temen SMA manggil dia gitu. Orangnya baik bener, gapaham lagi deh (2). Ini kok malah kayak ngasih desc buat dia sih. Dan dia adalah orang yang berjasa karena berkat dia, aku bisa ngupload foto di Instagram hari inni~

My love, meski kalian sempet salah tanggal tapi terimakasih atas ucapannya. Terimakasih buat Jihan yang ngupdate stories pakai foto lama, eh, jangan-jangan itu the one and only foto kita berdua?😂 tapi waktu foto itu dibuat kita belum terlalu deket kan wkwk, mukhoyyam quran pertama dan aku lagi bosen denger pematerinya ngomong jadinya aku ngeglosor/?/ di lantai biar bisa tidur. Untuk Laras, suaramu bisa jadi moodboster banget, apalagi ketawamu, nggak tau kenapa kadang bikin nagih, makasih ya atas doa doa kamu. Dan for my another wa, aku beneran kangen nonton drama bareng kamu lho, reaksimu ngangenin. Makasih buat Salwa, satu-satunya anak kamar yang mengingat tanggal ulang tahunku dengan benar.

Buat yang cowok, maaf yak aku nggak bisa nyebut nama kalian di sini🙏🙏🙏 makasih aja pokoknya mah, makasih yang udah ngirim chatt jam 00.02, angkanya bagus, haha. Makasih juga buat yang udah mendoakan aku~

Aku tau aku banyak mengucapkan terimakasih di postingan ini, mungkin kalian bosen tapi ya ini kan aku yang nulis, suka-suka aku kan? ehe. Aku hari ini seneng banget, ini aja udah seminim mungkin nulis kata makasih tapi emang aku bersyukur jadinya nggak bosen-bosen.

lots of love
shofwamn yang akhirnya berusia delapan belas tahun.



Beberapa waktu terakhir aku kayak dibayang bayangi sama bianglala, mau tidur kebayang, lagi nonton random video di hp lalu kebayang, bahkan habis sholat aja kebayang.

“Maafin aku nggak pernah ngupdate kamu lagi. Kalau mau buka kamu lewat Kai artinya aku harus ke kampus bawa Kai tapi kampusku jauh dan Kai tidak seringan itu. Nanti kalau aku tambah pendek, yang mau tanggung jawab siapa?” ujarku bermonolog ketika membayangkan nasib bianglala.

Wow. Kapan coba terakhir kali aku menyebut laptopku dengan nama noraknya, Kai.

Jadi, cerita apa yang akan ada di postingan kali ini?

Kalau Orizuka berkata apa pun selain hujan, cinta dengan apa pun selain benci, anak rantauan dengan apa pun selain rindu, aku cukup dengan apa pun selain menyontek.

A mainstream topic, right? Then just read if you wanna read because I trying to post something new here even i dont know what i have to write.

#halah

Karena banyak dari kalian yang nggak akan ngerti dan juga aku hanya akan membuang-buang kata kalau ngomongin soal TT –mv baru twice- yang gerakannya gampang-gampang susah, ngebedah kenapa Lisa pendiam banget di Weekly Idol, Gary yang udah ninggalin Running Man (episode perpisahannya, love it!), atau Moon Lovers yang endingnya minta diumpat.

Moon Lovers asdfjfjkfec minta diumpat banget emang.


Semua aja mati, matiin aja semua, huh.


Tapi termaafkan karena baekhyun,


dan IU,


dan pangeran-pangeran yang bermuka licin mulus bak porselen,


dan juga OSTnya yang bikin baper (meski nggak paham artinya) (kan biasanya emang gitu) (sudah biasa).


Mari kita persingkat saja.

Sepanjang kehidupanku di dunia yang selalu berubah ini, ujian tengah semester satu setengah bulan yang lalu adalah pengalaman pertamaku sekelas dengan orang-orang yang menyontek ketika ujian, entah karena terpaksa atau biasa.

Bener-bener pengalaman pertama, padahal aku nggak pernah kepikiran akan hal itu. Dunia perkuliahan emang beda dari dunia SMA, tapi yah, menyontek lho, menyontek, ME.NYON.TEK.



Apa faedah dari hal tersebut coba?



Aku nggak bilang kalau aku nggak pernah nyontek, aku sering nyontek kok waktu SMA, khususnya di pelajaran bahasa Jawa, wih, udahlah nggak usah ditanya kalau menyangkut pelajaran satu itu, mau soalnya gampang mau sedengan mau susah, kemungkinan seorang shofwa menyontek adalah sebesar 98,98% emang orangnya tukang menyepelekan tugas pelajaran minor, jadinya ya begitu. Boro-boro minor deh, orang tugas pelajaran mayor juga sering disepelekan kok, hehe.

12,12% kemungkinan shofwa tidak menyontek digunakan ketika ujian tiba. Aku lebih milih capcipcup kembang kuncup atau melafalkan bismilahirrahmanirrahim buat milih jawaban bahasa jawa (yang untungnya setiap ujian selalu berupa pilihan ganda ditambah 5 essay yang mayoritas jawabannya bisa ditemukan di teks pilihan ganda) daripada harus bisik-bisik ke teman samping-belakang-depan.

Karena aku berkeyakinan bahwa hasil yang didapat dengan usaha sendiri tidak akan berbeda jauh dengan hasil dengan usaha bertanya pada teman.

#tsaaaaah

Aku masih nggak paham sama esensi dari menyontek saat ujian. Mungkin alasan dibalik perbuatan itu bermacam-macam dan aku tidak mengetahuinya, but why?

Kenapa kalian memutuskan buat menyontek di saat kalian bisa memaksa diri kalian untuk belajar. Come on guys, if you are not doin’ anything for yourself, the world will punish you down.

Ketika kamu lunak sama diri sendiri, dunia akan keras. Begitu pun dengan sebaliknya.

Menyontek emang bisa berupa macam-macam, bahkan saat ini aku masih kayak gitu kalau ngerjain tugas alias masih copy paste sana-sini. Tapi tiap aku ngerjain makalah (entah di mata kuliah apapun), jauuuuuuuh di lubuk hati yang terdalam selalu terbesit keinginan untuk ngerjainnya pure 100% pakai kata-kataku sendiri. Aku mikirnya kalau aku modal copy paste mulu kapan aku berkembangnya. Search google, copy paste, ngedit seperlunya dan taraaaa, tugasnya selesai.

Meski ngedit juga butuh waktu lama tapi tetep aja ada bagian dalam diriku yang mengatakan bahwa yang aku lakukan tuh salah. Harusnya nggak gini.

Terlepas dari masalah copy paste, sampai saat tulisan ini dibuat aku baru dua kali melakukan apa yang dinamakan menyontek ketika ujian. 

Masih tergambar jelas diingatan tentang kejadian tujuh tahun lalu.

Shofwa, kelas 6 SD, semester satu, UTS pelajaran IPA.

Aku duduk di meja ketiga dari depan yang bersebelahan dengan jendela, jumlah soalnya ada 30 butir dan kesemuanya pilihan ganda. Aku stuck di satu soal, galau antara dua pilihan, kalau nggak salah pertanyaan tentang angin laut angin darat deh, aku sering ketuker sama dua hal itu. Habis capcipcup blablabla akhirnya aku milih jawaban dengan 60% keyakinan kalau bakal bener. Udah kan. Waktu aku beranjak dari tempat duduk pas banget teman di belakangku juga baru mau ngumpulin lembar jawaban. Entah mata dia emang pengennya fokus ke lembar jawabku atau nggak sengaja liat atau gimana dah aku nggak ngerti lagi, dia tiba-tiba nyeletuk,

“Lho shof, bukannya nomor sekian jawabannya D ya?”

Nomor yang dia tanyakan adalah nomor yang aku galaukan. Jawaban yang dia ajukan adalah jawaban yang merupakan opsi keduaku.

“Emang iya?”

“Iya tauuuu.” Udah yakin banget tuh nadanya, kayak dia adalah sang sempurna yang nggak pernah salah, wkwkwk.

Akhirnya aku ganti deh, dari jawabanku yang sebelumnya ke opsi D.

Sebagai murid yang cukup rajin dan berteman dengan anak-anak peraih peringkat atas membuatku lumayan dekat sama guru IPA. Begitu UTS IPA selesai, lembar jawabannya langsung diperiksa sama guru yang bersangkutan. Tau kan ya anak kecil tuh hobi sksd dan hampir nggak punya urat malu, makanya aku sama dua temenku ngerubungi guru IPAku yang sayangnya aku lupa nama beliau siapa buat ngeliat nilai kita.
 
Temenku yang pertama, si langganan juara pertama, dapet 100 dia.

Temenku yang kedua, si fluktuatif kadang juara dua kadang tiga, dapet 100 juga.

Giliranku.


Aku dapet nilai 96.


Gara-gara ada satu jawabanku yang salah.


Salah satu.


Sa. Lah. Sa. Tu


Dan salahnya di soal yang aku ganti jawabannya.

BIAWAK KUDISAN!!!!!!!

Yang lebih menyakitkan hati adalah fakta kalau jawaban yang bener itu jawaban yang aku pilih sebelumnya.

Jadi, kalau aku nggak ngubah jawabanku, aku juga bakal dapat nilai 100. Untung waktu itu aku masih polos dan belum tau kata-kata umpatan jadi ya cuma kesel sambil ngomel-ngomel sendiri. Mana temenku yang ngerasa paling benar itu cuma dapat 87 pula.

Rasa keselnya nggak lama, tapi bisa jadi hal itu termasuk pengalaman traumatis (buktinya aku masih inget setelah tujuh tahun berlalu) yang mengajarkanku untuk nggak usah percaya sama ucapan temen ketika ujian dan itu berarti membuatku jauh-jauh dari perbuatan bernama menyontek.

Tapi toh, ujung-ujungnya aku nyontek lagi, hehe, nyontek dong, hehe.

Kali ini bukan gara-gara ucapan temen.

Jadi gini, setelah naik ke kelas 8 aku memutuskan untuk pindah sekolah dari SMP IT Al-Bina, Ternate ke SMP IT Bina Umat, Yogyakarta. Oppa tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Aku pindah tanggal 29 September 2011, H-7 menjelang pelaksanaan UTS.

Yah, senekat itu.

Meski sama-sama bertitel Islam Terpadu, tapi perbedaannya terlalu jauh. Di AlBina, aku belajar dan membaca bahasa arab hanya ketika pelajaran bahasa arab doang sedangkan di Bina Umat, duh, semuah pelajaran diniyah pakai bahasa arab tjoy. Aing teh ndak paham guru-guru diniyah pada bahas apa di depan kelas.

Bahkan waktu UTS telah tiba, aku tetep nggak tau kudu belajar apa untuk pelajaran diniyah.  Pada bilang kalau aku kudu ngafalin apa yang tertullis di buku paket tapi hati kecilku berkata gak mungkinlah aku kudu ngafalin bahada arab yang super banyak itu.

Eh gataunya emang dihafalin, wakakaka.

Di Bina Umat, ketika UTS tiba, tempat duduknya bakal diatur berdasarkan absen dan saat itu aku dapat tempat duduk di barisan paling belakang karena namaku yang berawalan S #TimAbsenTerakhir #ApaItuAbsenAwal. Beruntungnya lagi, karena masuk jejeran absen terakhir jadinya aku nggak dapet teman semeja alias duduknya sendiri. Seingetku aku belum punya niat menyontek dari awal, kalau ujian gitu kan emang kebiasaan bawa buku paket pelajaran yang akan diujikan untuk sedikit dibaca baca dan di review. Aku bawa buku paket mahfudhot dong (mahfudhot adalah pelajaran diniyah yang mempelajari tentang syair syair syahdu nan indah, tentu saja dengan menggunakan bahasa arab #fyi #cmiiw), gara-gara kecemasan yang berlebihan, hingga pengawasnya tiba aku masih aja buka itu buku padahal ya aku nggak tau syairnya kudu diapain (yang ternyata HARUS dihafal), tasku udah terlanjur kutaruh di depan, akhirnya buku mahfudhotnya kutaruh di laci. Qadratullah, posisi laci mejaku itu normal alias belum dibalik padahal kalau ujian posisi meja kudu dibalik biar lacinya ngadep orang yang didepan untuk meminimalisir terjadinya menyontek.

Nah, pas ngerjain soal, aku blank, blank banget sampai pengen nangis gara-gara liat temen-temenku yang sibuk ngerjain, sedangkan aku cuma bisa natep kertas soal dengan pandangan, “kamu harus kuapakan wahai soal?” mau ngarang juga gimana orang jawabannya pake bahasa arab:(((((( super hopelesss. Ditengah keputusasaan, aku teringat akan buku mahfudhot yang tersimpan di laci.

Allah.

Sekali ini.

Maafin aku karena nggak jujur.

Aku ngebuka buku mahfudhotnya diem-diem dengan adrenalin yang meningkat tajam. Sumpah ya, waktu itu aku deg-deg an banget takut kalau ketahuan soalnya hellooo, baru juga jadi anak pindahan terus udah berani nyontek??!  

Perbuatan jelek tersebut membuatku bisa menyelesaikan satu syair.

Nilainya?

Dih, kaga usah ditanya. Ku lupa tapi yang pasti dibawah 50.

Tapi, diantara -sekitar- 9 pelajaran diniyah, aku cuma nyontek waktu ujian mahfudhot doang. Nggak yang lainnya. Dan itu pertama dan terakhir kali aku nyontek because i have to believe in myself.



Makanya, bagi kalian-kalian yang menyontek, mending berhenti deh daripada kalian nggak berkembang. Mungkin sekarang kalian nggak ngerasa rugi, tapi masa depan kalian dipertaruhkan, masa depan dan harga diri.

Orang yang nggak percaya sama dirinya sendiri belum tentu nyontek tapi orang yang nyontek pasti nggak percaya sama dirinya sendiri.

Wkwkwkwkwkwkwk

I'm serious btw.

Aku selalu serius untuk hal hal semacam itu, but back to my real personality. I just silent like i always did as a INFP person.

Aku cuma bisa diem aja kalau berhadapan langsung sama orang-orang yang nyontek, baru deh ketika dibelakang kayak lagi nulis gini, cerewetnya keluar. Soalnya kalau lagi nulis enak, bisa ngumpat, bisa ngomel, bisa capslock jebol, bisa terlihat baik padahal mah apa, dan bisa yang lainnya. Kekurangannya cuma kadang ekspresi dan nada yang tersampaikan tidak terlalu tepat.

Toh irl juga kadang ekspresi sama nada suaraku nggak terkontrol  dengan baik, so, i love writing more than speaking.

Meski aku sadar kalau aku nggak jago-jago amat dalam menulis, makanya aku nggak tau gimana bahasa yang enak untuk menceritakan (EYAK CERITA) tentang mimpiku di suatu malam yang nohok banget.

Aku pernah baca di sebuah web kalimat yang mengatakan kalau mimpi baik tuh datangnya dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi yang tetap diingat meski udah bangun itu datang dari hati. Terdengar amat sangat tidak ilmiah, bukan? Anggap aja sebuah pengetahuan baru.

Ada beberapa mimpi yang masih kuingat ketika aku terbangun, aku emang selalu membiasakan diri untuk mengingat-ingat apa yang kuimpikan ketika aku udah bangun. Waktu aku bermimpi, nggak jarang aku tau kalau aku lagi mimpi tapi belum sampai tahap lucid dream (PADAHAL PENGEEEEN BISA JADI LUCID DREAMER😢😢) alias belum sampai tahap di mana aku bisa mengendalikan mimpiku. Biasanya ketika lagi mimpi, ada saat-saat di mana aku tau dan sadar kalau aku lagi di dalam mimpi kayak “wah aku kan lagi mimpi,” tapi seringnya beberapa saat setelah aku sadar secara otomatis aku langsung lupa sama pikiran “lagi mimpiku” itu dan malah terbuai sampai akhirnya tersadar di pagi hari.

Pas bangun aku langsung nyesel, bisa-bisanya terbuai sama mimpi sendiri.

Dan mimpi malam itu, ketika aku berhasil mengingat mimpi itu, nohoknya langsung ke hati, bener-bener nohok nggak tau kenapa malah bikin perasaan takut nongol.

Aku mimpi...

Kalau aku lupa sama alfatihah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

HORROR KAN.

ITU HORROR TAU.

HORROR BANGET.

LEBIH HORROR DARIPADA KEJADIAN MIMPI TIGA KALI DIKEJAR POCONG DI TEMPAT YANG SAMA NAMUN DALAM WAKTU YANG BERBEDA.

Aku pernah bilang kalau aku lumayan suka jadi Imam. Imam sholat ya bukan imamnya kamu, makin horror aja kalau aku jadi imamnya kamu:(( di mimpi ku itu aku diminta jadi imam sholat maghrib, baru aja rakaat pertama dan baru mulai baca Alfatihah, tiba-tiba aja bacaanku malah muter muter gitu, sampai dibenerin tiga kali sama orang disampingku dan akhirnya ada yang nyeletuk, “Ganti imam! Baca alfatihah aja nggak bener gimana mau jadi imam!”

Abis itu, bukannya jadi makmum sholat, aku malah ngacir ke kamar terus marah-marah kezel.

(MARAH-MARAH)

UDAH LUPA SAMA SURAH YANG HARUSNYA MENDARAH DAGING, MASIH BISA GITU MARAH-MARAH???!

Kebanyakan mimpi emang cuma bunga tidur semata meski (mungkin) beberapa diantaranya merupakan refleksi dari bawah kesadaran atau juga sebuah teguran dari antah berantah, who knows.

Sedangkan mimpiku yang barusan kuceritain, hmmm, jangan sampai aku lupa sama alfatihah beneran, kalau sampai lupa berarti itu mah udah parah separah parahnya iman. Bisa jadi itu adalah teguran gara-gara aku udah mengabaikan hafalan yang mulai mengabur. Kayak, “kamu tuh udah dikasih kemampuan buat menghafal, udah dikasih waktu untuk menghafal, terus kok malah dilupain?”

Semenjak kuliah, aku mengakui kalau intensitas mengahafalku nyaris nggak ada, dan akhir-akhir ini aku jadi rindu ngerasain sensasi meghafal karena yang kulakukan enam bulan terakhir cuma murajaah dan murajaah dan murajaah meski intensitas murajaah ku juga nggak tinggi alias nggak sering-sering amat. Padahal di sini udah dikasih “hadiah” berupa program tahfidz di asrama dari hari Senin-Jum’at yang artinya pas diri ini lagi males masih ada orang yang negur buat hafalan/murajaah.

Masih ada program tahfidz aja gini, gimana besok kalau udah bener bener ketemu sama dunia. Duh.

Amunisi utama menjadi seorang mahasiswa yang menuntut ilmu psikologi adalah kekuatan untuk bikin persentasi, menuntaskan studi kasus, melakukan observasi, dan bersahabat dengan timbunan materi. Mayoritas diantaranya merupakan hal-hal yang sangat kuhindari karena memulai interaksi dengan orang baru tuh isnt my style banget.

Pokoknya semua hal yang berhubungan dengan interaksi terhadap orang yang tidak dikenal bisa jadi masalah besar bagi aku, benar-benar besar. Mungkin kalian beranggapan,”apa banget sih, alay tau nggak shof. Tinggal kenalan biar bisa observasi, lalu wawancara, dan tugas lu bisa kelar.”

But,



Guys,



Itu tuh,



Bener-bener beraaaaaaaaaaat.


Seperti saat ini, ujian semester untuk mata kuliah psikologi perkembangan dihapus. Sebagai gantinya, kami harus nyari anak terjun ke lapangan untuk studi kasus dan objek penelitiannya adalah anak-anak yang masih dalam proses perkembangan.

Dan tugasnya INDIVIDU.


INDIVIDU!!!!!!!


Abdnjwksialanoxhebwdjtaibsjxjzjanjirnsnxijcnbangkejfdkjfahuhusjdnjaklemmecryahf.


Mikirnya aja udah bikin rasa frustasi tersendiri.


Fakta = tugas psikologi perkembangan

Masalah = bersifat INDIVIDU dan TERJUN LAPANGAN.

Solusi : Mencoba untuk ramah dan supel agar cepat mendapatkan anak yang bisa diobservasi.


 Aku tau masalahnya dan aku tau cara penyelesaiannya, aku paham juga kalau dengan ini aku bisa belajar memaksa diriku buat mengimprove skill sksd. Sedangkan kefrustasian ini hanya bersifat sementara. Tapi ya gimana ya, emang pada dasarnya aku susah ngobrol sama orang yang jarang atau nggak pernah kuajak ngobrol, apalagi kalau face to face. Thats why banyak orang yang bilang kalau aku tuh pencitraan, di luar keliatannya aja kalem padahal aslinya bedugal sering gila kehabisan obat.

Tiap ada yang bilang kalau aku pencitraan rasanya pengen ku bantah habis-habisan tapi nggak bisa, udahlah terserah mereka mau ngomong apa kan aku menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

Aku bakal kalem sama orang baru tapi kalau udah kenal banget, yassalam, langsung nyesel dah kalian temenan sama aku. Kelakuanku sering malu-maluin soalnya wkwkw. Karena aku lebih pede mengutarakan pikiran jika tidak berbicara langsung, tiap aku natap orang nih ya entah cuma sama satu orang atau di depan banyak orang pasti pikiranku langsung blank. Aku belum bisa natap mata orang lama-lama.

Kunci agar deket sama banyak orang adalah jadi orang yang supel, minimal suka ngomong. Dan aku nggak suka ngomong panjang kali lebar kali tinggi sama orang yang nggak kuangap deket. Karena semakin banyak aku bicara, mereka semakin mendapatkan banyak fakta tentang diriku, semakin banyak aku bicara, bukan tidak mungkin akan ada aib yang terungkap, semakin banyak aku bicara,  akan semakin banyak pula hal nggak penting yang dibicarakan.

Alaaaah, alesan mu kok nggak mutu banget sih shof.

Sebenernya, alasannya utamanya ada dua. Suara dan Pikiran.

Suaraku kecil, aku nggak bisa ngomong dengan keras. And i cant spell right ‘r’ and ‘s’ jadi aku sadar diri  kalau omonganku sering nggak jelas. Udah kecil, nggak jelas pula, mending aku diem aja daripada disuruh ngulang kalimat gara-gara lawan bicaraku nggak denger aku ngomong apa. Capek dan malesi. Itu juga alasan kenapa aku jarang nyapa orang, karena terkacangi ketika udah berniat menyapa hanya karena suara kecilku ini jauh lebih menyakitkan daripada dikacangi dengan sengaja.

Sedangkan alasan yang kedua,

Pikiran.

Pokoknya setiap ngomong sama orang, aku lebih suka mengikuti alurnya mereka, mengikuti jalan pikirnya mereka. Makanya aku adalah orang yang paling nggak cocok untuk diajak debat karena aku lebih suka menyimpan pendapatku dan mendengar pendapat lawan bicaraku entah pendapatnya benar atau salah. Kalau benar ya alhamdulillah dapet ilmu baru sedangkan kalau salah ya alhamdulillah bisa belajar. Aku lebih cocok jadi pendengar yang cuma mendengar, habis aku kadang kesel sama orang yang ketika ada temennya cerita terus dia malah," aku juga gitu kok blablabla malah lebih parah soalnya blablabla."

Minta ditabok.

Kesannya kayak kurang menghormati cerita temennya meski mungkin niatnya baik mau berbagi pengalaman. tapi ya kalau keseringan kan ngeselin.

Cuma di beberapa orang aja aku bisa sedikit “berdebat.”

Jalan pikiranku kadang bisa jadi amat sangat tidak menuntungkan. Misalnya kalau lagi di dalam kelas, dosen nerangin tentang ini tentang itu terus aku cuma iya-iya aja, aku pengen nanya tapi nggak tau mau nanya apa karena aku mengganggap kalau materi yang diterangin dosen udah jelas (dan emang udah) biasanya pertanyaanku baru nongol ketika kelas udah berakhir.

Intinya, kalau dikelas aku susah berpikiran out of the box. Soalnya sebelum bertanya aku bakal menganalisis pertanyaanku, “kira-kira beliau bakal jawab apa ya?” “eh, kalau aku nanya ini bukannya jawabannya bakal gini.” Dan nggak jarang aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku ketika aku lagi mikir:’) makanya selama hampir satu semester ini aku belum pernah bertanya sekalipun ketika di kelas. Greget sama diri sendiri, tapi aku juga nggak mau ngambil kemungkinan bakal ditatap sama temen-temen kelas kalau aku menanyakan sesuatu yang -misalnya- tidak penting.



TUGAS PSIKOPER GIMANA KABARNYA TERUUUUS!!!

*nangiz di pojokan*

Tujuan utamaku masuk psikologi bukan untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Saat ini aku sedang mengingat kalau aku masuk psikologi karena kemauan diriku sendiri. Jadi kalau aku lagi ketimpa masalah nggak boleh nyalahin orang lain, kalau lagi dalam fase jenuh nggak boleh nyalahin orang lain, kalau lagi pengen berontak ditahan aja. Emang masa SMA nggak cukup dijadiin pelajaran? Masih mau diulang? Masih mau bersikap childish? Masih mau berlindung dengan kalimat lagi nyari jati diri?

Sekarang juga masih nyari sih, tapi nggak mau pake metode berontak melanggar peraturan ini idup gue lo nggak usah ganggu.


Nggak. Nggak kayak gitu.


Dan aku masuk psikologi buat. . . . . .


Hmm...


Buat apa ya.


Buat mempersiapkan apa yang akan terjadi di masa depan mungkin/?/



Psikologi kan ntar cabangnya bakal banyak tuh, dan sekarang aku sedikit tertarik pada dua cabang. Emang sih penjurusannya masih agak lama tapi nggak ada salahnya mikir dari sekarang. Dan dalam memilih, aku nggak boleh gamang hanya karena satu dua kabar yang bilang kalau cabang psikologi A tuh gini gini gini, cabang psikologi b tuh tugasnya bikin mampus, cabang psikologi c banyak laporannya. Keder mungin dengernya, tapi (lagi-lagi) aku harus ingat kenapa aku milih fakultas ini.

Padahal mah sebenernya aku juga nggak tau kenapa bisa "nyasar" di fakultasku yang sekarang.

Menurutku, temen yang paling pantas ditakuti adalah orang-orang yang paham akan ilmu psikologi, aku bilang paham loh ya, jadi belum tentu dia anak psikologi. Soalnya setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia hampir pasti dipelajari dalam psikologi. Frustrasi, Stress, Berpikir, Berbahasa, Emosi. Aku mempelajari hal-hal sekecil itu.

Ini aku sok tau banget, baru juga jadi mahasiswi satu semester.

Mahasiswi semester satu yang kesibukannya baru digentayangi sama makalah-makalah, ntar semakin tinggi semestersnya, yang menggentayangi bakal semakin banyak. 

I feel excited and afraid at same time.


regards

me after all this time.


ps : AKU UDAH DAPET SUBJEK BUAT PSIKOPER, HUHU, GATAU KENAPA TAPI AKU SENENG BANGET.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes