Bianglala

  • Home
  • Kaleidoskop
    • BTN Entertainment
    • 128 Kata
    • 30 Tema Menulis
  • Seri Pengingat
    • #1 Paman Pelukis
    • #2 Memaknai Temu
    • #3 Don't Talk to Me About Muhammad
    • #4 Koreksi Niat
    • #5 Menyesal
    • #6 Salat Tepat Waktu?
  • Sosial Media
    • Instagram
    • Steller

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai Pembolak balik hati, tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu. Wahai Pemutar balik hati, tetapkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.”
- Nadi's blog

Kalau setiap bulan diberikan penghargaan mungkin aku bakal memberikan "bulan terabsurd" untuk April 2016. Aku sempat berpikir kenapa aku memposting tulisan ini, seperti tidak merasa cukup sudah menyampahi Twitter, Tumblr, maupun G+ dengan unek-unek.

Manusia memang haus segalanya.

Kalau boleh jujur, belum ada satu pun resolusi 2016 yang terlaksana. Malah, sejak awal tahun hingga saat ini sepertinya kedekatan ku denganNya semakin berkurang dan penuh dusta.

Astaghfirullah.

Januari di mulai dengan kesibukan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala macam ujian, setiap hari membawa buku soal, setiap hari mengerjakan soal, setiap hari membahas soal. Rutinitas yang sama namun tak membuat jenuh (honestly, aku gak rajin-rajin amat dalam menjawab buku latihan, hehe). Di lain sisi, entah dimulai sejak kapan, sunnah yang sering dilakukan mulai terlupakan. Sekali waktu teringat, namun dijalani dengan segumpal kemalasan.

Februari dipadati dengan kesibukan Ujian Praktek dan Ujian Sekolah, semakin lama semakin terseret ke hal duniawi, tidak ada lagi keseimbangan yang selalu terjaga. Al Qur'an sempat menjadi benda asing selama beberapa waktu, selalu setia berada dalam tas namun tak tersentuh. Hafalan menjadi sesuatu yang langka, untuk menghafal se ayat dua ayat pun terasa berat.

Astaghfirullah (2)

Maret dilalui dengan maraton tiga try out sekaligus, sembilan hari berturut-turut yang diputus oleh tanggal merah. Lebih sering membuka buku detik-detik (kalau kata Lusi "second-second" wkwk). Well, walaupun nggak sesering yang kalian bayangkan karena hingga UN berakhir hanya detik-detik Bahasa yang tuntas ku kerjakan (yippie!) Matematika dua latihan try out, fisika satu latihan, kimia hanya melihat materi, dan Bahasa Inggris yang tak pernah di buka (see? im not dilegent at all). Keimanan sempat naik di titik ini, berusaha melaksanakan kembali ibadah yang lebih mulia dari sholat malam. Ibadah yang diabadikan menjadi nama sebuah surah dalam Al Qur'an. 

Dan April yang sebentar lagi berakhir, aku melakukan dua kesalahan yang sama di bulan ini. Pengakuan. Pengakuan pertama yang terjadi untuk sebuah kata maaf. Ternyata kesabaran ku tidak sebesar yang aku pikirkan. Tergoda oleh bisikan setan yang mengatakan aku harus melakukannya, dan pengakuan kedua terjadi karena kesalahpahaman. Sepertinya aku memang harus jauh-jauh dari benda bernama handphone :'). Di aspek yang lain, aku senang karena bulan ini aku memiliki peningkatan dalam sunnah yang lain berkat seorang teman kamar (terimakasih!). Meskipun belum ada penambahan dalam hafalan ayat-ayat suci.

Astaghfirullah (3)

Sebenarnya, aku lumayan suka menjadi imam sholat (tapi lebih senang jadi makmum kamu #siapa) makanya aku masih heran kenapa temen-temen pada menghindar kalau ditunjuk jadi imam. Dan surah yang paling suka kubaca dan jadi favorit ku adalah surah dari ayat ini

  فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرً , إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

  "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

Aku menyukai surah itu karena saat SMP pernah dibahas dalam pelajaran Tafsir. Sampai sekarang, aku masih menyimpan catatan pelajaran tersebut. Dan ustadzah sempat memberikan sebuah mahfudhot yang kurang lebih begini

Orang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang dijatuhkan padanya sedangkan orang munafik melihat dosanya seperti lalat yang terbang di hidungnya.

Shofwa, bagaimana kamu melihat dosa mu selama ini?

Mungkin memang aku perlu merasakan turunnya keimanan untuk kembali memahami hal-hal yang sebelumnya hanya ku ketahui, untuk tidak mengganggap hal-hal sepele sebatas angin lalu, turun hingga tiba di titik dimana apapun yang terjadi, apapun yang kurasakan, aku harus naik ke atas dengan tangga yang ku buat saat turun.  

Berpikir masalah "pengakuan" jauh lebih buruk daripada "menurunnya iman" saja sepertinya bukanlah sesuatu yang benar. 

Sepertinya aku perlu menyeduh sebungkus bubuk cokelat dengan takaran air yang pas untuk mengurangi kepenatan ini.


regards
shofwamn



Bagaimana mungkin aku tidak menyadari keberadaan mu
Sosok kecil yang bersinar dalam kegelapan
Memancarkan cahaya hangat dalam duka yang berkuasa
Menjebak dengan kata setia
Membuat ku terlunta-lunta di tengah padang rindu

Menangis dalam mimpi
Berkhayal dalam diam
Berharap tanpa pikir

Itu semua tingkah usil yang kamu lakukan agar dapat keluar ya?

And, the clavis is you

Membuka penjara si sosok kecil dengan tiba-tiba
Kemudian pergi tanpa sapa

Hei, mengapa kamu tidak mau keluar?
Ruangan ini bukan penjara lagi
Harus banget ya pemilik blog tau jumlah viewers blog nya sendiri?

IYALAH! HARUS!!!

Sebagai pribadi yang  menulis di blog hanya untuk kesenangan semata membuat ku kadang keluar jalur dalam menulis draft yang kelak akan berubah menjadi sebuah postingan. Aku suka melupakan tanda baca, ke-eye catching-an, serta mengabaikan tata bahasa apalagi keharmonisan kata. Kalau nulis gak jelas mau nulis apa, sampai minta maaf karena tulisannya terlalu nggak jelas. Sempet juga tuh bikin QnA Monolog karena terlalu nggak kreatif. Keburukan skill menulis tersebut bisa kalian temukan kalau membaca postinga postingan awal ketika blog ini baru saja di buat.

Aku sih nggak merekomendasikannnya ya..

Soalnya aku juga nggak pernah lagi baca tulisan yang jarak antar paragraf nya aja nggak ada.

Lagipula, apa faedah nya tau jumlah viewers. Gak, aku mau bahas tentang viewers dulu sebelum aku kembali fokus tentang judul postingan ini. Aku harus tau kenapa jumlah viewers kudu ditampilkan.

Seperti aku harus berpikir macam-macam sebelum nulis. Ntar kalau readers gak suka gimana, atau aku salah make kata yang bikin aku terlihat negatif. Padahal orangnya mah cinta dalam kepositif-an.

Agak tertohok waktu ingat salah satu kalimat yang pernah aku tulis,

"Meskipun mau UN, aku gak mau meninggalkan blog ku tak terurus dan berdebuuu. Sekali cinta tetep cinta. Sekali peduli harus peduli."

Kenyataannya udah lima pekan aku nggak menulis dan memposting sesuatu di blog ku ini, bahkan mengnjunginya pun tidak. Kalau blog adalah sebuah buku, berarti wujudnya berupa buku yang penuh dengan debu dan usang. Lima pekan membiarkan blog tanpa di sentuh gak bikin kebiasaan menulis ku hilang sih karena aku sempat beberapa kali menambah isi Tumblr ku dengan tulisan-tulisan ngawur.

Balik ke masalah viewers, setelah lima pekan semi-hiatus. Aku akhirnya nyalain Kai untuk kembali aktif mengisi blog. Dan saat ngelirik di angka viewers nya

EH

BENERAN NIH?

KOK BISAA??!!!

KENAPAAA?????

Kenapa gitu postingan "How Deep is Your Love" bisa sebanyak itu.

HAH!!

Emang sih ceritanya bagus, bikin aku baper waktu ngerjain soal TO Bahasa Inggris.

CUMA GAK GITU JUGA KALI!

Jadi akhirnya aku ngambil kesimpulan bahwa masih banyak manusia yang menyukai tulisan berbau cinta. Dan angka yang nongol bikin aku tersadar, apa kalian -para readers- emang suka sama postingan berbau cinta?

Siapa tau readers-nya Bianglala malah manusia rajin belajar serta pekerja keras yang tidak pernah berpikiran tentang rasa yang nyusahin itu.

Penyebab semi-hiatus ku di ranah dunia maya selama lima pekan terakhir cuma gara-gara aku sadar kalau ternyata persiapanku menghadapi UN belum matang. Apalagi ada gangguan bernama DOTS yang harus aku lawan, akhirnya setelah sekitar dua pekan mem-fokuskan diri untuk tumpukan kertas soal serta buku Detik-detik, bisa lah dibilang sel-sel syaraf ku mengalami perkembangan sedikit dalam memahami pelajaran. Dan UN PBT udah kelar, hanya tiga hari. Satu hari dua mata pelajaran. Karena keseringan TO jadi aku nggak merasa degdegan (baca : tetap jawab ngawur kalau gak tau jawabannya) tapi persis ketika bell tanda waktu selesai di pelajaran Fisika berdering, persis saat aku keluar ruangan. Aku malah degdegan, gak tau kenapa, mungkin karena itu hari terakhir aku bisa melihat dia yang namanya gak boleh disebut #SIAPA #NGAYAL

WKWKWKWKWKWK....

Aku udah memikirkan ide postingan ini sejak lama, bahkan di tengah menjaab soal UN pun aku masih mikir. Aku memang rindu sama Bianglala. Tapi aku lebih merindukan mu sih.
#SIAPA #NGAYALAJATERUS

Hasil perenungan yang sebetulnya agak nggak nyaman di share, karena aku nggak terlalu suka bersifat "menggurui." kalau nggak salah di salah satu postingan aku pernah bilang aku selalu jadi "pengamat." Maka dari itu kebanyakan pemikiran ku hanya ku simpan di organ bernama otak yang aku punya. Pemikiran yang dibuat untuk diri sendiri, mungkin tidak semuanya menghasilkan hal baik, ada beberapa pemikiran yang merujuk ke hal buruk juga.

Aku jaraaaaang banget baca buku-buku motivasi, hampir di tingkat gak suka. Apalagi yang isinya bosenin dan pakai kata baku (BYE!). Masalahnya karena aku benci di sugesti sama buku-buku tersebut yang isinya bikin merenung. Perenungan yang cuma bertahan sebentar dan akan hilang setelah aku menutup buku. Buku motivasi adalah jenis buku yang sekarang masih ku hindari. Meskipun aku lebih gak suka sama muhasabah yang bikin pesertanya nangis. Makanya aku lebih mempercayai. menghayati, dan mendalami hasil perenungan ku sendiri. Selain nyaman, aku juga bisa merenung sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.

Hal ini sebenarnya super simpel, banyak banget kalimat bijak yang nyuruh kita untuk melakukan hal ini, rahasia umum yang terlupakan, tindakan mulia namun banyak orang yang tidak melakukannya

BERSYUKUR

Aku benar kan? Apa kalian bersyukur tiap hari? Atau hanya ketika takdir baik sedang menghampiri?

Bersyukur untuk semua hal yang menghampiri kita. Kadang kita lupa bersyukur sesimpel mengucapkan hamdalah ketika hal baik datang, dan mungkin kita tidak langsung bersyukur saat sebuah hal buruk datang, tapi pasti kita akan bersyukur untuk hal buruk juga, meskipun itu terjadi esok lusa.

Kita? Gawat, sekarang aku jadi bersikap menggurui kan.

Bersyukur bikin aku nggak gampang marah, aneh? gak kok. Misalnya seorang teman merusak kan sebuah barang, aku bakal mikir "Oh, alhamdulillah nggak rusak total jadi masih bisa dipakai." jadi aku cuma senyum sambil bilang, "gak papa, santai aja lah."

Karena aku tau betapa nggak enak nya merasakan perasaan bersalah.

Bersyukur bikin aku sabar, sabar menghadapi hal hal bernama masalah yang aku simpan sendiri.

Memendam masalah memang gak baik, lebih nggak baik kalau menyebarkan masalah yang berujung ke menyebarkan aib temen sendiri.

Yang satu itu masih dalam proses, karena sepertinya aku udah bikin sebuah kesalahan:') dan tentu saja ini menyangkut pengalaman paling buruk yang pernah aku alami.

Bersyukur bikin aku sabar, mereka bilang kita harus memiliki kesabaran sebanyak mungkin. Namun bisakah sabar diraih tanpa bersyukur. Mereka adalah satu kesatuan yang saling menguatkan satu sama lain.

Sabar menunggu jodoh, bersyukur memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

hehehehehe.

Bersyukur bikin aku gak kekurangan apa pun, bersyukur untuk merasa cukup dengan yang di punya.

Bersyukur juga bikin aku gak stress, untuk hal-hal yang mungkin terlihat sebagai kekurangan ku. Tapi aku kadang lupa sama yang satu ini. Cewek selalu sensitif kalau membahas berat dan tinggi badan, aku sangat paham sama ini, aku bingung ini gimana nulis nya, haha.  Maksud aku, coba deh bayangin, mikir bentar aja,

Anggota tubuh mu berfungsi dengan baik? IQ mu rata-rata? Kamu gak ngidap syndrom apapun kan?

Lalu, kenapa kamu harus mempermasalahkan tinggi dan berat yang cuma belum sesuai dengan keinginanmu?

Paling sebel sama orang yang ngeluh gendut tapi dia lebih kurus dari aku. Minta dibantai apa gimana nih?

Bingung sama orang kurus yang ngeluh gak gendut-gendut juga, ntar sekalinya gendut terus kelewatan terus ngeluh pengen kembali kurus. Awas aja kalau ini terjadi.

Orang-orang yang lupa bersyukur sama badan yang kalian punya, baca baik-baik, sesungguhnya kamu perlu melihat dari sudut pandang orang lain sebelum berkeluh kesah. Kamu perlu melihat dari sudut pandang orang yang tuli, buta, pincang, atau orang-orang yang menurut kamu kondisi nya lebih buruk.

Kamu gak bisa menikmati hidup yang singkat ini jika menghabiskan waktu untuk mengabaikan hal baik yang kamu punya.

Bagaimana mungkin kamu bisa menikmati hidupmu jika bersyukur untuk hal kecil saja tidak bisa.

Hidup kamu gak akan sempurna kalau kamu terus mengejar apa yang belum kamu punya.

Source : my Tumblr
Bersyukur

Hal kecil yang terlupakan, namun merupakan yang terpenting.

Mulailah sering bersyukur teman.

Bersama-sama membiasakan diri.

Aku, kamu, dia, kita semua.



Salam bersiap untuk perubahan
shofwamn
Aku baru aja pulang sekolah dan ngobrol bentar ketika tiba-tiba Dhila melintas di depan kamar terus teriak

"Wak, jangan lupa besok pagi jam setengah enam!"

Langsung aja aku ber-argghh lumayan keras, sebel karena aku harus memilih satu diantara dua pilihan yang sama-sama menggiurkan.

Gerhana Matahari vs Medical Expo

Aku nggak bisa ngelepas gitu aja kesempatan melihat Gerhana Matahari. Kejadian langka yang sudah ku pelajari sejak SD. Apalagi (katanya) harus nunggu lama banget baru ada Gerhana Matahari lagi, khususnya gerhana yang melewati wilayah Indonesia, atau Jogja.

Tapi di sisi lain, ada rasa sayang kalau nggak ikut Medical Expo. ME itu acaranya anak FK UII (Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia). Agak kurang paham sama acaranya, yang jelas kita semacam diajak jadi Dokter sehari /?/ nanti kita bakal dikasih tau apa aja yang dipelajari oleh anak FK, terus diajak jalan-jalan keliling daerah FK juga deh kayaknya. Pikir ku sih, ini  kesempatan terakhir buat ikut acara begituan, kan udah mau Lulus jadi tahun depan nggak bakal bisa ikut lagi *uhuk* dan nggak bisa ngerasain jadi Dokter, yah terkecuali kalau esok aku nyasar jadi anak FK.

Yang nggak mungkin banget itu terjadi.

Setelah mikir dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku milih buat ikut ini



Kami berangkat jam setengah enam. Aku, Hilma, Dhila, Ula, dan Tyas hampir aja telat dan ketinggalan rombongan padahal kami udah izin untuk nggak ikut halaqah pagi (setelah almatsurat kami berlima langsung balik kamar). Tapi waktu kami sampai di sekolah yang merupakan titik kumpul, kami sempat nunggu ustad Edy bentar. Beliau datang bertepatan dengan Bis yang udah terisi.

Sepanjang, perjalanan, ustad Edy melakukan semacam prolog.

"Anak-anak ku sekalian, ini adalah kejadian yang langka..... Terakhir kali Gerhana Matahari terjadi di langit Jogja adalah pada tahun 1983...Subhanallah, liat tuh mataharinya.....Gerhana yang hari ini akan terjadi bisa dijumpai kembali sekitar 300+ tahun lagi.....Ingat ya, jangan sekali-kali menatap Matahari dengan mata telanjang."

Setelah sekitar setengah jam, kami tiba di lokasi yang sama kayak waktu pengamatan Gerhana Bulan, tanpa banyak bicara beberapa orang langsung ngerakit teleskop sekolah dengan dibimbing oleh Ustad Herdi, teleskopnya udah di kasih filter terlebih dahulu. Sedangkan sebagian lagi memutuskan untuk mencoba kacamata yang udah dibagi saat di Bis.


Ustad Edy in frame


Detik-detik menjelang Gerhana, kami sempat ditanyai oleh beberapa orang, mereka nanya dimana tempat untuk membeli kacamata yang kami pegang. Dan kami cuma bisa senyum sambil jawab, "Ini bawa dari sekolah:)"

Alhamdulillah-nya ustad Herdi membawa kacamata yang lumayan banyak, selain dipakai sama kami, ustad juga minta kami untuk meminjamkan kacamata ke masyarakat.

"Marketing....marketing." kata beliau.

Kami akhirnya muter-muter untuk nawarin kacamata, meskipun terkadang ada orang yang berinisiatif  buat minjem sih. Salah satunya turis ini


Nggak terlihat kayak Turis ya? hehe

Mulanya aku lagi ngobrol sama Tyas kan, terus turis yang pake kacamata semacam manggil gitu. Lalu nanya pake bahasa Indonesia dengan aksen asing.

"Itu belhi khacamata dhimana?"

"Oh..eh.. di sekolah." Aku yang agak kaget cuma bisa jawab gitu, eh, malah diketawain masa. Ya emang sih kalau dipikir jawaban ku nggak sesuai sama konteks.

Terus aku ngomong sama Tyas, akhirnya kami berdua berinisiatif buat minjemin kacamatanya ke turis tersebut. Aku langsung manggil Hilma, soalnya dia pernah jadi native speaker abal-abal waktu pengamatan Gerhana Bulan dulu.

Kalau yang belum baca pengalaman ku waktu melihat Gerhana Bulan atau yang mau baca lagi, silahkan aja.

Setelah muter-muter nggak jelas, aku balik ke lokasi teleskop dan Matahari nya udah ketutup walau nggak tertutup total.


Terlihat kecil ya? Itu penampakan Matahari kalau diliat pakai kacamata. Aslinya nggak gelap kayak malam kok, langitnya masih tetap berwarna biru.


Waktu aku lagi sibuk merhatiin Matahari, aku liat Dhila sama Ula yang sibuk ngotak-ngatik Teleskop.

"Teleskop nya kenapa?"

"Fokus nya hilang." jawab mereka.

Jadilah aku memperhatikan mereka berdua yang sibuk gerakin Teleskop terus ngecek lokasi Matahari pake kertas.

"Itu Matahari nya."

"Lensanya dipasang Dhil."

"Hati-hati goyang."

"Filternya dipasang dulu."

"Keliatan nggak Ul?"

"Nggak, gelap."

Gitu mulu sampai berkali-kali. Parahnya, aku, Dhila, dan Ula nggak ahli dalam mencari objek, ditambah dikerumuni banyak orang, tambah grogi deh kami.

"Syahid mana? Ustad Herdi? Ustad Edy?" Aku menanyakan lokasi tiga orang yang paham sama urusan teleskop.

"Sholat semua."

Astaga.

Aku nyoba bantuin Ula buat nyari objek, susah-susah gampang sebenernya, tergantung amal perbuatan dan keikhlasan hati sih, wkwk. Dhila pergi buat nyari panitia pengamatan (gak tau panitia apa bukan yang jelas makai kalung ID Card). Kakak pertama yang kita mintai tolong nggak bisa nemu, pas kakak yang kedua.

Kok agak ngeselin ya.

Si kakak panitia ini bilang kalau ada yang error di bagian tuas buat naik-turunin teleskop. Kami cuma diam lah, secara kami belum paham apa-apa. Aku malah baru tau kalau teleskop punya tuas buat naik-turun dan kiri-kanan :(

Setelah kakak nya pergi, Ula bilang kalau sebelum sholat ustad Edy berpesan yang intinya lensa teleskop di copot aja semisal emang udah nggak mau liat. Masalahnya, di sekeliling kami masih banyak masyarakat yang otomatis bakal bikin kami nggak enak kalau lensanya di copot.


Pada akhirnya, aku nyoba sendiri buat nyari objek. Nekat nggak pakai kertas, jadi lensa nya di buka terus aku nyoba ngintip buat nge-pas-in sama posisi Matahari. Sinarnya silau banget mamen.

"Hil, filtern ya di copot coba."

"Hati-hati lho."

"Iye," aku gerakin teleskop, "Hil... hil, filternya di pasang."

Sedetik, dua detik, pipi ku kerasa panas karena kena cahaya darri lensa, bikin keinget kaca pembesar.

"FILTER NYA DIPASANG HIL!"

Hilma yang baru denger langsung masang filter Teleskop, kemudian aku ngatur fokus nya, beberapa saat sempet ngabur hingga akhirnya,

"YES BERHASIL." Aku langsung teriak gitu, bodo amat di denger banyak orang.

Lalu ada seorang bapak minta izin buat liat, aku iyain aja.

"Hei (manggil temennya) you wanna see?" si bapak ngintip, "lho kok nggak keliatan?"

Aku kaget, waktu aku cek ternyata sedikit bergeser. Akhirnya aku benerin dulu, terus bule yang temennya si bapak mendekat mau liat.

"Dnt touch.." aku nyeplos waktu tangan bule nya mau megang teleskop. Aku takut teleskop nya geser lagi dan bikin objeknya kembali hilang.

"You see?"

"Hmm, oh, alright. I see."

Tapi setelah beberapa orang, objek nya kembali ngilang:( dan aku udah terlalu capek buat benerin lagi jadi aku pergi menjauh.


Nggak berapa lama, ustad Herdi datang bertepatan dengan selesainya Gerhana Matahari. Kami langsung ngebongkar teleskop, anak-anak yang lain ada yang foto bareng Jogja Astronomy Club. Berita buruknya, ada salah satu bagian teleskop yang hilang, entah jatuh atau gimana soalnya kecil jadi mungkin nggak ada yang liat.

Ini jadi pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir kalinya bagi Aku, Dhila, Hilma, Ula, dan Tyas melakukan pengamatan Gerhana Matahari bareng ABATE.

Dan aku masih nyesel karena kehabisan prangko serta kartu pos edisi Gerhana Matahari 2016 yang di cetak secara terbatas:(

(Postingan ini merupakan rangkaian deskripsi tentang anak kelas XII IPA 3 alias KLASIK)
(baca PART 1 disini)



Pertama-tama, marilah kita ucapkan hamdalah atas kesehatan kedua tangan seseorang yang mana karena dua tangan itulah pendeskripsian tentang personil KLASIk dapat berjalan kembali setelah berhenti sekian lama.

Yang kedua, ucapan selamat dan salam kita berikan kepada kedua personil KLASIK yang telah berbaik hati meluangkan waktu dan pikirannya sejenak untuk menghasilkan sebuah tulisan dimana tulisan tersebut membuat readers merasa sedikit lebih dekat dalam mengenal kelas XII IPA 3 nya Angkatan 11. 

#uhuk #PujiDiriSendiri

Dan terakhir, kami hanturkan rasa terimakasih kepada kalian aka para pembaca karena bersedia duduk sejenak untuk membaca postingan ini yang belum terbukti memberi manfaat apapun. Dan atas kesabaran kalian (KLASIK-red) yang aku tau kalian sudah tidak sabar membaca deskripsi tentang kalian muncul di blog ini.

Aku akui tulisan ini sempat mengambang-ambang diantara status akan dihapus atau dilanjutkan. Melanjutkan tulisan ini berarti kami berdua (atau cuma aku/?/) harus mengorek-ngorek file foto dan mencari-cari foto beberapa orang yang sama sekali tidak di punyai oleh Kai.

Ingat ya, Kai itu nama lepi ku.

Karena part 2 terbentuk maka otomatis membuat ku (atau kami/?/) berusaha lebih keras menyelesaikan project ini diantara kesibukan kami yang semakin padat. Dan untuk mendukung kualitas, aku udah sedikit mengedit postingan tentang part 1. Oh ya, karena survey yang dilakukan oleh Made beberapa waktu lalu, maka hampir semua bagian education goalnya personil KLASIK akan terisi. Yeay! Tapi tidak valid 100% ya.

Untuk pengingat, karena ini buah pikiran yang terbentuk dari dua buah otak. Maka akan digunakan font biasa dan bold untuk membedakan keduanya.

So, here we go :


Astin Ayu Anggraini (AYU)

  Ayu asalnya dari Bontang. Dia suka sama warna ungu. Yang khas dari Ayu ini, dia punya pipi yang mbem dan bibirnya tebel. Tulisannya Ayu tuh juga khas, gede-gede dan neken gitu. Oiya, Ayu tuh gak jauh-jauh dari bros bunga yang selalu ada di kerudungnya.

Pertamakali masuk SMA IT, Ayu masih suka pake kata “ana” tapi sekarang udah pake “aku”, polosnya juga udah jauh berkurang. Hobi mijitin orang dengan tiba-tiba, kata doi sih emang refleks. Rajin berangkat ke sekolah pagi-pagi buta, agak tertekan gitu kalau pas aku belum mandi tapi Ayu malah udah siap sekolah. Ayu juga jadi andalanku untuk minjam catatan pelajaran :D

Education goal : Teknologi Informasi


Atikah Nur Baity (ATIKAH)

              Si pemilik bulu mata lentik badai. Anaknya jujur dan cenderung nyeplos wkwk. Atikah ini salah satu Tim Doodle KLASIK. Gambarannya unyu-unyu gitu deh. Terus Atikah tuh kurus banget, kadang-kadang bikin iri tapi nggak iri (?) Dia suka memperhatikan penampilan banget dan extra feminim. Kalau di rumah kerudungnya gede banget gila tapi kalau di sekolah nggak panjang-panjang amat dan nggak pendek-pendek amat, biasa aja gitu. Soalnya Atikah termotivasi oleh Umminya biar kerudungnya panjang. Doain yak!

Langganan maag, penyuka hello kitty tapi mukanya nggak mirip sama hello kitty. Suka bikin pernak-pernik. Habis bikin pengalaman baru bareng operasi apendisitis. Dia kalau bikin cerpen kadang suka minta saran sama aku, beberapa kali doang sih.



Education goal : Kedokteran Gigi


Ayu Diani Larasastu (IAN) 

Dipanggilnya Ian, dari Cilacap. Punya sepupu anak IPS namanya Qiqi, dari Cilacap juga. Ian ini anak IPA rasa IPS, soalnya sering banget main ke kelas sebelah (aku juga deng hehe). Ian itu unik, apalagi ketawanya. Ntap. Dia deket sama Asiah, kemana-mana bareng muluk sama Asiah. Suka banget sama pelajaran matematika, dan (kayaknya) ntar kuliahnya mau ngambil matematika. Semangat Ian! Calom matematikawati(?) yang shalihah aamiin.

Kalau di kelas, Ian suka nari gak jelas tapi lucu liatnya. Ian juga gampang bergaul dan nggak malu buat ngomong. Dia baik banget loh, suka bantuin anak kelas. Gayanya santai tapi serius.

Education goal : Teknik Kimia, Statistika.


Azka Azzahra Salsabila (SASA)

Si putih mungil cantik anggota MPK yang jago banget sama yang namanya bahasa Arab. Hafalannya Sasa banyak dan terus bertambah. Katanya Sasa, tiap hari dia setoran hafalan sama Abinya. Doain deh menjadi hafidzah secepatnya (aamiin). Walaupun kelahiran 1997, wajahnya masih imut-imut gitu kok. Malah lebih imut daripada adeknya hehe. Rencananya, Sasa mau ngambil Kedokteran atau gak Biologi. Author sendiri belum bisa bayangin ntar Sasa gimana jadi Dokter, soalnya Sasa sukanya sama yang sadis-sadis. Gak cuma nonton film bunuh-bunuhan, pas praktikum Bio yang disuruh ngancurin jantung aja dia sumringah banget. Wajah emang bisa nipu ya:( Bisa dibilang, Sasa ini bagian perkap-nya KLASIK.
Butuh Tissue? Sasa punya.
Tissue basah? Apalagi.
Karena Sasa orangnya resikan dan sangat higenis. Doa kami untukmu, Sa! Jadi Dokter yang hafidzah secepatnya yha.

Diam diam menghanyutkan sekali diri mu. Sasa juga nggak suka dimiripin sama siapapun. Be yourself aje deh ya Sa:)

Education goal : Kedokteran, Biologi

yang dibelakang
Dzia Millatina (DZIA)

Sama seperti Atikah, Dzia juga merupakan tim doodle KLASIK. Menurut Author, Dzia ini sangat fleksibel. Dia ngerti tentang anime dan kawan-kawannya. Ngerti juga sama kpop begituan. Barat? Dzia juga ngerti. Jadi seleranya Dzia gak cuma gitu-gitu aja. Oiya, Dzia juga menjadi perwakilan sekolah dari KLASIK yang mengikuti lomba kaligrafi dalam lomba MTQ sekota Jogja. Daebak banget pokoknya. Author merasa Dzia tuh unik banget gitu, gak tau kenapa. Katanya sih orang yang golongan darahnya AB memang unik, dan di KLASIK yang golongan darahnya AB cuma Dzia dan Made wkwk. Denger-denger Dzia mau ngambil Arsitektur UNS. Semoga sukses, Dzia!

Nyari foto Dzia bagai nyari jarum di tumpukan peniti:( 
Ngobok-ngobok akun Twitter, IG, ask.fm, bahkan google dan  tetep nggak nemu. Akhirnya penulis menyerah dan harus puas dengan sebuah foto bareng-bareng. Yang penting ada Dzia nya #curhatdulu
Anak ini suaranya termasuk bagus (menurut ku). Dzia lumayan seru kalau diajak ngobrol, biasa nyambung di hampir semua topik ala remaja. Hafalan nya juga udah banyak. Ditunggu kabar hafidzah nya Dzi!

Education goal : Arsitek


Faikha Salwa Aneira Ainun (SALWA)

Salwa, gadis yang khas dengan kacamatanya dan memiliki bibir yang sensual. Salwa ini ketua kelasnya KLASIK. Dia rajin banget, tiap hari ngerjain soal dan belajar tiap malem. Awalnya sih, Salwa pingin ngambil Teknik Penerbangan. Dan Teknik Penerbangan di Indonesia cuma ada di ITB. Selain pengen ITB kalau nggak salah Salwa juga pingin ITS. Tapi denger-denger kemarin tertarik Teknik Fisika UGM. Ntar ketemu kakak sepupuku dong wkw. Pokoknya di kuliah nanti doi masih pingin ketemu sin cos tan dan keluarga besarnya gitu, emang ya otak pinter sama nggak itu keliatan banget ((nyindir diri sendiri)). 
Oiya, Salwa ini salah satu dari tiga manusia yang menuntut paksa penyusunan KLASIK part 2. Aku dendam atas pegelnya jariku:">

SIN COS TAN? Puja kerang ajaib.
Penggemar Lee Min Ho garis keras ini terkadang suka mikir dimana kah soulmatenya berada. Pergi Les udah jadi hobi baru Salwa (kayaknya). Dia pendukung draft tulisan "Description of Jungle Room member." Curiga Salwa pengen dirinya banyak diceritain di blog penulis. Termasuk kaum minoritas yang membuka mulut untuk bertanya ketika pelajaran Kimia tengah berlangsung. 

Education goal : Teknik


Farah Rusyda Priyana (FARAH) 

Master KLASIK dalam bahasa Inggris. Pinter banget nget nget bahasa Inggris. Punya kakak cowok setahun diatasnya yang juga di SMA IT, namanya Mas Majid kalau gak salah. Farah ini keren banget. Pas dapet tugas seni buat bikin maket bangunan, dia bikin rumah yang keren buanget dan bikin interiornya juga hanya dengan stik eskrim! Dia bikin pantry, rak sepatu, rak buku,tempat tidur dan laci yang bisa buka tutup. Udah kecium anak Arsitektur banget deh pokoknya. Terus berkarya, Farah!

Meskipun di kelas Farah termasuk pendiem tapi karena aku dan dia selalu jadi temen satu kelompok mentoring sejak kelas 10 makanya aku tau kalau Farah nggak pendiem-pendiem amat. Farah juga nggak suka sama ketidakjelasan, jadi kalau semisal disuruh datang ke sebuah acara yang nggak terlalu jelas biasanya Farah milih buat gak datang. Dia juga lumayan suka beli novel, meskipun sebagian novelnya berbahasa ingrris sih. Salah satu tipe personil yang diam-diam menghanyutkan.

Education goal : Fakultas belumsempetnanya


Farida Tri Kusumastuti (FARIDA) 

Cewek yang aktif OSIS pas kelas 10 dan kelas 11, juga DA dan FOKSIT pas kelas 11. Sekarang jadi utusan MPK dari KLASIK bareng Fida 'Aisy dan Sasa. Sempat menjabat posisi sekretaris KLASIK pas kelas 11 bareng Sasa (lagi). Farida ini juga keliatan dewasa dan keibuan banget, gak kayak Author yang cilik dan berdosa:( Rumahnya di Kalasan, iya gak sih? Aku lupa tapi kayaknya sih iya. Saudaranya Mas Zaki Muttaqi juga ya kan ya. Farida suka banget manggilin SIAPAPUN dengan panggilan 'adek.' Adek nya gak cuma di KLASIK, ada yang di IPA 1 juga:p Lulus SMA mau langsung nikah, gak deng. Katanya sih mau fokus hafalan dulu. Mau fokus booking mahkota surga buat orang tua kan Far? Pingin juga deh. Semangat hafalan ya Far.

Aku pernah sekamar sama Farida waktu kelas 10 semester 1, aku manggil dia Eyang (gak tau kenapa) dan dia fine-fine aja. Suka berangkat pagi. Rajin nyatet. Rajin belajar. Suka nolongin orang. Suka bawain rambutan ke Asrama kalau lagi musim. Selama hampir tiga tahun tinggal satu lantai sama dia, aku belum pernah liat Farida marah, semoga nggak pernah deh, aamiin.

Eeducation goal : Pendidikan PAI


Fatchiyatun Nafilah (FATCHIYA) 

Panggil aja Fatiya biar gak ribet, cuma Asa yang manggil dia 'FATCHIYA.' Atun aja deh. Dulu pas baru masuk SMA, Author kenalan sama Atun di aula mau shalat Dzuhur. Kita shalat sebelahan terus Atun nanya, "Namanya siapa?"
"Ula."
"Oh."
"Kamu Alsa ya?"
"Bukaan. Aku Fatiya." Sumpah najis banget gue malu. 
Soalnya dulu ada temen yang bilang, "Ada anak haka loh, namanya Fatiya sama Alsa." 
Lah, gue nggak tau yang mana Fatiya yang mana Alsa. Dan terjadilah peristiwa itu, wkwk.

Nah, Atun ini terompet sangkakalanya KLASIK. Icik banget sumpah, suaranya melengking banget. Mungkin frekuensi sama panjang gelombang suaranya agak bermasalah (plis jan bahas Fisika). Atun juga bagian dari mereka yang menuntut kelanjutan KLASIK part 2. Dendam banget deh pokoknya. Atun ini aslinya dari Tangerang. Logatnya masih kentel dari sana. SMP nya juga masih daerah sana. Gak di Tangerangnya sih, tapi Kuningan, Jawa Barat. Tepatnya di Husnul Khotimah bareng Alsa. Doi anak kedua dari lima bersaudara. Katanya pengen lanjut ke PKN STAN. Mau ngambil jurusan apa tun? Pajak? Beacukai? Akuntansi? Penilai? Author gak tau hehe. Semoga menjadi penarik pajak yang shalihah, aamiin aamiin aamiin.

Wedew, dipikir-pikir frekuensi aku ngobrol berdua sama Fatiya masih bisa diitung jari, wkwk. Ya apa sih, kutubnya samaan mungkin kali ya jadi gak bisa tarik menarik gitu. Karena deskripsi dari Ula udah banyak dan mencakup hampir semua, aku idem sama Ula aja deh. Tapi yang jelas, Ketawanya Fatiya melengking di kuping tapi nggak terlalu melengking juga/?/

Education goal : gak diisi

Sampai jumpa di part 3!
Semangat menghadapi bulan Maret:)

Salam hangat
#ShofwaLa
Once upon a time, there was a couple who love each other. From the beginning the girl's family objected. Due to the family pressure, the couple quarreled very often. The girl always asked the boy, "How deep is your love?"

After some years the guy graduated his study and would further his study overseas. Before leaving he said, " I'm not very good with words, but all I know is I love you. I will take care of you for the rest of my life."

The girl's family finally agreed to let them get married. So, before he left they got engaged.

While the girl went out to work, she got accident and she lost her voice. She did not want to be his burden. She sent the ring back to him. In return, the boy sent millions of reply and countless of phone calls. The girl could do nothing beside crying and crying.

A year passed, the girl and her family moved away hoping she could forget everything and be happier. One day, her friend came with envelope containing invitation card for the boy's wedding. The girl was so shattered, she could bear the tears running down her cheeck to know that the boy would get married.

When she opened the letter, she saw her name in it. She was about to ask her friend what was going on when she saw the boy standing. He used sign language telling her, " I've spent a year to learn sign language just to let you know that I've not forgotten our promise. Let me have the chance to be your voice. I love you." Then he slipped the ring back into her finger.


The story just too sweet.
#TryOutTPHBS
#EnglishLesson


XoXo
shofwamn
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Bianglala's Author

Shofwa. Manusia yang lebih senang berbicara dalam pikiran, punya kebiasaan bersikap skeptis terhadap sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, jatuh cinta dengan makna nama yang dimiliki: keikhlasan dalam cinta.

My Post

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  September (1)
      • Sabar yang Sementara
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2025 (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2019 (36)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (28)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2018 (18)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2017 (41)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (13)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Februari (13)
  • ►  2016 (21)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (33)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (8)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Bianglala. Designed by OddThemes